Rabu, 23 Mei 2012

Me(dia) Jangan Terlalu Serius, Ah!


http://www.tensionnot.com/pictures/tags/joking


Pada sebuah acara pembacaan hasil survei yang dilakukan salah satu lembaga mengenai peluang para calon di Pemilukada DKI Jakarta yang akan berlangsung pada Juli 2012, berbanyak wartawan dari berbagai media duduk dengan khidamat dan khusyuk. Mereka yang sudah siap dengan segala senjata pamungkas; kamera, recorder, blackberry, pena, kertas, dan lain sebagainya terpekur dikursi masing-masing menunggu serangan berita yang dapat mereka tangkap sebanyak-banyaknya. Aroma aneka hidangan yang telah disajikan tidak begitu menyita perhatian mereka yang mencari duit dengan mengabarkan sesuatu yang disebut “berita”.

Acara pun dimulai dan paparan disampaikan oleh direktur eksekutif lembaga survei X. Tik, tik, tik, tik,tik,... suara jemari mereka mengetik berita lewat blackberry beragam jenis. Yang tak punya blackberry sudah siap dengan recorder ditangan, merekam semua pembicaraan dari awal hingga tamat. Yang dari stasiun TV, siap dengan kamera video super canggih. Pun fotografer tak ketinggalan jeprat-jepret sana sini. Para pembicara mendadak menjadi selebritis yang mesti dikulik dan dikupas kabar apa saja agar jadi duit bagi para mencari “berita”.

“Si A alhamdulillah sudah menang di satu kabupaten, Kepulauan Seribu,” ujar tim sukses A. “Ia juga didukung oleh para nelayan. Artinya tidak sia-sia lah dia yang orang sungai mendapat dukungan di Kepulauan Seribu.” Padahal, kemenangan dalam survei disatu kabupaten itu tidak representatif. Karena hanya sekitar 0,2 % dari populasi Jakarta.

Hahahaha...

Buat saya dan para pembicara lainnya ini lucu. Tetapi saat saya menoleh ke samping kiri dan kanan, tidak ada yang ikut menikmati jokes tersebut. Kerutan didahi para pemburu berita ini tak juga berkurang malah semakin menebal. Oalah, ini keterlaluan! Masak selucu dan sesederhana ini mereka tak bisa pahami sebagai jokes.

Berkelebatlah suatu kesadaran baru dalam pikiran saya. Media selama ini terlalu serius. Terlalu tekun menanggapi tingkah pola para elit dan mengemasnya dalam headline sensasional bertajuk POLEMIK! Astaga!

Tuntutan untuk menghadirkan berita yang luar biasa menjadikan media memburu banyak hal biasa kemudian dikemas menjadi apa yang saya sebut POLEMIK. Perbedaan adalah hal lumrah dalam kehidupan, tetapi dalam dinamika politik yang diamati selalu oleh media laiknya gosiptainment, membuat politik terlalu mewah untuk diberitakan sederhana saja. Pasti ada intrik, ada permufakatan jahat yang dilakukan para elit untuk menjajah negeri ini. Pasti!

Benarkah? Entahlah, toh tugas media tampaknya mengemas itu dengan seribu cara investigatif pencarian berita.

Rasanya dunia tidak seserius itu. Dan manusia yang berpikir, saya rasa adalah mereka yang tidak terjebak dengan keseriusan orang lain. Serius berarti kurang tahu, pemahaman pas-pasan. Sayangnya orang-orang tipe begini sering meng-klaim yang paling tahu sehingga jadi sok tahu. Jika yang belum dapat klaim paling tahu, maka mereka akan setengah mati mencari tahu hingga tak tahu lagi yang mana lucu dan tidak lucu.

Sementara orang yang tahu, biasanya sadar mereka tahu dan paham, pengetahuan luas, sehingga hati-hati jika bertemu, siapa tahu yang fiksi dipelintirkan seolah fakta.

Sial (atau bagusnya??), yang bekerja di industri media adalah orang-orang yang tak tahu menahu. Mereka biasa makan junk food, yang langsung jadi. Sehingga tidak dioleh dan dikunyah dengan baik dan mudah. Media mendulang harta dari apa yang dikemas menjadi POLEMIK tersebut dengan menjualnya kepada masyarakat. Masyarakat pun dibuat panik untuk hal yang seharusnya disikapi biasa saja.

Saya hanya punya satu catatan mengenai mereka yang hadir sebagai tim sukses para calon. Dalam pandangan saya, mereka tidak heroik. Mereka mungkin bermufakat dengan salah satu calon bukan karena mereka relakan jiwa raga agar yang didukung menang. Mereka tentu menyadari siapa pun calon yang mereka usung dan kans menang yang mungkin mereka dapatkan. Lantas, mengapa masih terus melanjutkan dukungan untuk calon yang hampir dipastikan tidak akan memenangkan putaran Pemilukada Jakarta?

Sepintas rasanya itu adalah optimisme absurd. Tetapi saat dipikir ulang, rasanya wajar saja jika si tim sukses A berkelakar demikian, atau tim sukses B mengatakan timnya membutuhkan keajaiban untuk menang. Dan memang politik sebagai sebuah ruang mempersilahkan hal demikian. Mempersilahkan hal yang paling tidak masuk akal sekalipun hadir dan biarkan ia mengarai sendiri ke muaranya. Ini merupakan kegilaan yang dirasionalisasikan kok.

Toh, hidup yang berkelindan dengan segala pilihan tidak mungkin dapat terakomodir seluruhnya sehingga pilihan-pilihan tersebut diperkecil sedemikian rupa. Bagi saya pun apa yang dilakukan tim sukses yang hampir dipastikan tidak menang ini pun tetap bertahan bukan karena bodoh atau memiliki hati mulia bak malaikat karena rela berkorban, melainkan ini hanya masalah sedang berada dimana mereka saat ini, identitas apa yang telah mereka pilih baik itu politik, sosial, dan lainnya. Semua mesti begitu karena memang harus begitu. Mungkin saja mereka sedang bereksistensi dengan pilihan mereka. Tapi bukan heroisme absurd, saudara-saudara.

Lalu, masuk kemanakah tipe orang seperti saya? Yang sudah mengenal silahkan berpendapat, tapi jangan men-judge... (Terkadang saya di media, seringkali mencoba menjadi orang yang sok tahu dengan kerangka pikir filsafat)


Rabu, 02 Mei 2012

Sertifikasi Seniman; Label Halal bagi Pekerja Seni


http://lifeandpaintings.blogspot.com


Wacana yang dikeluarkan Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan kebudayaan untuk melakukan sertifikasi kepada para pekerja seni bagi saya sangat absurd. Bagaimana tidak, menjadi seorang seniman yang sungguh-sungguh seniman saya kira tak membutuhkan sertifikasi macam itu. Karya yang akan membuktikan layak atau tidak ia menjadi  seorang artis. Dalam hal ini publik lah yang menilai dan mengapresiasi karya terlepas dari sengkarut pemain lain misalnya patron seni, pasar, dan lain sebagainya.

Berkarya adalah suatu wadah bagi siapapun untuk membebaskan yang ada dalam dirinya. Seluruh pikiran, hasrat, mimpi, kekecewaan, dan sejuta asa lain yang hadir dalam forma yang dapat kita nikmati kehadirannya dan disebut seni. Saat suatu karya bersandar pada komodifikasi kongkalikong pasar dan mesti punya standar, saya kira disanalah kematian seni sebagai bentuk pembebasan. Salah satunya sertifikasi untuk seniman.

Sekarang ini siapa yang berhak menyematkan label seseorang itu seniman atau bukan? Saya kira siapapun tak berhak, walaupun tiap orang bisa menunjuk siapa saja sebagai seorang artis entah penyair, pelukis, perupa, penari, penyanyi, pematung, penulis, dan pe- lainnya. Namun, siapa yang punya otoritas penuh sesuai hukum yang dapat menghakimi seseorang sebagai seniman? Tidak ada. Bahkan, bagi saya hukum haram hadir dalam wilayah seni. 

Dunia seni, dalam pandangan saya merupakan taman bermain dimana semua orang setara dan bebas menuju kediriannya. Tidak ada yang putih bersih pun asli seratus persen dalam dunia cipta, karsa, dan rasa. Dunia dimana segala hal dapat masuk dan menyatakan kediriannya sebagai yang asli maupun yang palsu. Dunia tanpa formalitas legal, tanpa hierarki!

Dan kini negara mencoba hadir dalam dunia tersebut dengan segala klaim kewenangan yang dianggap dipunyainya. 

“Demi meningkatkan harkat dan martabat serta kualitas hidup para seniman, maka kita patut melakukan pemetaan para seniman kita. Sehingga sertifikasi menjadi penting dan fardu sifatnya!” kelakar seorang PNS berpakaian safari dengan segala kepongahan dan kekosongan otaknya.

Ia berkhotbah seorang diri ditengah kerumunan anak kecil yang sibuk bermain. “Masa kita kalah dengan guru yang juga punya sertifikasi,” tambahnya lagi yang tak punya otak.”Kita jangan mau direndahkan masyarakat internasional karena karya yang dibuat para seniman tak tersertifikasi.”

Kebodohan dan kesoktahuan seringkali memang satu paket. Keduanya sama-sama mengidap virus ketololan yang akut. Yang perlu dilakukan negara dalam urusan seni hanyalah menjamin kebebasan berkarya bagi setiap warga negaranya, bukan melekatkan label halal bagi seniman. 

Seni adalah persoalan selera dan kedirian yang sebenarnya tidak perlu simpatisan. Ia rasa yang lahir dari diri sendiri yang entah muak, entah gembira, entah apapun terhadap sesuatu. Perkara duit itu soal lain, bung. Apresiasi yang lebih penting, bukan sertifikasi menurut saya. 

Siapa yang bisa menguji seseorang adalah seniman atau bukan? Tidak ada siapapun bahkan maestro sekalipun. Melainkan karya yang akan menunjukkan siapa dia. Toh, saya yakin saat Marcel Duchamp bikin Fountain tidak pakai sertifikasi untuk menjadikan karyanya menjadi fenomenal.

Selasa, 01 Mei 2012

BURUH HARI BURUH


http://www.tataruangindonesia.com



Terlintas sekejab dalam pikiran saya pada suatu siang pada perjalanan menuju kantor. Dalam sebuah iring-iringan kendaraan bermotor, berbanyak manusia dengan seragam merahnya melaju menuju ketetapan sebuah momen; hari buruh. Tulisan yang tersemat dibelakang jaket yang mereka kenakan siang itu, ada kata-kata Solidarity, Morality. Saya menduga mereka adalah serikat pekerja suatu perusahaan.

Tanggal 1 Mei diperingati seluruh dunia sebagai hari buruh. Sebuah peringatan. Sebuah peringatan? Sebuah peringatan! Demi apa kiranya perlu diperingati hari buruh seluruh dunia?

Selebrasi. Lagi-lagi selebrasi. Dalam setahun kita hanya butuh satu kali selebrasi yang mengingatkan siapa diri kita dalam relasi ekonomi; buruh. Perlukah mengingat ke-buruh-an kita?

Pikiran yang terlintas dalam pikiran saya adalah andaikan Karl Marx dapat dihidupkan kembali dari kematiannya yang beratus tahun silam. Ayolah, bangun Marx! Ayo bangun dan revisi teorimu. Apa yang akan kau katakan saat melihat perburuhan sekarang ini? Apa yang akan kau katakan saat tahu teorimu mengenai kemenangan kelas buruh ternyata tak tercapai. Kesepakatan yang ada adalah kapitalisme tetap menggurita dan buruh terlena dengan barang-barang murah serta kucuran kredit seumur hidup. Saat kau lihat buruh-buruh yang coba kau angkat kelasnya berlagak borjuis dengan segala tetek-bengek barang-barang mahal? Apa yang akan kau katakan saat tahu bahwa negara adalah korporasi paling busuk yang memegang senapan birokrasi. Negara mencekik buruh kemudian membunuh mereka dalam jerat Undang-Undang berlapis keju dan coklat? Apa yang akan kau katakan perihal itu semua, duhai jenggot Marx?

Iring-iringan serikat pekerja itu melaju dalam hening dengan sikap badan yang tegap. Seolah bersiap bertatap muka dengan penjajah baru. Padahal mereka telah bersikap kompromistis. Tak ada Levinas disana. Etikanya terhadap yang liyan diinjak-injak saat dipinggir jalan, ratusan fakir miskin menengadahkan tangannya tidak dalam koordinasi demonstrasi. Tidak ada serikat dalam kemiskinan. Mereka membisu dalam pemberontakannya terhadap takdir. Tak ada yang bisa dituntut dari keheningan yang miskin. Tak ada buruh disana. Hanya harapan belas kasih.

Buruh-buruh berbondong menuju epicentrum; koorporasi baik birokrasi pun swastanisasi. Ada yang dituntut dalam selebrasi. Mereka mengklaimnya sebagai hak dan menunjuk kepada pemilik modal sebagai kewajiban yang harus dibayarkan. 

Demi apa? Demi apa? Demi Tuhan, mereka para liyan yang berserakan dijalan tak punya epicentrum tempat mengadu. Mereka telah menjadi atheis dalam kebisuan tanpa uang dan emas permata, tanpa Blackberry, tanpa gadget berlabel Apple. Tidak ada Tuhan dalam keluh kesah mereka. Tak ada lagi malaikat pun iblis yang sanggup menggoncang kemanusiaan mereka. Mereka adalah manusia-manusia yang berjalan datar siang-malam laiknya anjing dan kucing yang lelah bertarung memperebutkan siapa pemilik kuasa tempat makan.

1 Mei. Sebuah refleksi. Sebuah tanda tanya tanpa jawaban. Sebuah ironi. Sebuah anomali. Siapakah kita sebenarnya tanpa balutan cap ekonomi? Bukan buruh, bukan pula si pemilik modal. Bukan siapa-siapa hingga kau menatap lekat kemiskinan dalam mata seorang miskin yang tak punya serikat miskin.


Kamis, 08 Maret 2012

Pulang

gambar: http://pankajmahajan.hubpages.com/hub/walk-alone


Pada keheningan waktu yang berjalan dalam konstanta detik, aku meresah
Ada yang pekat dan ingin segera diketahui
Ia tabir kebenaran dan kepastian

Tik, Tok, Tik, Tok
Emosiku perlahan menanjak dalam kecepatan berbasis kilometer
Pelahan menuju angka 100

Kuno adalah nama tengahku
Kupelihara ia laiknya iman
Kusemai ia hingga tumbuh menjadi tameng nomor wahid untuk melindungiku, menjadi busaku saat nasib lagi-lagi menghempasku hingga kedalaman rasa sakit

Semua karena merasa
Ia utama dalam tubuh yang berjiwa
Ia transenden sekaligus absolut
Ia otoriter dalam kerangkeng hegemoni dan dominasi

Tik, Tok, Tik, Tok
Kutunggui kebenaran hingga pukul 6 senja bergulir
Senjakala hampir tiba
Pertanda sisa mesti direlakan dalam setenguk kecewa

Aku mencintaimu tidak untuk memaklumi sendiri dan terlukamu
Pun denting waktu yang kupunya tak mau kuhabiskan untuk menunggumu sepi
Ada mentari yang harus kujamahi dan gagahi hingga lelah sang nasib ereksi, bukan ejakulasi

Tik, Tok, Tik, Tok
Pikiranku hendak melakukan kudeta
Ia berontak terhadap niat baik, terhadap mimpi indah
Realita adalah imannya dan Logika adalah nabinya
Sementara Tuhan punya rencana lain dalam permainannya

Asap rokok mengepul ke angkasa, tak lagi dipunyai siapa
Aku mencintaimu
Aku membencimu

Hari sudah senja, sayang
Pertanda waktuku menuju surgaku
Tapi tak ada kau disana, barangkali belum

Minggu, 26 Februari 2012

Perempuan Menguap Walau Punya Kata dan Bahasa


 http://weheartit.com/itsalexlopez


Sulit menjadi wanita. Ah, penggunaan kata yang merujuk pada manusia yang bervagina pun masih kontroversial. Ada sebagian pihak yang menganjurkan pemakaian kata perempuan untuk merujuk pada mereka yang juga diberkahi dengan rahim dimana jutaan bahkan lebih orang hebat lahir daripadanya. Penggunaan kata wanita untuk merujuk pada kami yang punya vagina dan rahim dianggap merendahkan harkat karena makna kata tersebut berarti sebagai jenis kelamin yang sukarela ditata oleh jenis kelamin oposisinya, pria.
 
Biar menyenangkan semua pihak, baiklah saya akan menggunakan kata perempuan untuk seterusnya dalam tulisan ini. Untuk tulisan yang lain, insyaallah kalau ingat akan dipakai terus. Amin…

Saya bilang sulit menjadi perempuan. Dalam banyak hal yang melibatkan partisipasi perempuan di ruang publik, peran perempuan masih dikerdilkan. Untuk wilayah bahasa saja, perempuan tak punya bahasanya sendiri yang dapat merepresentasikan diri dan kondisinya. Semua bentukan patriarki. Lebih menderitanya lagi, saat perempuan berusaha berbicara di ruang publik, banyak pihak yang masih menyangsikan keabsahan dan tingkat pengetahuan perempuan. Kalau kata upin&ipin ,”kasihan, kasihan, kasihan…”

Misalnya saja dalam forum formal seperti diskusi kelompok kecil saja, seringkali pendapat perempuan diabaikan. Padahal ia baru saja akan menyampaikan apa yang menurutnya. Namun pendapatnya main di-cut begitu saja oleh sebagian orang sembari melengos pura-pura tuli saat perempuan berbicara. Atau dalam sebuah relasi kedekatan personal dengan jenis kelamin oposisi, perempuan juga sering dianggap tak punya bahasa bahkan mungkin tak paham bahasa yang digunakan pasangannya. Laki-laki seringkali mengklaim diri mereka paling rasional dengan argumentasi super komprehensif yang berbasis pada persoalan makro dan berkaitan dengan jumlah massa yang besar, sementara perempuan yang berbicara lewat pengalamannya dianggap tak rasional dan perasa. Padahal yang terjadi tidak sekaku itu. Tidak pernah sekaku itu, saudara-saudari!

Perempuan yang memiliki keterbatasan bahasa dan pengalaman memang hanya akan berbicara mengenai apa yang ia alami dan pelajari sehingga menurut saya, itulah salah satu alasan mengapa biasanya perempuan dianggap sangat sensitif dan perasa. Namun bukan berarti ia miskin nalar. 
 
Saya teringat tagline sebuah iklan produk kecantikan, ”karena perempuan ingin dimengerti”, rasanya memang benar. Bukan hanya oleh sesamanya, melainkan juga oleh oposisinya. Kerelaan laki-laki untuk mau memahami sisi perempuan yang satu ini memang bukan perkara gampang, karena implementasinya dibutuhkan kesabaran, kerelaan, dan kebesaran hati bahwa perempuan butuh diberikan tempat, perhatian, serta kesempatan yang layak. 
 
Saya percaya dengan apa yang pernah disampaikan Freud, si bapak psikoanalisis bahwa perempuan memiliki histerianya yang tak disadari. Kepercayaan ini dapat saya jawab karena keterbatasan kesempatan pada perempuan dibandingkan dengan jenis kelamin oposisinya, laki-laki. Saat perempuan mencoba menyuarakan suara hatinya dan tidak diberikan ruang apalagi didengarkan, maka ia sebagai pihak yang selama ini menjadi subordinat akan menyimpan segala rasa kecewa, marah, sedih, dan lainnya secara tak sadar di mana nantinya endapan emosi tersebut menumpuk menjadi histeria. Sehingga jangan heran jika perempuan lekat dengan klaim-klaim semacam emosi-an, makhluk yang tak tenang, tak berpikir, serta sederet julukan lain yang menyudutkan perempuan.

Hah, sedihnya menjadi seorang perempuan. Saat ia ingin ada yang mendengarkan banyak orang tak peduli. Namun saat banyak orang butuh pelampiasan libidonya, banyak yang mencari perempuan karena hanya menginginkan tubuhnya terutama vaginanya tanpa pernah mau sedikit saja belajar mendengarkan apa yang dirasakan perempuan. 
 
Terkutuklah kalian yang hanya berpikir dengan kelamin saja!!!

Jumat, 06 Januari 2012

From Zero to Hero: Suatu Representional of The Mind


Kita selalu mengagumi kisah-kisah mereka yang berjuang dari si pecundang menjadi pahlawan, from zero to hero. Apresiasi kita junjung ke tingkat tertinggi bagi mereka yang mampu menjadi pahlawan. Banyak contoh nyata yang bisa kita sodorkan mengenai mereka yang berjuang dari titik nol hingga menjadi sukses seperti saat ini. Hal demikian juga telah banyak dilirik oleh industri film untuk mengangkatnya ke layar lebar. Tentu dengan pencitraan yang agak berlebihan agar kisah tersebut tidak begitu hambar dikonsumsi publik dan keuntungan tetap dapat diraih. Sederet film dengan tema from zero to hero dapat dengan mudah kita sebutkan. Dalam skala nasional ada film Obama Anak Menteng, yang mengangkat kisah masa kecil Presiden Obama di Jakarta. Dalam skala hollywood ada Longest Yard, Mighty Duck, Miracle, Sister Act 2, Coach Carter, dan sederet film lainnya. Film-film seperti ini beberapa didasarkan pada kisah nyata, beberapa merupakan rekaan saja. Namun alur yang tersaji sepanjang film biasanya serupa; mereka awalnya dikenal sebagai pecundang, bertemu dengan seseorang yang tepat, dan berakhir menjadi pemenang.
Menyaksikan film-film seperti ini beberapa diantara kita mungkin terinspirasi, tetapi jelas semua merasa terhibur. Kita menyukai proses yang mereka jalankan menuju sukses tersebut. Saya akan mengemukakan contoh dari salah satu film hollywood berjudul Coach Carter yang diperankan dengan sangat baik oleh Samuel L. Jackson.

"You save my life, sir. Thank you." (Timo Cruz)
Film ini terinspirasi dari kisah nyata. Bercerita tentang pelatih tim basket SMA Richmond, Ken Carter. SMA Richmond memiliki tim basket yang terkenal tak berkualitas sejak beberapa tahun belakangan. Pelatih Carter diminta untuk menggantikan pelatih basket sebelumnya di Richmond. Pelatih Carter yang merupakan negro yang berpenampilan rapi sempat diejek olek tim asuhannya saat pertama bertemu. Ia tak ambil peduli. Ia menyodorkan sebuah kontrak yang mesti disepakati tiap pemain dan pelatih serta disetujui oleh orang tua ataupun wali mereka. Isi kontrak tersebut menarik. Diantaranya mereka harus mengenakan pakaian rapi dan berdasi, hadir dikelas, dan indeks prestasi belajar mereka minimal 2,3.
Pelatih Carter terkenal tegas dan tak kompromi pada hal-hal diluar kontrak yang disepakati. Namun, berkat usahanya kini tim basket Richmond yang sebelumnya dikenal sebagai pecundang mulai menjejakkan diri menjadi pemenang ditiap pertandingan yang dihadapinya.
Rupanya kemenangan yang selalu diraih tim ini melenakan mereka terhadap kontrak yang mesti dipenuhi. Kemenangan yang telah didapat menjadikan mereka besar kepala. Pelatih Carter menyadari hal demikian dan berupaya mengingatkan timnya untuk tidak cepat puas.
Jika harapan yang digantungkan padanya dahulu saat diminta melatih tim basket Richmond adalah agar memperoleh kemenangan, maka pelatih Carter menetapkan hal jauh diatas itu. Anak-anak asuhannya mesti melanjutkan jenjang ke tingkat perguruan tinggi. Dan basket dapat menjadi salah satu jalur untuk memperoleh beasiswa perguruan tinggi, tentunya juga didukung dengan indeks prestasi belajar mereka yang baik. Sayangnya hampir semua timnya tidak memiliki prestasi baik dalam bidang akademis. Selain itu lingkungan sekitar mereka tidak memiliki visi untuk kehidupan yang lebih baik. Hanya sedikit sekali lulusan Richmond yang melanjutkan studi di universitas, kebanyakan dari mereka justru melanjutkannya ke penjara.
Melihat prestasi akademik timnya yang anjlok, pelatih Carter memutuskan untuk membatalkan tiap pertandingan sebelum mereka mencapai indeks prestasi minimal yang tertera di dalam kontraks. Tindakannya ini mendapat kecaman dari banyak pihak mulai dari sekolah hingga warga sekitar yang mengidolakan tim basket tak terkalahkan ini. Bagaimana dengan tim? Mereka menerima alasan Pelatih Carter yang tidak mau hanya sekedar mendapat kemenangan ditiap pertandingan, tetapi ia ingin timnya punya masa depan selepas lulus dari Richmond. Dengan usaha keras, mereka berjuang sebagai tim mencapai target indeks prestasi minimal dan berhasil. Akhirnya mereka diperbolehkan bermain basket lagi setelah indeks prestasi terpenuhi. Lawan terakhir mereka di film ini adalah SMA St. Francis yang tim basketnya terkenal hebat. Mereka tidak menang melawan St. Francis, tetapi mereka telah menang melawan diri mereka sendiri. Terbukti diantara mereka mendapatkan 5 beasiswa masuk perguruan tinggi, dan 6 orang melanjutkan ke jenjang universitas.

"Winning in here means you have also winning out there” (Coach Carter)
Dalam representational of the mind, kita dapat men"duga" tindakan yang dilakukan seseorang lewat mekanisme yang sama walau mungkin tafsiran satu hal dengan hal lain dapat berbeda. Mekanisme itu bergerak dari sensory input yang merangsang belief dan desire untuk melakukan suatu tindakan tertentu (behaviour). Ya, terkesan behaviouristik jika kita mencoba menjelaskan apa yang dilakukan pelatih Carter terhadap tim asuhannya. Namun, kerangka ini dirasa cukup baik yang dapat digunakan sebagai analisis memahami film tersebut dari sudut pandang kesadaran.
Jika sensory input ini digantikan oleh masuknya Ken Carter sebagai pelatih baru tim basket Richmond dan dia memiliki keyakinan (belief) bahwa tim ini dapat bangkit tidak hanya sebagai pemenang pertandingan, melainkan juga sebagai pemenang dari diri mereka sendiri, ia pun berhasrat (desire) untuk membuktikan hal tersebut lewat tindakan-tindakan yang bahkan kita tidak pikirkan seperti membatalkan pertandingan sebelum indeks prestasi belajar timnya membaik. Namun hal ini tidak dapat sekedar dimaknai sebagai suatu stimulus yang diberikan Carter kemudin direspon oleh timnya. Sepanjang film kita akan menyaksikan bahwa stimulus yang coba diberikan Carter terhadap timnya sering kali tidak berjalan baik. Timo Cruz, salah seorang anggota tim bahkan berkali-kali keluar-masuk tim karena tidak menyetujui arahan pelatihnya.
Stimulus yang diberikan Carter adalah visi, harapan, dan komitmen kepada tim asuhannya untuk berbuat lebih bagi hidup mereka tidak sekedar memperoleh kemenangan ditiap pertandingan, tetapi juga diluar pertandingan basket. Carter mencoba merubah persepsi tim asuhannya. Ia mengajak mereka untuk merefleksikan hidup masing-masing, mengajak mereka untuk bekerja lebih giat keluar dari kemelut lingkungan sekitar yang tak memiliki masa depan lebih baik. Visinya jelas, we winning in here and also winning out there.
Mekanisme the representational of the mind dalam pembacaan terhadap film ini memiliki kekurangannya, yakni kita tidak dapat memprediksi tindakan apa saja yang akan dilakukan Carter untuk tim asuhannya agar menjadi pemenang tidak hanya dalam pertandingan basket tetapi juga pemenang dari tiap pertandingan hidup mereka. Kelemahan mekanisme ini adalah mengabaikan aspek keunikan manusia bahwa ia makhluk yang berpikir dan memutuskan apapun tidak hanya karena stimulus yang diberikan tetapi juga pilihan yang direfleksikan. Kita tidak menyangka Carter akan sebegitu nekatnya untuk membatalkan tiap pertandingan sebelum indeks prestasi akademik timnya mencapai standar padahal mereka sedang berada diatas angin sebagai tim yang tak terkalahkan.
Tiap pilihan punya rasionalitasnya masing-masing dan tidak dapat sekedar menjadi alasan dari kondisi yang mungkin sama dialami. Pilihan yang diambil Carter buktinya tidak populis bahkan ditentang seluruh warga. Namun ia punya alasan yang belum tentu pelatih lain akan melakukan hal yang sama jika berada diposisi Carter. Setiap pilihan juga punya konsekuensi yang mesti ditanggung dan Carter menyadari itu semua.

"They failed at the last, but thet get more than winning"
Hidup merupakan misteri yang tak kunjung dapat kita kuak tiap lapisannya. Pada awalnya tim basket Richmond yang dikenal pecundang dapat berubah menjadi tim yang tak terkalahkan. Terbukti tidak pernah kalah dalam tiap pertandingan. Namun, di akhir film saat mereka mesti berhadapan dengan St. Francis mereka mesti menelan kekalahan. Penonton kecewa luar biasa. Tak adil rasanya perjuangan yang telah dilalui tim ini hingga pertandingan terakhir. Namun itulah hidup. Kita hanya dapat berharap bahwa tim ini akan terus menang, tetapi kenyataan berkata lain.
Gagalkah pelatih Carter jika kita hanya bersandar pada pandangan behavioristik stimulus-respon? Mungkin ya, tetapi tim ini mendapatkan apa yang jauh lebih berharga ketimbang kemenangan dilapangan, yaitu kemenangan melawan diri mereka sendiri. Stimulus yang diberikan Carter tidak hanya sekedar porsi latihan yang ditambah, melainkan ia memberikan visi, memberikan harapan mengenai kehidupan yang dapat dijejaki lebih baik oleh tim ketimbang target kemenangan dilapangan yang telah mereka peroleh. Hal itu lah yang menjadikan film ini berbeda. Perubahan yang dialami oleh tim basket Richmond dimulai dari kesadaran yang terus coba ditanamkan Carter untuk dapat menjadi yang terbaik diluar yang mereka duga. Dia memberikan timnya lebih dari sekedar kemenangan, dia memberikan hidup.

Selasa, 27 Desember 2011

Sejumput Risalah


doc: favim.com


Duhai senja,
Namamu seringkali dijadikan singgasana para peziarah. Diantara sinar mentari dan lembutnya kegelapan menjelang malam, kau berdiri dikeduanya. Layaknya koma, kau adalah jeda dimana ruang menjadi kosong dan mendamaikan.
                                      
Jelaga,
Hitam pekat menempel pada sekat dan berkerak. Jika kau melihat pekat, siapa yang tahu mengenai diriku? Kau pun juga tak tahu pasti. Sejumput kerak, berdesir membangkitkan perasaan aneh dan jijik pada diriku sendiri.

Cermin,
Kulihat diriku disana, tapi tak kukenali pantulan siapa itu. Aku sekaligus bukan aku. Ya, begitulah adanya. Mereka bilang itu aku, tapi bagiku itu bahkan bukan aku bahkan bayanganku. Ada yang terpisah dariku dan tak kukenali sebelumnya. Ada harapan dan fantasi yang tak terkatakan namun tampak dalam cermin. Ia adalah harapan sekaligus kenyataan yang tak mampu kereguk seluruhnya.  

Kata,
Aku terlalu banyak membuang kata. Semuanya menjadi omong kosong. Kata, ia representasi apa yang kupikirkan sekaligus mereduksi kemungkinan lain dari pikiran. Aku menjelma frasa, menggugat bait. Selalu ada yang dapat ditentang, dan aku menentang diriku sendiri lewat kata.

Fiksi,
Biarkan aku mencipta fiksi dan mengaburkan dunia. Biar kusembunyikan namanya di dalam fiksi dan cinta menjadi diksi dalam setiap kata-kata yang terbentuk dari imajinasi. Agar setiap peziarah yang mencoba menemukannya mendapati sebentuk jiwa yang layu karena fiksi menyerap realita dan kemungkinan. Dalam fiksi, cinta dan dirinya melebur dan menggandakan diri dalam beragam makna. (Rabu, 10/8/2011)

Kenangan,
Sendiri merupakan kesunyian tak terbantahkan dari eksistensi seorang manusia. Kenangan hadir bagai sebuah arus sungai yang tak berkesudahan, kadang membawa limbahan berjuta material hingga meluap dan membuat banjir sekitar. Arus deras jutaan kubik kenangan bagai sebuah tegangan volt supertinggi dan mengantarkan manusia pada kepapaannya pun kebanggaannya. Kenangan membawa simfoni mengenai warna kuning dimana usang adalah album fotonya. Ada indah, ada serapah, ada kecewa, ada bahagia, ada marah, ada bangga, serta cinta yang pernah mampir dalam kenangan. Ia universal walau dengan seluruh kategori particular yang membentuknya. Abadi? Tidak juga, sebab itulah mengapa kenangan hadir sebagai arus sungai. Selalu ada sisa yang tertinggal dan menjadi kerak di dasar batuan sungai. (Selasa, 18/10/2011)