http://cinematicreactions.blogspot.com/2012/03/extra-credit.html
Baru-baru ini saya menyaksikan film Snow White & The Huntsman bersama beberapa orang teman. Dalam salah
satu adegan dimana Snow White berhasil melarikan diri dari menara penjara yang
tinggi dan mesti beradu cepat dengan pasukan Ratu Ravenna yang berkuda, di tepi
pantai tak dinyana ada seekor kuda putih duduk dengan anggun seolah menunggu
Snow White menghampirinya. Kuda putih cantik itu tampaknya di-setting untuk mengetahui dan membantu kesulitan
yang sedang dihadapi Snow White. Karena memang si kuda dengan baik hati berlari
dengan Snow White menunggang di atasnya.
Selain itu, selama sekian tahun dikurung dalam menara penjara
tentu seharusnya membuat Snow White tak punya kemampuan berkuda yang apik. Nyatanya
saat menunggangi si kuda putih, dirinya tanpa takut dan canggung langsung
melesat menghindari kejaran pasukan berkuda Ratu jahat.
“Ini adegan paling janggal menurut gue,” gumam seorang teman
yang duduk di samping saya. “Masa tiba-tiba ada kuda disitu. Kayak tahu banget
si Snow White butuh bantuan. Udah gitu masa dipenjara dari kecil dia langsung
bisa naik kuda. Kapan belajarnya?”
Kali lain dalam adegan pasukan Snow White menyerbu benteng
istana Ratu Ravenna dan mencoba merangsek masuk, pasukan ini diberondong
berjuta anak panah dari atas benteng oleh pasukan kegelapan sang ratu.
Teman saya yang juga tadi mengeluh mengenai ketidaklogisan
alur film tersebut kembali buka suara,”Masa dari sekian banyak anak panah yang
ditembak, nggak kena tokoh utamanya? Kenapa selalu pasukannya yang mati kena
panah. Coba dong sekali-sekali pemeran utama yang mati duluan. Itu kan kemungkinan
kenanya juga sama. Kenapa gak dibikin Snow Whitenya mati gitu kena panah tapi
pasukannya bisa menang pertempuran?”
Dan sederet kata tanya kenapa yang dilontarkan teman saya
ini. “Ini mengganggu logika gue banget,” tegasnya kemudian.
Kejanggalan alur dalam film tidak hanya dimiliki oleh film Snow White & The Huntsman, melainkan
ada banyak film lain dengan alur tak logis. Bahkan, di Indonesia yang tak logis
tidak hanya alur film, tetapi juga judulnya. Sebut saja salah satu judul film yaitu
Mr. Bean Kesurupan Depe. Dari judulnya saja sudah tidak logis dan mengganggu
pikiran. Memangnya Depe ini termasuk kategori setan dan sejenisnya kah hingga
Mr. Bean mesti mengalami kesurupan? Lagipula apa juga yang diperbuat Mr. Bean
hingga bisa kesurupan sebuah Depe? (kata sebuah
bukan seorang karena Depe ini tidak bisa diindentifikasi termasuk kata
benda, kata kerja, ataupun kata sifat – terlepas dalam dunia yang agak nyata
ini merupakan seorang artis tanpa kualitas mumpuni selain mendulang sensasi
murahan).
Terlepas dari alur pun judul film yang berpotensi mengganggu logika berpikir, sebuah film umumnya
dibuat untuk menghibur. Maka jangan heran jika alur pun judul dikemas agak tak
masuk akal demi memuaskan dahaga keinginan manusia mengenai akhir yang bahagia
(happy ending).
Happy ending merupakan tujuan yang umum dibuat oleh
para sineas film. Alasan sederhana; mereka tak ingin repot-repot membuat film
yang idealis dan seolah realitas karena kesuksesan sebuah film ditentukan oleh
banyaknya masyarakat yang menonton film dan merasa terhibur. Sehingga happy ending berubah wujud menjadi hal
yang ditunggu-tunggu oleh para penonton. Karena hidup tidak selalu happy ending.
Film menjadi representasi keinginan manusia untuk sebuah alur
yang berujung pada kebahagiaan. Aristotles sudah sejak dari sebelum masehi
memahami ini dalam risalah mengenai tragedy dan komedi. kedua bentuk seni tak
lain hadir untuk mencuci bersih perasaan terpendam manusia – Katarsis!
Jika tragedy biasanya memiliki muatan penuh air mata dan
kisah heroic, maka komedi dapat memancing gelitik tawa dari kekonyolan yang
disuguhkan. Keduanya mampu memancing perasaan paling murni manusia. Air mata pun
tawa tak sengaja dihadirkan sebagai bentuk representasi perasaan manusia. Bentuk
ekspresi ini hadir begitu saja tanpa penjabaran alasan logis sahih.
Sehingga wajar saja bagi saya jika misalkan, di tepi pantai
sudah ada seekor kuda putih cantik yang menunggu Snow White tanpa tahu siapa
yang mengirimkannya. Walaupun pada zaman pertengahan seperti itu rasanya memang
mustahil jika seekor kuda lepas begitu saja atau menjadi hewan liar. Keinginan penonton
yang khusyuk menikmati film tersebut pasti berharap selalu akan ada pertolongan
yang diberikan kepada si lemah Snow White tanpa peduli dari mana datangnya kuda
tersebut.
Wajar saja jika dalam berondongan anak panah, Snow White tak
kena tembak karena ia mesti menang melawan Ratu Ravenna. Ia ditempatkan dalam frame dan dialog sebagai ikon kebaikan yang
selalu memang. Dan kita seringkali menginginkan kebaikan mewujud dalam sebuah person. Kebaikan lebih baik
dipersonifikasi sehingga ada cerita yang dapat dibahas dan diperdebatkan pun
dipercayai.
Kecenderungan manusia yang selalu ingin mempersonifikasi
hal-hal absurd tak dapat disanggah. Alur yang tak logis dalam sebuah film pun
menjelma tak berarti ketika happy ending
yang dituju. Seorang sutradara merupakan Tuhan dalam film yang digarapnya. Tetapi
Tuhan itu tentu mengincar laba. Alasan apapun akan masuk akal selama
hitung-hitungan untung rugi tak menempatkan dirinya dalam posisi sial.
Masih perlukah alur logis dalam film?
Cobalah menonton film-film eropa, apalagi Prancis dan Inggris.
Film-film mereka sejoli dengan sastra modern yang berkembang disana. Realitas yang
ditangkap kemudian diinterpretasikan ke dalam film hampir tak ada beda. Serupa
antara dunia sehari-hari nyata dengan film. Keduanya bejalan dalam ritme alur
yang monoton. Akhir film pun tak jelas apakah happy or sad ending. Tak ada kesimpulan tegas macam itu. Karena memang
hidup tak dapat ditegaskan dalam dua titik kulminasi antara ya dan tidak. Hidup
dan film bagai riak air dan angin yang tak dapat digenggam. Semuanya selalu
dalam kemenjadian menuju kemenjadian yang lain.
Namun, bagi saya apapun film yang membanjiri bioskop pun
tukang dvd bajakan, tontonlah sebuah film dengan semangat mencari hiburan
tetapi harus tetap awas terhadap alur yang disajikan. Film dapat menjadi sangat
memuakkan ketika trik para pelaku film untuk mendulang laba ketahuan oleh
penonton. Tetapi untuk sebuah kesenangan ditengah hiruk pikuk dunia yang
membuat penat, menonton film dapat menjadi sarana pembebasan yang lumayan. Keep your head up and think wisely, guys!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar