Selasa, 11 November 2014

Semangat Membatu Film Rata-rata


 

Garuda 19; Semangat Membatu
Sutradara : Andibachtiar Yusuf
Pemain : Mathias Muchus, Ibnu Jamil, Rendy Ahmad, Sumarlin Beta
Produksi : Mizan Productions 2014

 

 

Indra Sjafri kemimpi suatu saat sepakbola Indonesia berlaga di Piala Dunia. Langkah pertama telah dijejak. Timnas U-19 berhasil menjuarai piala AFF U-19 pada 2013. Kisah ini kemudian diangkat ke layar lebar. Ide memberi semangat, eksekusi film biasa saja.

 

***

Sepanjang 2013 lalu, kita ingat, salah satu hal membanggakan diraih Indonesia adalah berhasil peroleh juara dalam AFF U-19 setelah mengalahkan Vietnam. Di tengah pusaran dualisme berebut kuasa di PSSI, anak-anak didik Indra Sjafri mampu menorehkan prestasi. Apalagi selama ini dunia sepakbola Indonesia sepi prestasi, gaduh masalah.

 

Kegemilangan Garuda Jaya yang jarang terjadi menyelipkan kisah Indra Sjafri dan tim pelatihnya mencari bibit-bibit terbaik hingga jauh ke pelosok negeri. Semua dengan biaya dan usaha sendiri. Sementara pusat tak mau peduli. Kisah inilah yang menarik hati Andibachtiar Yusuf, sang sutradara untuk mengangkat kisahnya ke muka khalayak dalam medium film. Garuda 19 sendiri diadaptasi dari buku “Semangat Membatu” karya FX Rudy Gunawan dan Guntur Cahyo Utomo.

 

Cerita dibuka dengan momen adu finalti laga final Indonesia vs Vietnam pada piala AFF U-19 di Sidoarjo. Garuda Jaya berhasil lolos final setelah berjibaku mengalahkan Korea Selatan yang dikenal jawara sepakbola asia. Kisah pun berlanjut alur mundur saat Indra Sjafri (Mathias Muchus) beserta tim pelatihnya; coach Guntur (Ibnu Jamil), coach Djarot (Puadi Redi), coach Nur Saelan (Reza Aditya), dan Adit (Verdi Solaiman) mencari bibit pemain dari Ngawi, Jawa Timur hingga Alor, NTT.

 

Perjalanan Sjafri dan tim demi mengumpulkan pemain terbaik negeri ditengah kondisi federasi yang kacau kiranya menjadi ide besar film ini dibuat. “Semangat membatu” tak cuma soal kepercayaan Sjafri di Indonesia pasti menyimpan mutiara di pelosok-pelosok nun jauh sana, tapi juga soal ke”batu'an Sjafri ingin membawa Indonesia menuju piala dunia.

 

Sayangnya, semangat membatu yang menjadi kuncian film ini tak begitu terasa. Cenderung hambar dan biasa saja. Peran keempat pelatih pendamping Sjafri terasa mengganggu. Tek tok dialog yang dilontarkan keempatnya tak asyik ditelinga. Mereka lebih tampak seolah Punakawan dalam cerita Wayang.

 

“Piala Dunia” yang sering dilontarkan Sjafri untuk membakar semangat tim mudanya juga tak menghasilkan daya greget. Belum lagi selipan cinta remaja yang dilakoni Yabes (pemuda asal Alor, NTT) dan Yazid (pemuda asal Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara) dengan pujaan hati masing-masing. Bagian mengenai romantika remaja mereka pun tak tergali dalam dan nanggung.

 

Tapi akting menawan ditampilkan oleh Rendy Ahmad, pemeran Sahrul si beck asal Ngawi, Jawa Timur. Pemuda asal Belitung ini memukau saat berakting di film Sang Pemimpi sebagai Arai. Jika pada film sebelumnya ia sukses menampilkan Arai dengan logat dan tabiat Belitung, kini Rendy menampilkan Sahrul dengan logat Jawa kental. Peralihan logat tersebut sukses dibawakan Rendy dalam film tersebut. Tampak alamiah ditengah bangunan film yang biasa saja.

 

Keseluruhan film berdurasi dua jam ini biasa saja. Meski ide dan semangat yang ingin ditampilkan bagus, tapi tak tampak dalam sajian film. Semua serba nanggung.

 

Seorang kawan pernah berujar, Film Indonesia jarang yang memiliki formula untuk menjadi sukses. Apa yang menjadi formula itu? Katanya, tidak ada formulanya. Sebuah film hanya perlu jujur dan apa adanya. Salah satunya bisa tergambar dari seberapa kuat skenario yang disajikan.

Amarah Sebuah Tank



Film : Fury

Sutradara : David Ayer

Pemain : Brad Pitt, Shia LaBeouf, Logan Lerman
Produksi : Columbia Pictures, 2014

 

Kisah ini mengenai ingatan sebuah tank bernama Fury. Kisah ini mengenai lima orang prajurit Amerika yang menjadi awak Fury saat perang dunia II melawan Jerman. Kisah ini mengenai Fury dalam arti metaforis, amarah.

 

***

 

Perang Dunia masih menjadi tema yang tak habis-habis dikemas menjadi film. Beragam genre mulai dari drama, komedi, hingga action mengambil perang dunia sebagai latar waktu dan peristiwanya.  Salah satu film terbaru mengenai tema ini adalah Fury yang disutradarai dan ditulis skenarionya oleh David Ayer.

 

Kisah bermula dari betapa cemen-nya pasukan tank Amerika saat melawan pasukan tank Jerman di perang dunia II. Kekalahan demi kekalahan yang diderita AS salah satu sebabnya karena tank milik mereka kalah canggih dengan milik Jerman. Di tengah kondisi kekalahan ini, salah satu tank milih Amerika menyimpan kisah heroiknya. Fury namanya.

 

Fury sebelumnya hanya diawaki oleh Don “Wardaddy” Collier (Brad Pitt), Boyd “Bible” Swan (Shia Labeaouf), Trini “Gordo” Garcia (Michael Pena), dan Grady “Coon-Ass” Travis. Keempat orang ini adalah orang-orang yang hampir kebas membunuh musuh di medan perang. Kemudian datanglah Norman Ellison (Logan Lerman) si juru ketik yang masih bersih jiwanya dan penuh rasa kasih terhadap sesama.

 

Saat pasukan Amerika terus maju merangsek wilayah Jerman guna menumpas Nazi, mereka tak segan membantai musuh. Dalam perang, kata Wardaddy, tak kenal siapa yang benar dan yang salah. Yang ada hanyalah kita membunuh atau kita dibunuh. Tapi bagi Norman yang masih hijau di medan perang, tak tega ia mengambil nyawa orang lain.

 

Masuknya Norman dan upaya Fury untuk terus bertahan dalam perang menjadi pintu masuk tersibaknya konflik. Pergolakan batin tak cuma dialami oleh awak Fury, tapi juga Nazi. Bahkan, Hitler memerintahkan perempuan dan anak bergabung menjadi pasukan perang melawan Sekutu.

 

Meski adegan bunuh membunuh dalam perang terkesan nyata dan membuat bergidik, tapi film ini lebih kuat kesan drama. Atmosfer ketegangan psikologis mengenai apa yang benar-salah atau baik-jahat lebih terasa. Dalam salah satu adegan Wardaddy bahkan menahan tangis setelah menembak seorang prajurit Nazi yang ternyata masih bocah.

 

Film berdurasi 134 menit ini konsisten membawa pergolakan batin para awak Fury dalam tekanan psikologis. Ayer sukses membawa pesan mengenai makna perang sesungguhnya. Tidak hanya kuatnya naskah, tapi juga sokongan akting para pemain yang mumpuni.

 

Brad Pitt rupanya masih tak hilang kegemilangannya dalam membawakan peran Wardaddy. Di tengah tekanan psikologis anak buahnya, Brad Pitt sukses berdiri sebagai Wardaddy yang mesti tampil lebih kuat dan tabah dibanding anak-anak buahnya dalam menghadapi musuh. Padahal saat ia sendirian dan tanpa pengawasan, emosinya pecah juga. Konstelasi konflik dalam diri Wardaddy inilah yang sukses dilakoni Pitt.

 

Tak hanya Pitt, LaBeouf berperan sebagai prajurit perang yang memilih jalan religius untuk menguatkan dirinya juga tampil apik. Atau Lerman yang polos dalam perang menambah ketegangan konflik jiwa awak Fury. Bagaimana mereka di satu sisi mengubur harapan terhadap diri mereka sendiri, tapi disisi lain mereka menumpahkan semua amarah soal perang pada musuh. Hingga kesan brutal dan bengis yang menyisa.

 

Ikhwal perang bukan melulu soal siapa yang menang dan benar. Perang hanyalah diplomasi absurd yang digunakan penguasa untuk memuaskan hasrat menguasai pihak lain. Mereka yang menjadi alat perpanjangan tangan penguasa demi kemenangan dalam perang mesti sedia korbankan tak cuma nyawa, tapi juga jiwa. Maka saat Fury ngotot untuk tetap berjuang hingga akhir hayatnya, sesungguhnya ini juga suatu upaya memadamkan amarah mengenai perang yang belum juga berakhir.

Senin, 10 November 2014

Ilusi Kehendak Bebas Setengah Manusia



Film : Robocop (2014)
Sutradara : Jose Padilha
Pemain : Joel. Kinnaman, Gary Oldman, Michael Keaton
Produksi :. Metro Goldwyn Mayern (MGM) & Columbia Pictures, 2014

Jadi imaji Amerika di tahun 2028 adalah akan laku perang dengan Iran. Entah dengan alasan apa. Pokoknya perang itu akan dilakoni oleh robot-robot canggih dimana punya kemampuan memindai seseorang berbahaya atau tidak. Jika seseorang potensial berbahaya sebab membawa senjata maka akan langsung dimatikan oleh mereka. 

Jalan-jalan di Teheran banyak robot dan setiap warga diceritakan tak keberatan dengan tiap saat dipindai demi keamanan mereka sendiri. Robot lawan manusia. Jika alurnya begini, Iran bakalan kalah telak dengan Amerika. Tak hanya angan-angan hendak perang dengan Iran, Robocop versi baru ini juga menempatkan laboratorium robot di China. Alasan Amerika, robot-robot ini dibuat demi kebijakan luar negeri Amerika.

Meski maha canggih dan efisien meminimalisir jatuhnya korban sipil dalam perang, robot tak punya kepekaan rasa. Sebagian anggota senat AS menolak penggunaan robot untuk berperang. Terancam produknya berhenti beroperasi, Raymond Sellars (Michael Keaton) pemilik perusahaan Omnicorp mesti putar otak agar penggunaan robot tak dihentikan. Sebab ia bisa jatuh bangkrut.

Hingga terbitlah ide menciptakan robot setengah manusia. Sebuah produk yang memiliki hati nurani. Penekanannya adalah,"Kau manusia karena otakmu, bukan tubuhmu." 

Bekerja sama dengan Dr. Dennet Norton (Gary Oldman), Raymond menyidik calon-calon potensial setengah cacat yang bisa diberdayakan dalam proyeknya. Terpilihlah Alex Murphy (Joel Kinnaman), seorang polisi Detroit jujur yang jadi korban pembunuhan oleh mafia setempat akibat laku lurusnya menegakkan hukum. Antara pilihan mati saja atau jadi setengah robot, istri Alex memilih suaminya dijadikan setengah robot. Maka lahirlah Robocop, transformasi Alex menjadi setengah mesin.

Film remake berjudul sama yang dibuat tahun 1987 ini tentu lebih maju dari segi sajian visual. Jose Padilha, sang sutradara tampaknya juga ingin mesin setengah manusia ini menjadi lebih humanis. Selipan drama keluarga Alex menjadi pertandanya. Pilihan Clara, istri Alex yang terpukul suaminya dalam kondisi sekarat pada akhirnya memutuskan Alex lebih baik menjadi robot saja. Toh, Alex akan tetap ingat ia dan anaknya. 

Namun, ada yang janggal dalam proses pilihan Clara yang ditampilkan Padilha. Geng Omnicorp yang punya kepentingan murni ekonomi, meyakinkan bahwa adalah baik bagi suaminya hidup jadi robot ketimbang mati begitu saja. Maka Clara mesti berterima kasih untuk itu.

Tak cuma soal persuasi yang dilakukan Omnicorp, Norton pun menyetting otak Alex agar seolah-olah dirinyalah yang mengendalikan mesin. Padahal sebaliknya. Norton menyebutnya, Ilusi Kehendak Bebas. Tindakan-tindakan Alex selaku robot dalam memedangi kejahatan sesungguhnya adalah gerak mekanik yang diciptakan Norton. Bukan karena Alex yang menghendaki itu, meski ia polisi jujur.

Argumen yang hendak dibangun oleh Padilha untuk film berbugdet US$ 100 juta ini absurd. Banyak harapan Amerika yang tampaknya sengaja disisipkan Padilha. Seperti soal ambisi Amerika hendak meluluhlantakkan Iran atau mendirikan laboratorium semi militer di China. Kemudian juga soal persuasi duet yang dilakukan oleh Omnicorp dengan sebagian politisi bahwa tujuan mereka baik. Buktinya adalah Robocop, produk berhati nurani yang memberantas kejahatan.

Tetapi Padilha juga menyadari, sebuah film selalu butuh chaos. Robocop yang disetting memberantas kejahatan, akhirnya mengubah misi menguak misteri upaya pembunuhan terhadap dirinya sendiri. Alex memberontak. Si robot memilih untuk membalas dendam. Gelembung sabun ilusi kehendak bebas meletus. Menandakan bagaimanapun di dalam perangkat mesin canggih Alex masih memiliki pilihan untuk dirinya sendiri, menjadi manusia.

Dan film Hollywood hampir selalu menyajikan kemenangan dalam kekacauannya sendiri. Karena dari sana akan lahir pahlawan baru yang patut dielu-elukan. Robocop jadi pahlawan tak sekedar karena ia melawan kejatahan di jalan-jalan Detroit, melainkan juga karena melawan keterbatasan dirinya sendiri. Film ini pun ditutup dengan pernyataan arogan Pat Novak, pembawa acara kenamaan Amerika,"America is now and always be great country in this world."

Menggenggam Sekam di Sekuel Hunger Games



Film - The Hunger Games; Cacthing Fire
Sutradara: Francis Lawrence
Pemain: Jennifer Lawrence, Josh Hutcherson, Liam Hemsworth, Donald Sutherland
Produksi: Lionsgate, 2013

"Kamu harus bisa mengenali siapa musuhmu sesungguhnya..."
Kalimat ini menjadi azimat yang dilontarkan beberapa kali dalam sekuel The Hunger Games, Cathing Fire.

***

Menjadi pemenang dalam kompetisi Hunger Games ke-74 nyatanya tak membuat tenang apalagi aman hidup Katniss Everdeen (Jennifer Lawrence). Kemenangannya dengan cara mencurangi permainan adu nyawa bersama rekannya, Peeta Mellark (Josh Hutcherson) diketahui oleh Presiden Snow (Donald Sutherland). Pasalnya aksi heroik pemuda-pemudi distrik 12 ini menghembuskan angin harapan kepada segenap rakyat di 12 distrik negara Panem, eks Amerika Utara paska bencana hebat.
 
Hal demikian tentu merupakan pertanda tak baik bagi kelangsungan rezim Snow di Capitol. Apalagi pada film sebelumya, kompetisi sumbang nyawa ini dijadikan selebrasi bagi seluruh Panem. Snow ingin menunjukkan pengorbanan akan keutuhan dan kesatuan Panem dibawah Capitol adalah sesuatu yang mutlak. Sekaligus Snow ingin menunjukkan bahwa laku lacung revolusi yang 74 tahun lalu pernah terjadi dan gagal, tak akan pernah berhasil sampai kapan pun. 

Hunger Games sendiri dirancang dengan memilih pemuda-pemudi dari12 distrik. Mereka diadu dalam serangkaian permainan bertahan hidup, membunuh atau dibunuh. Kompetisi kejam ini disiarkan ke seluruh penjuru negeri lewat program televisi reality show yang dipandu Caesar Flickerman (Stanley Tucci).

Dianggap memiliki potensi membangkitkan revolusi, Katniss menjadi sasaran pembunuhan oleh Snow. Alih-alih membunuh Katniss secara langsung, Snow mengikuti saran perancang Hunger Games pengganti Seneca Crane, Plutarch Heavensbee (Philip Seymour Hoffman). Bertepatan dengan kompetisi Hunger Games ke-75 yang, agar peserta yang ikut adalah mereka yang memenangkan Hunger Games pada tahun-tahun sebelumnya dari 12 distrik. Plutarch merancang kompetisi Hunger Games ke-75 lebih sulit dengan lawan yang sulit. Tujuannya hendak menampilkan sosok Katniss yang siap membunuh terlebih dahulu sebelum dibunuh oleh lawannya. Agar sekam revolusi yang ada dalam benak rakyat Panem tak membara karena sosok Katniss yang dianggap sebagai simbol perjuangan. 

Film berdurasi 146 menit ini dikemas Francis Lawrence dengan mengaburkan batasan tokoh protagonis dan antagonis. Meski kita bisa saja mengklasifikasikan siapa yang berada dipihak Katniss atau Snow, tetapi munculnya tokoh baru seperti Plutarch dan beberapa pemenang Hunger Games sebelumnya tak bisa ditebak. Nyatanya bara revolusi di masing-masing distrik mulai menyulut.

Dengan racikan sedikit teori kelas Karl Marx, totalitarianisme ala Machiavelli, dan teori dilema narapidana, Francis sukses menampilkan Hunger Games; Cathing Fire. Nasib 12 distrik menyedihkan  yang menjadi penopang kemewahan Capitol menjadi ciri penanda pikiran Marx meresap dalam film. Rezim kekuasaan yang dijalankan Presiden Snow menunjukkan totaliarianisme yang hendak dijaga pemerintahan Punam. Kompetisi yang mengisolasi ke-24 pemenang dalam arena bertahan hidup memaksa mereka menggunakan rasionalitas tak percaya (instrumental) adanya kerja sama antar satu dengan lainnya demi keluar hidup-hidup sebagai pemenang Hunger Games.

Film yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Suzanne Collins ini memang ringan meski tetap ada adegan hantam-hantaman. Biasa saja sebenarnya, dengan alur yang lambat dan tak terlalu mencekam. Mengingat ini adalah film yang seharusnya membawa kesan garang dan kejam karena ada banyak darah yang terkorbankan. Tetapi kesan tersebut tak dominan.






Primavera a la Vida En El Dia de Los Muertos (Bangkit Hidup di Hari Orang Mati)


Film : Book of Life
Sutradara : Jorge R. Gutierrez
Pemain : Diego Luna, Zoe Saldana, Channing Tatum
Produksi : Twentieth Century Fox, 2014


Perayaan Hari Orang Mati menjadi latar kisah cinta segitiga Manolo, Joaquin, dan Maria. Sajian visual meriah dan semarak dibalut animasi. Book of Life memenuhi kemasan dongeng bagi anak-anak. 

***

Manolo (Diego Luna), Joaquin (Channing Tatum), dan Maria (Zoe Saldana) karib sejak kanak-kanak. Bahkan Manolo dan Joaquin sama-sama jatuh hati pada Maria. Perasaan mereka dijadikan taruhan oleh La Muerte (Kate del Castillo), Penguasa Negeri Mereka yang Diingat dan Xibalba (Ron Perlman), Penguasa Negeri Mereka yang Dilupakan. Taruhannya yakni siapa diantara keduanya yang akan menikahi Maria kelak dewasa.

Ditengah haru biru cinta kanak-kanak, Maria dikirim ayahnya ke Eropa belajar tata krama. Manolo dan Joaquin menghabiskan remaja tanpa Maria. Manolo yang turun temurun keluarganya menjadi matador dipaksa melanjutkan profesi keluarga oleh sang ayah. Sementara Manolo senangnya memetik gitar ketimbang membunuh banteng. Kelembutan ditambah sisi puitis Manolo membuatnya dianggap menjadi pecundang.

Sedang Joaquin, anak almarhum ksatria kota San Angel tumbuh kuat dan cemerlang. Ia diproyeksi menjadi pahlawan kota dengan segala kegagahannya. Ia kuat dan perkasa. Joaquin merepresentasikan sosok laki-laki maskulin yang berpikir dengan otot alih-alih perasaan dan otak.

Sekian tahun akhirnya Maria yang kini tumbuh menjadi kembang kembali ke kota kelahirannya. Cinta Manolo dan Joaquin tak pernah padam pada Maria. Berdua berkompetisi menarik perhatian dan cinta Maria. 

Kompetisi ini pun direcoki Xibalba yang tak mau kalah taruhan dari La Muerte hingga gunakan cara curang. Xibalba mengirim Manolo yang ternyata dicintai Maria ke Negeri Mereka yang Diingat lewat gigitan ular jadi-jadian; mati. Cerita pun terus mengalir bagaimana upaya Manolo agar hidup kembali demi cintanya pada Maria.

Book of Life mengambil cerita mengenai perayaan orang mati di Meksiko sebagai latar sosio kulturnya. Perayaan yang dirayakan tiap 2 November ini dilakukan demi mengingat mereka yang mati. Selebrasi yang dirayakan adalah menyalakan lilin dan mendoakan para arwah. Konon, mereka yang mati selama diingat oleh yang hidup akan terus mengingat kita.

Sementara keberanian Manolo yang bangkit dari kematian demi cinta adalah cerita yang dihidupkan kemudian oleh Jorge R. Gutierrez, sang sutradara. Gutierrez menumbuhkan cerita baru dari ladang perayaan El Dia de Los Muertos (Hari Orang Mati) yang tenar di Meksiko. Benihnya adalah mengenai cinta sejati dan upaya segenap jiwa raga demi meraihnya. Tak ayal film ini dominan nuansa romantis meski menjelma animasi.

Sebab Book of Life dibalut animasi oleh Gutierrez, menjadikan film berdurasi 95 menit ini tereduksi romantismenya. Ada selipan adegan lucu atau dialog-dialog konyol yang dimunculkan Gutierrez. Tampilan tokoh-tokoh seturut dunianya dalam Book of Life juga sangat meriah dan semarak. Secara visual, keseluruhan Book of Life pekat dimata dan menyenangkan. 

Secara keseluruhan film ini boleh dibilang upaya Gutierrez mencipta dongeng baru. Book of Life hadir dengan pengkayaan makna mengenai cinta, pengorbanan, kejujuran, dan menjadi diri sendiri. Anak-anak pasti akan suka sementara orang dewasa akan menikmati Book of Life. Agar epik, maka Gutierrez membangkitkan Manolo dari kematian di Hari Orang Mati.  Primavera a la Vida En El Dia de Los Muertos.

Eksotisme Indonesia dimata Bule




Judul Buku : Indonesia's Hidden Heritage; Cultural Journeys of Discovery
Penulis : David Metcalf & Stephanie Brookes
Penerbit : A Now! Jakarta Publication, 2014


Sebaran warna sephia berpadu-padan dengan birunya lautan pun langit. Hamparan gradasi warna hijau di bumi khatulistiwa. Cerita mengenai manusia yang berbeda; jalani hari dengan kepercayaan dan tradisi yang mengakar sejak dahulu kala. Ini kiranya yang membuat Indonesia eksotik di mata dua orang “bule”.

***

David Metcalf, seorang fotografer profesional yang punya klinik fotografi di Ubud, Bali. Bersama dengan Stephanie Brookes, penulis perjalanan lepas asal Selandia Baru mengunjungi beberapa tempat di Indonesia. Perjalanan mereka terangkum dalam buku Indonesia's Hidden Heritage; Cultural Journeys of Discovery.

Ada dua belas tempat yang mereka kunjungi. Eksotisme suku Bajo di Pulau Selayar yang ada di ujung selatan pulau Sulawesi. Desa Ngaju Dayak yang ada di tinggal di sepanjang sungai Kahayan, Kalimantan Tengah. Tradisi Pasola – adu ketangkasan dari atas kuda – di Sumba. Kawah Ijen di Jawa Timur dan denyut nadi kehidupan masyarakatnya. 

Balapan kerbau di Jembrana, Bali. Desa yang hilang nun jauh di pedalaman Wae Rebo, Flores. Festival Isen Mulang – arti: tak kenal menyerah dan berusaha sampai akhir – yang merupakan salah satu tradisi masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah. Festival Pencak Silat dan Kejawen di Jawa Tengah. 

Foklor masyarakat suku Tengger di lereng Gunung Bromo. Mitos, legenda, dan dongeng dari Sumbawa. Kebudayaan Wetu Telu – percampuran agama Islam dengan tarekat animisme di Lombok Utara. Dan bagaimana masyarakat Dayak Kenyah menjadi penjaga hutan di Kalimantan Timur. 

Buku ini lebih kepada kumpulan foto dengan sedikit catatan perjalanan. David mengabadikan momen, sementara Stephanie merangkai perjalanan mereka lewat kata. Meski sesekali David yang menuliskan memoar perjalanannya. Tak ayal, representasi perjalanan mereka lebih banyak dalam medium foto.

Foto-foto yang di ambil David dalam tiap perjalanannya tak cuma kaya panorama alam. Ia juga hendak mengabadikan manusia yang hidup di dalamnya. Alam dan manusia dipadukan menjadi serangkai kisah tentang warisan tersembunyi yang dimiliki Indonesia. Sebuah harta karun yang ditemukan oleh duo asing ini mengenai kekayaan nusantara. 

Buku ini menggambarkan  kekaguman dan suka cita mereka menyelami alam dan budaya Indonesia. Sesuatu yang tentu dirasa asing dan berjarak dalam latar belakang mereka yang Barat. Seolah bertemu cermin dalam aliran jernih sungai Kahayan di Palangkaraya. Atau menemukan harmoni antara alam dan manusianya. 

Meski demikian, apa yang ditulis dan ditampilkan oleh David maupun Stephanie bukan hal yang baru bagi masyarakat Indonesia sendiri. Jauh sebelum mereka, sudah banyak orang yang mengabadikan tempat-tempat tersebut lewat foto pun tulisan. Bahkan yang dijabarkan oleh para pendahulu mereka lebih komprehensif dan fokus dengan berbagai pendekatan disiplin ilmu. 

Isi Indonesia's Hidden Heritage; Cultural Journeys of Discovery tak seheboh judulnya. Tapi bagi mereka yang menatap Indonesia dengan mata seorang Barat, apa yang ditulis dua karib ini mungkin sesuatu yang baru dan menakjubkan. Sebuah eksotisme Timur yang belum tereksplorasi. 

Seperti butir-butir kata yang lahir dari rahim penyair termasyhur India, Rabindranath Tagore dalam puisinya, Poems of Beauty;

“Beauty is truth's smile. When she beholds her own face in a perfect mirror. 
Beauty is in the ideal of perfect harmony, which is in the universal being; 
Truth the perfect comprehension of the universal mind.” 



Menebar Harapan Paska Konflik Maluku



Film : Cahaya Dari Timur; Beta Maluku 
Sutradara : Angga Dwimas Sasongko
Pemain : Chicco Jericho, Jajang C. Noer, Shafira Umm, Ridho "Slank"
Produksi : Visinema Pictures



Masjid Raya di Tulehu baru kali ini tak menyiarkan kumandang azan ke pelosok desa. Begitu pun dengan Gereja di Passo, Maluku yang tak gelar ibadah misa. Tak cuma masjid dan gereja, tapi sekolah hingga warung makan tidak melakukan aktivitas selayaknya. 

Hampir setiap orang Maluku khidmat mendengarkan siaran langsung via telepon pertandingan final Indonesia Cup U-15 di Jakarta. Sebab, laga final U-15 tak disiarkan stasiun televisi. Padahal saat itu tim sepak bola Maluku tengah adu pinalti dengan tim sepak bola DKI Jakarta. 

Bagi warga Maluku, tim sepak bola mereka bisa maju babak final Indonesia Cup U-15 sungguh membanggakan. Suatu kabar baik di tengah ketegangan paska konflik agama antar Islam dan Kristen yang terjadi sekitar tahun 1999. Perjalanan tim muda ini tak serta merta. Ini sebuah kisah mengenai mengatasi perbedaan dan melumat dendam primordial. 

Adalah Sani Tawainella (Chicco Jericho), mantan atlet sepak bola yang gagal masuk uji PSSI Baretti. Sani balik ke desanya di Tulehu dan memilih bekerja sebagai tukang ojek. Di tengah situasi konflik Maluku merebak, ia bertekad menyelematkan anak-anak desanya. Salah satu cara yang ditempuh yakni lewat sepak bola.

Sekian tahun melatih sepak bola anak-anak korban konflik, bukan berarti hidup Sani tanpa masalah. Ia dihadapkan permasalahan keluarga dengan kecintaannya kepada sepak bola. Bagaimana tidak, guna menghidupi dapur keluarganya tak cukup, Sani mesti harus menyisihkan waktu melatih tim kecilnya ini. 

Tersaruk-saruk mengatasi segala persoalan yang ada, akhirnya Sani dan anak-anak didiknya bertemu kesempatan ikut Kejuaraan Nasional U-15. Di tengah sentimen negatif warga Muslim dan Kristen di Maluku yang masih menegang, Sani berdiri di antaranya. Ia mesti memadamkan api dendam di hati beberapa anak didiknya. Sani mulai mengenalkan mereka mengenai arti bersatu, menjadi Maluku. Bukan Tulehu, bukan Passo. Bukan Islam, bukan juga Kristen.

Film Cahaya Dari Timur; Beta Maluku berurai dari kisah nyata. Angga Dwimas Sasongko, sutradara tak sengaja menemukan Sani saat berkeliling Maluku untuk keperluan syuting tahun 2007. Terinspirasi atas apa yang dilakukan Sani, Angga bertekad membuat film tentang dirinya. Selama dua tahun ide cerita ini diedarkan ke beberapa rumah produksi tetapi di tolak. Hingga akhirnya Glenn Fredly dan dibantu sejumlah pihak bersedia menjadi produser bersama dengan Angga.

Ini tampaknya merupakan proyek film idealis Angga dan Glenn. Proses produksi yang memakan waktu cukup lama berbuah manis. Angga cemerlang mengelaborasi visual dan karakter masing-masing tokohnya sebagai kesatuan yang padu. Alam indah bumi Maluku tergambarkan dengan sangat baik. Campur baur dengan kehidupan asli masyarakat Tulehu.

Akting para pemain juga apik dan alamiah. Chicco Jericho yang baru kali pertama main di film layar lebar tampil memukau. Sosok Sani sukses dibawakannya. Para pemeran anak-anak tim sepak bola Maluku ini juga menawan. Mereka adalah orang asli Maluku yang di casting oleh Angga dan diberikan pelatihan akting dari IKJ. 

Kecermelangan mereka dibantu oleh kekuatan naskah yang ditulis secara apik oleh putra Maluku sendiri, Irfan Ramly dan Swastika Nohara. Hampir 90 persen dialog yang dipakai dalam film adalah bahasa Maluku. Sehingga rasa yang terwakili adalah juga rasa menjadi Maluku.

Film berdurasi sekitar 150 menit ini bukan semata film tentang sepak bola. Bukan juga tentang sosok Sani dan keberhasilannya semata. Film ini adalah soal bertatap muka dengan keberbedaan dan mengatasi trauma. Film ini adalah suatu upaya rekonsiliasi paska konflik yang di alami Maluku. Menegaskan kembali bahwa kita semua satu, apapun latar belakangnya. Satu Maluku, satu Indonesia juga.