Rabu, 28 September 2011

Tuhan(tu)


Masa depan adalah perihal paling misterius yang terjadi dalam kehidupan manusia. Aku pernah menulis suatu telaah singkat mengenai budaya industri yang kemudian banyak diagungkan oleh masyarat modern sebagai Tuhan baru. Telaah ini berdasarkan atas kunjunganku ke salah satu pameran seni rupa kontemporer bertajuk ”Second God”. Tuhan yang imanen perlahan-lahan tergantikan oleh Tuhan elektronik maupun Tuhan yang berlabel paling mahal dalam produk budaya massal. Tulisan mengenai itu kuberi judul, “Tuhan(tu) dalam Second God”. Kata Tuhan kuselipkan (tu) karena jika kau baca cepat maka akan berbunyi tuhantuhantuhantu… suatu ironi tersendiri yang rupanya saling kait mengait antara kata “tuhan” dan “hantu”. Suatu permainan kata yang entah disadari atau tidak dalam bahasa Indonesia sebagai pembalikan makna dan kata dimana keduanya bisa dipertukarkan. 


Sama seperti hidup, kata “tuhan” pun “hantu” bagiku hanyalah masalah perspektif. Hidup pun juga demikian. Selalu ada kategori baik dan buruk, baik dan jahat, untung dan rugi, senang dan sedih, naik dan turun, serta masih banyak hal lain yang kiranya dapat didaftarkan dalam antagonisme kata. Bagaimana pun semuanya adalah masalah perspektif. Namun, apapun perspektif tersebut akan selalu bermuara pada percabangan yang saling bertentangan satu sama lain yang disebut antagonis. 


Kadang saat kau sedang tekun dalam pencapaian pada Legenda Pribadimu, kau terjungkal ke dalam sebuah jurang yang dalam. Kau terluka lumayan parah. Rasa sakitnya membuatmu urung melanjutkan perjalananmu atau pembangunanmu menggapai yang kau impikan dan harapkan. Bagiku disaat itulah dua kata itu -tuhan dan hantu- tampil  sebagai metafora yang kugunakan untuk memenangkan salah satunya dan mempengaruhi bagaimana caramu melihat hidup selanjutnya, mempengaruhi bagaimana caramu menuliskan Legenda Pribadimu sampai pada kesimpulan akhir. Akankah kau menangkan Tuhan saat jatuh tersungkur dan menderita luka-luka yang bahkan mungkin tak akan sembuh lagi atau kau memenangkan hantu sebagai satu-satunya alasan terbesar kau mundur dari pencapaian Legenda Pribadimu? Semua jawab ada padamu…

Saat memilih memenangkan hantu sebagai jawaban, kau menyesali banyak hal yang telah terjadi padamu. Berjuta tegangan volt perasaan bersalah mengalirimu dan membuatmu menangis mengenai apa yang tak bisa kau capai atas tujuan yang kau tetapkan sebelumnya. Sementara saat kau memenangkan Tuhan, kau mensyukuri banyak hal walaupun kau terjatuh dan hampir mati. Setidaknya kau belajar banyak hal baru dan pengetahuanmu bertambah dibandingkan dengan mereka yang memilih memenangkan hantu.


Aku tak hendak membuatmu memilih tuhan pun menjatuhkan hantu. Sebelumnya pernah kubilang bahwa apa yang kau lihat pada hidupmu sendiri dan hidup sekitarmu adalah permasalahan perspektif. Apapun yang kau pilih untuk dimenangkan, putusanmu memperngaruhi caramu melihat kehidupan secara menyeluruh. Satu keputusanmu akan memperngaruhi keputusanmu yang lain di masa depan.


Tuhantuhantuhantuhan… aku hanya tahu bahwa perjalananku kadang menuntunku menuju jurang ketimbang bukit dengan sebatang pohon oak di atasnya. Namun, aku yakin kali ini aku tak akan apa-apa saat jurang yang ternyata ada dihadapanku. Setidaknya aku akan selalu belajar sesuatu baik mengenai tuhan maupun hantu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar