Tampilkan postingan dengan label Prosa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Prosa. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Desember 2014

Kamala, Sembuhlah!



"Kamala, kamala, kamala..."

Suara itu bergema. Seolah datang dari ketidaksadaran yang berada entah dimana. Lirih dan berulang, tapi juga agak mendesak. Sepanjang langkahku malam itu, suara itu menerus mengikuti, tak mau pergi juga.

"Kamala, kamala, kamala, sembuhlah..."

Hatiku kelu. Sakitnya sekujur tubuh. Ngilu bagai teriris sembilu. Semua karenamu yang berhati batu. Kau tak paham juga pengarai diri sendiri yang telah kukatakan dengan seluruh bahasa yang kuketahui. Kau asyik sendiri mengulum mimpi. Mengabaikan aku yang katanya kau cintai. 

Kau biarkan aku sepi dan teronggok sendiri. Kutelantarkan mimpi sendiri demi khayali mimpi-mimpi kita yang telah dirajut bersama. Tapi kau lupa berusaha untuk kita. Aku mengayuh sendiri, kau seruput bahagia dari sana. Aku mengombak sendiri, kau tak mau dengar keluhku.

"Sembuhlah, Kemala. Kemala, sembuhlah..."

Begitu dalam kuberikan mimpiku padamu. Kau acak sendiri dan gunakan semaumu. Kusandarkan diriku agar tak lagi berlayar, aku ingin melabuh padamu saja. Kau biarkan aku usaha sendiri. Kau nikmat sendiri. Kuberikan kau bahagia, kau berikan aku nestapa. 

Kutinggalkan engkau, kau tunjuk aku bersalah. Aku bersamanya, kau sebut aku sundal. Aku lepaskan ia, kau biarkan aku kembali sendirian. 

"Kemala, kemala, kemala, sembuhlah... Sembuhlah, Sayang."

Suara itu menggema entah dari mana. Aku susuri taman penuh bebungaan. Angin menyapa diam-diam. Semilir harum menjenguk indra penciumanku. Meski malam telah turun, hatiku masih berdarah-darah. Aku hilang gairah. Kau adalah bangsat yang tak mau mengerti bahasa jiwa.

"Kemala, kemala, kemala, sembuhlah. Sembuhlah, Sayang. Sembuhlah, Sayang. Kemala, Sayang."

Bulir itu keluar juga. Air mataku menitik. Sakitku kau tak peduli. Bagaimana mungkin aku mencintai batu yang tak berusaha memperlakukanku sama seperti aku memperlakukannya? Bagaimana mungkin aku masih terus berharap kau berubah dan mau berusaha untukku? Bagaimana mungkin kubiarkan diriku kalah dengan semua harapan palsu itu. Kau tak jua mau tahu. Kau adalah doa yang kuharap Tuhan tak kabulkan lagi harapan palsuku.

Demi Tuhan, Kau berjiwa batu. Aku ngilu hingga ke ulu. Kau tetap jadi batu. Hatimu sedemikian busuk untuk dapat kuobati lagi dengan keikhlasanku. Kau menyia-nyiakannya. Aku sakit hati.

"Kemala, kemala, kemala, Sayangku. Sayangku, sembuhlah..."

Malam semakin larut. Langkahku boyah. Hatiku kelu dan dingin. Tak lagi kudengar suara selain suara itu. Suara yang entah dari mana, suara yang memintaku sembuh. Lamat-lamat suara itu makin berisik. Ia teguh memintaku agar lekas sembuh. Sakit apa aku? Mengapa harus sembuh? Sakit apa aku? Mengapa kau begitu berisik?

"Kemala..."

Aku memejam entah dimana. Kesadaranku memudar. Kau mengabur, abu...

***

"Kamala atau Kemala atau Lotus atau Teratai adalah bunga yang cantik. Ia hidup sendiri di tengah koloni air tawar yang tak sejenis dengannya. Ia mampu beradaptasi dengan itu semua dan tampil cantik lagi anggun. Kau tahu, ada satu Kamala yang begitu aku suka."

"Apa itu?" Tanyaku.

"Kamala berwarna ungu. Ia jarang tumbuh. Kamala lain jamak berwarna merah muda. Yang ungu ini hidup sendiri. Selalu tumbuh satu saja."

Aku tersenyum.

"Tapi diantara semuanya aku akhirnya menemukan Kamala ungu yang jarang itu."

Kupandangi kau, bingung akan maksudmu. 

"Aku temukan kau, Kemala. Akhirnya aku temukan Kamala-ku. Sembuhlah, Sayang. Sembuhlah, Kamala."

Kau yang muncul tak dinyana jiwa. Sakitku kau yang sembuhkan, bukan dia. Kau yang berhati lapang, terjang semua sekat demi bebaskanku tumbuh seumpama kamala ungu. Katamu, jika hayat sesuatu yang renta, mengepaklah...


Selasa, 02 Desember 2014

Cahaya Mata


Bahagia itu terlihat di mata. Bagaimanapun mata jendela dunia. Ia adalah letupan kembang api perasaanmu. Gundah, letih, sedih, gembira, marah, hingga bahagia tergambar disana. Juga cinta...

Matamu serupa parade yang menggambarkan suasana hati. Bola mata hitam pada mata elang itu terlihat cemerlang saat kau bahagia. Seolah akan keluar tetesan air mata dari sana. Seumpama sungai, jernih airnya hendak meluap tapi tak sampai. Hidungmu kembang kempis menahan curahan rasa bahagia yang tergambar dari kedua matamu yang biasa saja. Tetapi dengan mantra ajaib cinta, hatimu yang keras serupa batu melunak. Hatimu panas dan penuh jadi satu. Meluapkan rona yang naik ke kerongkongan, buat tercekat dan hendak mengeluarkan air mata; haru. Kau hanya bisa membayang dalam kata-kata yang tak terucap perihal apa yang disebut bahagia.

Aku tahu kau tak pernah merasa demikian, bukan? Mungkin pernah. Beberapa kali yang tak lagi kau ingat kapan waktunya. Tapi perasaan yang begini memabukkan, kau baru rasakan dengan khidmat, kan? 

Hanya kedua matamu yang menggantikan peran kata yang tak pernah sanggup keluar dari bibirmu. Matamu penuh percikan api. Ia menyiarkan festival dimana bahagia jadi sajian utamanya. 

Matamu tak pernah salah. Ia selalu jujur. Meski kau berikhtiar sekuat tenaga menyembunyikannya lewat senyum. Tapi aku selalu tahu, senyummu palsu. Tak seperti matamu yang berkata-kata jernih meski tanpa suara. 

Kau menyimpan lara dan duka untuk sendiri. Ibarat si putri malu, kau mengatup saat kusentuh dengan hal selain cinta. Kau mengeras dan bersikeras menutup meski kuminta kau kembali membuka daunmu. Sementara jika kusentuh kau dengan cinta, kau akan terus berkembang, mengajakku bermain buka-tutup hati dan kau senang bukan kepalang. 

"Bahagia itu bisa tersenyum," kataku suatu kali padamu saat kita berbincang tentang banyak hal. Tentang semesta yang tengah kita bangun dari kepingan realitas yang berserak acak. Seringkali kepingannya tak pas dengan apa yang kita harapkan. 

Kau diam, setuju padaku. Sebab kau mengalaminya langsung, bahagia itu. Lewat senyum kau bisa merasakannya. Kau mencumbui bahagia rasa sempurna dengan bumbu sederhana. Kau menatapku dan binar matamu kembali meletup-letup dalam kuluman senyum. 

Mata juga dapat memancarkan senyum. Pertanda ia mengamini semesta bahagia. Sebuah mantra ajaib yang kutiupkan pada kita berdua hingga senyum ini tak juga mau usai. 

"Aku tak dapat berhenti tersenyum. Bagaimana ini?" Tanyamu suatu kali saat kita tengah menggelar mimpi di depan sana pada suatu malam.

Aku tak menjawabmu. Kubiarkan diriku turut larut dalam senyum sempurnaku. Kau mabuk, aku pun mabuk. Kita sama-sama tak ingin mengakhirinya. Pun tak tahu bagaimana cara menghentikan kucuran rasa bahagia ini. Satu hal yang kutahu, semua senyum dan parade kembang api dimata kita adalah perasaan paling jujur dari apa yang kita rasakan saat ini; Cinta.

Dalam gempita rasa bahagia yang begitu sederhana kuperkenalkan kau apa arti rumah. Kita membikin rumah bagi satu sama lain. Fondasi bahagia jadi jaminannya selain perasaan cinta yang tak pernah habis. Kita mesti membikin rumah, sebab aku tahu jauh dalam dirimu kau lelah berkelana dari perasaan sepimu. Sebab sepi dan sendiri hampir melekat denganmu yang bermata elang. Meski seringkali merasa damai dalam sendirimu, kau kadang merindukan rumah. Aku ingin menjadi rumah itu.

Kuingat, aku punya persyaratan mutlak yang mesti kau penuhi jika kau ingin terus mencicipi bahagia dimana matamu seumpama ribuan kembang api yang mengangsa saat malam tahun baru dan tak usainya bibirmu menyunggingkan senyum terus berlangsung. Kau hanya perlu buatku tenang, buatku nyaman, dan buatku percaya. Agar aku dapat merebahkan diriku dan kuberikan bahagia itu hanya untukmu. 

Suatu kali kupeluk kau erat, bersandar mesra di dada bidangmu. "Tolong jaga hatiku," pesanku padamu suatu malam lewat. 

Kau balas memelukku erat, mengecup pucuk kepalaku. Aku merasa haru sekaligus tenang. Aku bertaruh kau akan menjagaku apapun yang terjadi. Karena bahagiamu ada padaku. Akulah peniup serbuk sari bahagia itu.

***

Kita tak pernah dapat menebak masa yang terbentang di depan sana. Meski kita berjibaku setiap menit untuk merangkai nasib sendiri dan menyulam bahagia dengan saling beradaptasi perangai satu sama lain. Tapi Tuhan selalu punya jalan sendiri menunjukkan kuasa-Nya. Kita terjebak di sana. 

Rumah yang kita bangun pelan-pelan diterjang ombak. Kita berpisah jalan. Sakitnya luar biasa bagimu. Sekarat kondisimu, sementara aku dirudung sembilu setiap waktu. Bahagia kita retak. Tapi kupikir Tuhan hendak menguji rumah kita, menguji atap bahagia. Apakah kita tetap bertahan ataukah bercerai mimpi. 

"Kau begitu tega padaku. Kau berkhianat. Caramu sampah." 

Kau pecah dalam amarah, kecewa, dan berdarah-darah. Perasaan bahagiamu yang ternyata seumpama gelembung sabun pecah berurai-serak. Aku memang salah karena rapuh. Aku berkhianat, ya. Aku sampah. Aku bukan sampah.

"Kau juga punya andil disana. Kau mengabaikan permintaanku saat kubilang tolong jaga hatiku. Kau menganggapku seumpama mainan yang bisa kau singkirkan saat kau bosan atau kembali saat kau butuhkan. Komunikasimu buruk. Aku selalu yang mesti meminta terlebih dahulu padamu. Sakitku akumulatif. Kau tak kunjung peka."

Kau dan aku sama-sama hancur. Kita mati suri dalam luka sendiri-sendiri.

***

Hancurnya rumah yang kita bangun dari keping sekeping mimpi seharusnya menjadi alasan kuat bahwa mungkin kita tak bisa bersama. Kita tak mungkin bahagia lagi. Kita tak direstui Tuhan bersama dalam bahagia. 

Tapi munafik bagiku jika terus menyandarkan alasan dengan membawa nama Tuhan untuk alasan yang tak kumengerti. Aku berlebihan. Ya, aku memang salah karena rapuh hingga cintaku yang penuh utuh padamu terbagi kepada orang lain. Akulah yang bisa kau tunjuk-tunjuk untuk kau persalahkan terus menerus sepanjang hayatmu. Akulah yang bisa kau rendahkan sedemikian rupa bagai sampah atas apa yang tak pernah kuminta sebelumnya; jatuh cinta lagi. Akulah yang akan jadi alasanmu untuk kau berlaku jumawa di atas kita. Aku si peniup serbuk sari bahagia ini dihadapanmu kini hanya seonggok bangkai. 

***

Siapa yang bisa menebak mekanisme cinta setelahnya? Kata seorang bijak, cinta adalah penawar sekaligus racun. Keduanya jadi satu. Ia dua sisi mata pisau yang bisa menjadi pelindung pun penghancur. Cinta adalah kasih atau benci. Cinta adalah elan vital kehidupan manusia.

Kau mengaduh sakit padaku saat aku hampir kalah dan hendak menghapusmu dalam imaji hidupku. Aku mencintaimu, aku masih sangat mencintaimu. Kau pun demikian. Kita sama-sama merindukan bahagia rasa sederhana itu. 

"Aku berusaha untuk menghapusmu dalam hidupku. Aku berusaha membencimu. Aku berusaha tersenyum dan bangkit," katamu." Tapi aku tak bisa. Aku tak bisa menghapusmu dalam hidupku. Aku tak bisa membencimu. Aku tak bisa tersenyum dan terpuruk. Aku tak bisa bahagia."

Air mataku tumpah. Perasaanku penuh. Hatiku dilanda badai hebat. 

"Aku tak bisa bahagia tanpamu."

Kita pun pada akhirnya kembali membangun rumah dari serpihan badai hebat yang kini menjelma kanker. Semuanya melekat dan tak bisa hilang. Tetapi kau berbesar hati menerimaku lagi karena cinta.

Pupuk itu pada awalnya kita sebar banyak-banyak. Semua bagian yang bolong kita coba perbaiki bersama. Meski aku selalu tahu dalam lubuk hati masing-masing, kita ragu hubungan ini akan langgeng. Kita akan mampu menggapai bahagia lagi. Kau masih begitu sakit atas apa yang kulakukan. Aku juga masih ragu kau akan memperbaiki sifatmu dan menerimaku utuh. Kita simpan sekam dalam diam. Kita pelihara ranjau yang siap sedia meledak jika salah injak. 

Tetapi bahagia itu tak dinyana masih mampu hadir ditengah hubungan penuh ancaman itu. Bahagia itu masih dengan rasa yang sama. Binar matamu kembali menyala dan pelan-pelan kutiupkan kembali mantra sisa yang kupunya agar kau kembali tersenyum.

***

Salah seorang kawanku di Yogya pernah berkata, cinta pantas diuji hingga 33 kali. "Bagai hitungan biji tasbih sebelum kalian melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan. Setiap masalah adalah biji tasbih yang mesti dirapal. Jika kalian bisa merapalnya meski susah payah, itu bagus."

Kupikir badai pertama yang meluluh-lantakkan rumah kita adalah hitungan biji tasbih pertama. Kita bangkit bersama untuk melanjutkan merapal biji tasbih kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya meski terseok-seok menjalaninya. Tapi bayangan bahagia yang hendak kita bangun selalu menjadi cambuk agar tak lantas berhenti berusaha. 

Rupanya hidup punya kejutannya sendiri. Aku bertemu muka dengan biji tasbih kedua, tapi mungkin bagimu ini tak masuk hitungan untuk hubungan kita. 

Seseorang dari masa lalumu yang pernah kau sangat cinta membawa kabar mencengangkan. Aku bukan marah atas apa yang terjadi padanya, melainkan karena kau masih sayang padanya. Kau rela mengorbankan banyak hal untuknya meski hanya terbersit dalam pikiranmu. Aku yakin kau masih menyimpan asa padanya. Kau masih mencintainya juga meski kau berkilah tidak.

Kau tak berusaha keras meyakinkanku jika memang semua prasangkaku salah. Aku murka, kau menjauh. Kau melarikan diri dari rasa marahku. Tak kau padamkan apiku, justru kau biarkan saja. Aku terbakar sendiri. Kau kemana kan janjimu dulu untuk membuatku bahagia dan membuatku tenang? Kau memilih bersama dengan orang dari masa lalumu, membantunya sekuat tenagamu. Sementara kau biarkan aku menghidu hingga sakit sendiri. 

Tahukah kau, saat seperti ini yang sering datang dalam hubungan kita membuatku selalu teringat kembali dengan ia yang kucinta juga. Ia yang kau benci karena merebutku dan bahagiamu. Ia yang mengambil kepingan hatiku sebelah. Ia selalu menggantikan tempatmu saat kau semestinya bertanggung jawab pada hubungan kita. Ia menjadi tempat aku mencurahkan segala rupa beban hatiku. Karena kau tak mau mendengarkanku dan memilih melarikan diri. Sementara ia selalu sedia menyediakan hati untukku mengaduh sakit.

Aku berpikir selesai dengan hubungan kita. Kau diam dalam jenak tak berusaha meyakinkanku. Kau relakan hubungan kita selesai. Padahal janji kita dulu di taman itu adalah untuk saling berusaha untuk hubungan ini. Tetapi kau biasa saja saat aku bilang kita selesai. Aku masih begitu terluka atas sikapmu yang demikian rela membiarkan hubungan kita selesai. Aku mengujimu dan kau mengabulkan permintaanku begitu saja. 

"Ya sudah kalau kau ingin selesai. Aku harus komentar apa," begitu katamu padaku, dingin.

Lagi-lagi mesti aku yang menghamba padamu agar kita membicarakan ini empat mata. Aku ingin kita bertemu dan menuntaskannya sampai akhir. Meski pada akhirnya kata "kita selesai" tak jadi hadir, aku hanya tahu kau mulai berubah. Kau perlahan meninggalkan rumah itu dengan jalinan komunikasi kita yang tak sebebas dan selepas dulu. Aku merasa banyak hal yang kau sembunyikan padaku. Kau mengabaikanku setapak demi setapak. Aku mulai redup dalam mencapai bahagia bersamamu. 

Ya, aku mengeluarkan kata "kita selesai" lagi. Kau lagi-lagi biasa saja. Kau menerimanya. Mungkin memang kau sudah muak denganku. Kau ingin berkelana lagi dan sendiri dalam urusan hidupmu. Dalam keangkuhanmu kau selalu rela melepaskanku. Mungkin memang kita tak lagi semarak menuju bahagia yang sebelumnya kita pancangkan tinggi-tinggi untuk diraih. 

Hampir sebulan kita tak lagi bersama. Kini kau mengaduh lagi. Kau bilang sakit karena mencintaiku. Aku juga sakit mencintaimu. Aku tak tahu, apakah bahagiamu masih sama? Apakah ini masuk hitungan biji tasbih kita?

Sore itu kita bersitatap sekian detik. Kau tersenyum. Tetapi kutahu itu semua palsu. Matamu kehilangan redup. Tak ada kehidupan di sana. Tandus dan kemarau. 

Haruskah selalu aku yang mesti menyapamu untuk kita berbincang bersama? Haruskah aku yang memintamu kembali padaku? Haruskah aku yang mengobatimu terlebih dahulu? Lantas kau berbuat apa padaku? Luka kita sama meski kau menganggap lukamu lebih dalam dan menganga.

Cahaya matamu mati suri. Tak ada gemericik api lagi disana. Mata tak pernah salah, meski senyummu berusaha mengelabuinya. Kita akan kembali karena cinta atau selesai karena cinta pula. Tapi bahagia adalah selalu bisa tersenyum. Tak hanya dibibir, melainkan juga tampak dimata.

Pangkalan Jati, 23 Januari 2014

Jumat, 31 Oktober 2014

Cerita Tentang Padang


Alkisah ada sebuah padang luas di hati seorang Tuan. Sayangnya, padang luas itu gersang dan tandus. Tak ada tetumbuhan rimbun yang menghiasi padang dengan keindahan pun udara segar. Paling sesekali padang itu hanya ditumbuhi rerumputan liar. Padang itu tak membuat bahagia siapa jua yang bertandang untuk mencari keteduhan dan perasaan nyaman.

Suatu hari tanpa diperkirakan semesta sebelumnya, datanglah seorang gadis yang jatuh hati pada si pemilik padang. Diperkenankannya ia masuk dan singgah di padang luas tapi gersang itu. 

Sebab si gadis gemar bermain dan berjingkat-jingkat, ia senang bukan kepalang di padang luas itu. Katanya,"Akan kutanami padang ini dengan bebungaan warna pelangi dan pepohonan agar rimbun dan indah. Tuan yang kesepian ini akan kusemarakkan hidupnya. Aku akan mengajaknya melihat bahagia dari hati. Bahagia rasa sempurna."

Gadis itu pun kemudian mulai menanam benih dan menyirami padang itu dengan perasaan gembira. Benihnya berupa kasih dan sayang, mimpi dan harapan. Segala hal yang kiranya dapat membuat Tuan bahagia dan tak lagi merasa kesepian akan ia upayakan. 

Tapi masuk ke dalam padang berarti juga ia tak bisa keluar lagi. Entah mengapa demikian, mungkin karena si pemilik padang tak mendukung si gadis meraih mimpinya sendiri. Tuan tak pernah menanyakan apapun pada si gadis yang dengan riang gembira menumbuhkan keindahan pada padangnya yang gersang. Tuan juga tak pernah menemaninya menuju mimpi pribadi si gadis. 

Sesekali si gadis rindu juga melanjutkan perjalanan pribadinya meraih mimpi-mimpi yang sudah digelar sebelum bertemu dengan Tuan pemilik padang tandus tersebut. Diam-diam ia berharap akan menjalani mimpi pribadi dan mimpi lain bersama Tuan yang sangat ia sayangi. Sebab, si Tuan juga sering bercerita mengenai mimpinya. Bahkan si gadis masuk dalam rancangan masa depan bersama Tuan. Mereka juga mengikat janji di padang itu untuk selalu membahagiakan satu sama lain.

Seiring waktu pepohonan dan bebungaan mulai tumbuh indah di padang yang sebelumnya kering kerontang. Harum bunga-bunga warna pelangi menghiasi hati Tuan yang kecut dan sepi. Rindangnya pepohonan yang tumbuh membuat teduh hati si Tuan. Si gadis bahagia alang kepalang. Tuan perlahan kenal dengan bahagia rasa sempurna. Bahagia yang tak cuma tersungging dibibir dan terpancar dimata, tapi juga damai dihati. Salah satu mimpinya jadi nyata. 

Diam-diam ia berharap Tuan melakukan hal yang sama kepada dirinya;  membuat ia bahagia juga bersama Tuan. Ia ingin taman hatinya yang sebelumnya indah semakin indah. Sebab, sejak bersama Tuan dan tinggal di padang tandusnya, si gadis menelantarkan taman hatinya sendiri. Buka ia lupa untuk mengurusnya, tetapi ia lebih mementingkan mengurus padang milik Tuan yang ia kasihi. Padang itu masih memerlukan perhatiannya. 

Tapi sungguh, ia rindu kembali ke taman hatinya. Ia pun ingin mengajak Tuan pemilik padang untuk berkunjung ke taman hatinya dan melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan pada padang tandusnya. Tapi Tuan tampaknya tak ada keinginan sungguh-sungguh untuk itu. Saat si gadis berupaya membuat padang tandus yang mulai menjelma taman, Tuan asyik sendiri. Ia sibuk menyibukkan diri melakoni kesukaannya sendiri. Ia lupa membahagiakan si gadis. Ia lupa berusaha untuk membuat si gadis nyaman dan damai dalam hatinya. 

Beberapa kali si gadis merajuk tak kuat lagi mengurus padang hati Tuannya. Ia lupa bahwa ia senang bermain di taman alih- alih sedih dan merasa sendirian. Ia kesal tak diperhatikan, dibiarkan sendiri mewujudkan bahagia mereka. Ia marah dan kecewa karena merasa Tuan si pemilik padang tak sungguh-sungguh ingin mewujudkan mimpi bersama. 

Saat ia mengutarakan semua kekesalannya, Tuan acuh. Ia bilang,"Jika mau bersamaku, seperti inilah aku. Kau bisa pergi jika mau. Karena mengikutiku kau akan menderita."

Betapa egoisnya perkataan Tuan. Atas apa yang selama ini si gadis lakukan untuk pujaan hatinya, mencicip bahagia rasa sempurna dari taman hatinya, ia marah. Apa maksud semua janji dan kata-kata manis bahwa mereka akan berusaha satu sama lain untuk membuat bahagia? Si gadis tak bahagia bersama Tuan yang tak berupaya untuknya. Ia memutuskan untuk kembali kepada taman hatinya yang terlantar sekian lama. Dan Tuan tak memedulikan kepergian si gadis. Dalam keangkuhannya, Tuan pemiliki padang hanya diam.

Si gadis pun kembali menekuri taman hatinya yang sebelumnya terbengkalai. Tapi perasaannya cemas pada perkembangan padang yang tengah menjelma indah itu. Ia pun masih mencemaskan keadaan Tuannya yang akan kembali merasa sepi dan kosong. Tapi hati itu begitu keras.

Ia pun juga tahu dibalik dinginnya sikap Tuan, orang itu merasa sedih dirinya pergi. Sebab bahagia rasa sempurna itu adalah milik mereka. Tak akan ia dapat lagi ramuan bahagia itu tanpa si gadis. Diam-diam si Tuan sombong itu merajuk dan mengeluh. Ia merasa kosong dan padang hatinya terancam tandus kembali.

Tak tega dan masih begitu mengasihi Tuan pemilik padang yang sombong, si gadis kembali kepadanya. Ia rendahkan segala hal dari dirinya agar Tuan setidaknya bisa kembali bahagia dan mau berusaha untuk membuatnya bahagia. 

Berulang kali si gadis memutuskan pergi dan Tuan membiarkannya. Berulang kali si gadis ditanggapi dengan ketus dan dingin oleh Tuan. Berulang kali dalam diam si Tuan merajuk mendamba bahagia rasa sempurna yang entah bagaimana selalu diketahui oleh si gadis. Berulang kali juga si gadis kembali dan memohon agar Tuan mau berusaha untuk mewujudkan janji mereka. Berulang kali Tuan menerimanya kembali. Tapi saat mereka menjalani kembali bersama, semua tetap sama saja.

Hingga suatu hari taman hati si gadis itu ada yang diam-diam mengurusi. Dalam senyap yang begitu mesra, taman hati itu pelan-pelan tumbuh kembali meski pemiliknya tengah mengurusi padang Tuan yang membuat si gadis bahagia sekaligus menderita. Orang itu adalah kawannya karib yang selama ini menjadi tempatnya berkeluh kesah. Sebab kawannya inilah yang selalu mendengarkan setiap murka dan sedihnya. Kawannya inilah yang dalam diam menyalakan pelita dihatinya yang koyak moyak. 

Lalu kemudian siklus itu datang lagi. Di titik kemuakkannya, si gadis tetapkan hati untuk tak lagi kembali kepada Tuan yang padangnya sudah ia suburkan. Meski ia begitu mengasihinya, tapi ketika upaya untuk saling membahagiakan dan ia tak kunjung merasa tenang bersama Tuan si pemilik padang, mungkin pergi adalah jalan yang paling baik. Ia lelah menunggu, ia lelah berusaha sementara mimpi-mimpi dan bahagia sempurna mereka yang ingin dicapai mesti diupayakan bersama, bukan sendiri.

Mungkin Tuan pemilik padang tak akan menyangka kalau kali ini gadisnya pergi selamanya. Ia tetap merasa jumawa dan angkuh. Tak ada kata maaf atau terima kasih yang diucapkan Tuan kepada si gadis atas apa yang pernah ia tumbuhkan dalam hatinya. Tak pernah ada. Meski jauh dalam hati, Tuan yang padangnya mulai kembali gersang dan tandus merajuk juga. 

Dengan segenap perasaan sakit hati dan kecewa si gadis kembali pulang ke taman hatinya yang tengah disemai benih keindahan dan kebahagiaan oleh kawannya yang telah jatuh hati padanya. Hati yang moyak itu justru perlahan dibalut lukanya oleh kawannya. Digenggamnya kuat-kuat tangan si gadis yang cengeng itu begitu kembali ke taman hatinya sendiri. Katanya,"Aku akan mengobati semua sakitmu. Tak akan kubiarkan kau, Semestaku, bersusah hati. Udarkan semua sedih dan kecewamu, Sayang. Sebab aku mencintaimu."


Rabu, 21 Mei 2014

Aurora

Aurora

Oleh : Fitri Kumalasari



"Aku ingin melihat Aurora," katamu suatu kali.

Aku hanya memandangimu tanpa sepatah kata.

"Itu mimpi," tambahmu.


***


Kau kini tak lagi bermimpi. Bahkan tak akan ada lagi suara kerasmu merajuk sesuatu padaku yang kutanggapi dengan senyum pun rasa gemas. Tak akan ada lagi nada memerintah dalam suaramu. Tak akan ada apa-apa. Hanya kealfaan yang tak habis-habis.

Kau menjelma Aurora kini. Entah dimana...


***


"Kau kemana saja? Tak tahu kah aku rindu ingin cerita banyak denganmu? Tapi kau selalu sibuk. Entah apa sibukmu aku juga tak paham," kau lagi-lagi merajuk.

Kau kesal padaku. Bisa apa aku?

Beginilah duniaku. Aku memang kesulitan mengatur waktu. Meski aku senang dengan hidupku sekarang, mimpuku jadi nyata untuk menjadi seorang fotografer. Ada banyak kesempatanku mengembangkan diri. Aku ingin mengabadikan dunia lewat kamera di tangan kananku, sementara kau memegang teguh tangan kiriku walau kau sering ngambek padaku jika aku mengacuhkanmu barang sebentar. Tapi sungguh aku mencintaimu meski tak tahu bagaimana cara membuatmu bahagia.

"Maaf aku terlalu asik sendiri dengan kesukaanku."

Kau tak bergeming. Raut wajahmu masih mengeras. Kau menyimpan kesal dan mungkin dendam padaku. Kau sungguh keras kepala saat begini. Tak hendak mau mendengarkan siapa pun. Menganggap dirimu selalu benar dalam kekeraskepalaanmu. Aku lelah bagaimana menanggapinya. Kau tak mau tahu kondisiku. Padahal kau tahu aku banyak kekurangan tapi sering kau jadikan itu sebagai masalah ketidakpedulianku.


***


"Aku capek. Aku bosan denganmu. Dengan hubungan kita."

Kata-katamu bagai belati yang menghujamku berkali-kali di ulu hati. Hancur hatiku. Sedih bukan kepalang, meski kucoba menyembunyikannya. Toh, kau sering mengatakan ini dan kau selalu berubah pikiran. Kita putus juga pada akhirnya kau selalu mengajakku berbincang kemudian kita kembali pacaran.

"Terus apa yang kau mau?"

"Aku hanya ingin bahagia. Kita sudah berkomitmen akan meraih bahagia bersama. Tapi kau asik sendiri dan lupa padaku. Pada kebutuhanku untuk dibahagiakan olehmu."

Kudengarkan semua keluhanmu yang berulang kali kau katakan saat kita sedang begini.

"Kau tak ada saat aku butuh bersandar. Pikirmu bertukar kabar sebatas telepon atau pesan singkat memuaskanku? Tak ada yang bisa kita perbincangkan di sana. Kau lama membalas. Aku kesal sungguh."

Tak tahukah kau aku sedemikian sibuk? Aku tak sempat membalas pesan atau menghubungimu. Andaikan aku tahu pasti akan kubalas segera. Meski seringnya aku memang lupa membalas semuanya.

"Tapi bersamaku kau justru sering membuka telepon genggam dan mengeceknya. Sementara denganku kau tak bisa demikian."

Kata-katamu seolah menjawab apa yang kupikirkan dalam diam saat menghadapimu. Kalimatmu telak. Aku tak punya jawabannya.


***


Kuhisap dalam-dalam rokokku. Menghembuskan asapnya hingga kuharap menggapai langit-langit kamar kosanku. Pekat kupandangi apa yang sudah kutulis di komputer jinjingku.

Ragaku melemah. Kau dimana kini aku tak tahu. Kau pergi. Jauh sekali. Aku sudah tak mau tahu. Tapi sulit.

"Melihat Aurora," jawabmu saat hendak berpisah dariku. Kau begitu mantap. Kau kembali kokoh dalam kedirianmu memutuskan sesuatu. Kau menemukan keyakinanmu akan suatu hal yang tak kutahu apa itu.

"Aku mencintaimu. Cara kita mencintai satu sama lain berbeda dan tak saling paham," katamu lagi sebelum meninggalkan pintu kamar kosanku terakhir kali.

Aku tak dapat bernapas pun menggerakkan tubuhku untuk menahanmu pergi lagi dari hidupku. Aku diam, membisu saja memandangimu yang diterpa sinar matahari pagi itu.

"Tapi aku lebih mencintai diriku. Tak hendak kukorbankan diriku untuk mencintaimu dalam sakit. Aku tak bisa menunggumu berubah jika itu hanya sebatas kata-kata yang terus menerus di ulang tanpa gubahan perilaku. Sebab aku ingin bahagia. Aku ingin melihat Aurora."

Kau melangkah menuju matari. Sosok terakhirmu abadi ku patri dalam jiwa dan pikiranku.


***


Entah sudah berapa lama kau pergi. Aku tak lagi menghitung bilangan waktu. Rinduku berlarat dan mengerak. Tapi aku tak mau tahu lagi tentang dirimu. Meski senyum rasa bahagia saat bersamamu ikut hilang juga saat kau memilih pergi menuju Aurora. Mungkin aku akan bertemu gadis baru yang kucintai melebihi dirimu dengan sungguh-sungguh. Mungkin juga tidak.

I love you for sentimental reason
I hope you do believe me
I'll give you my heart

Tetiba radio siaran sore memutar lagu Nat King Cole - I Love You For Sentimental Reason. Kau hadir lagi dalam segenggam momen saat kita masih bersama. Lagu ini menjadi pengiring kita saat berdansa di pantai ujung selatan Jawa. Saat itu tengah malam. Kita berdansa di bawah temaram bintang gemintang dan deburan suara ombak. Kau ada dalam dekapanku. Kupeluk kau erat. Ku cium pucuk kepalamu. Rambutmu wangi shampoo, sementara tubuhmu menguarkan aroma ketenangan. Kedua tanganmu memelukku dalam. Kau terpejam dan tersenyum. Sesekali kau berputar dengan lucunya di tengah dansa kita. Kau begitu cantik. Senyummu selalu menjadi favoritku.

Saat-saat seperti itu adalah momen bahagia kita. Segala masalah, perbedaan, apapun menjadi lebur dan tersimpan rapat dalam kotak waktu. Saat berdansa denganmu aku merasa dunia sedang indah-indahnya. Hanya kita berdua, menyulam dunia rasa bahagia.

Aku rindu padamu, Sayang...


***


Terbit fajarku setelah malam kelam
Seumpama jalan panjang
ujung t'lah bersinar

Kau adalah lengang yang
jatuh buatku kelu, lumpuh

Bahagia, katamu bisa dicipta
Tapi fajar tak pernah terbit
Bersamamu semua adalah
mimpi-mimpi pengantar tidur

Sementara aku
ingin memeluk Aurora


Sabtu, 10 Mei 2014

Indonesia





Suatu ketika dikisahkan hidup seorang anak bernama Indonesia. Indonesia memiliki seorang bapak yang begitu di kenal di dunia. Meski demikian, Indonesia tak tahu apa yang menyebabkan bapaknya yang jarang pulang dan memberikan kasih sayang padanya begitu terkenal. Indonesia sendiri bahkan tak begitu mengenal bapaknya kecuali dari cerita para sahaya keluarga mereka di rumah. Saat Indonesia menanyakan seperti apa perangai bapaknya kepada pada ajudannya, mereka hanya menjawab bapak si Indonesia terkenal dan dikagumi banyak orang seluruh dunia.

“Apa memang sebenarnya pekerjaan bapakku?” tanya Indonesia suatu kali kepada ajudan setia bapaknya yang biasa membawa bedil dan senjata lainnya kemana-mana.

“Bapakmu pedagang,” demikian jawab si ajudan singkat dan tanpa emosi apa-apa.

Kali lain Indonesia menanyakan kenapa bapaknya jarang pulang kepada pengasuhnya. Perempuan tua bisu itu hanya menjawab dengan tatapan nanar dan penuh kasih sambil membelai kepala Indonesia. Dengan senyum iba, pengasuhnya menuntun Indonesia menuju kamar dan lekas tidur saja.

Terkadang, diam-diam Indonesia melamun tentang bapaknya. Rupa sang bapak hampir lekang dalam pikirannya. Karena jarang pulang dan tak pernah bertanya tentang anaknya, bapak si Indonesia menjadi sosok yang jauh dan tak lagi dikenal oleh anaknya sendiri. Biarpun tak lagi tahu rupa pun bentuk kasih sayang bapaknya, Indonesia tak begitu sedih. Sebab bapaknya dikenal seluruh dunia. Itu saja membuat Indonesia bangga luar biasa.

***

Pada suatu hari Minggu, Indonesia bosan berada di rumah. Ia merasa kesepian bermain  sendiri di dalam rumahnya yang semegah istana para raja. Tak ada yang dapat ia ajak main. Semua orang di dalam rumah yang terbuat dari material paling mahal dan berharga di dunia sibuk mengerjakan urusan mereka masing-masing. Para petani mengaso di bale rumah. Sebab tak ada lahan yang mesti digarap. Entah apa sebabnya. Para nelayan hanya sibuk merajut jaring tanpa pernah sekalipun pergi melaut lagi. Sementara para anak cucu mereka sibuk belajar dan mendekati para orang dekat bapaknya agar bisa jadi birokrat di perusahaan-perusahaan milik keluarga Indonesia yang jumlahnya tak terperi. Konon, kata banyak orang yang menjadi sahaya di rumah Indonesia, yang paling penting itu bukan jadi petani yang sukses, nelayan yang sukses, guru yang pandai dan tanpa pamrih mendidik anak-anak muridnya, melainkan menjadi ajudan bapak Indonesia yang maha kaya itu. Jika bisa menjilat dan dapat posisi bagus di perusahaan milik bapaknya, para sahaya dianggap naik derajat.

Indonesia yang bodoh tak begitu ambil peduli dengan ritme kehidupan yang terjadi di dalam rumah yang besarnya seperti sebuah negara adidaya. Ia hanya ingin bermain bersama teman-temannya karena bosan berada di dalam rumah. Tak ada yang menemaninya bermain. Bahkan bapaknya sekalipun tak pernah diingatnya pernah menemani Indonesia bermain. Bapaknya belum pulang-pulang juga. Kabar yang di dengar Indonesia hanya bapaknya makin sibuk luar biasa. Entah sibuk apa.

Sesungguhnya Indonesia merasa sedih dan kesal. Ia punya bapak sekaligus tak punya bapak. Ia mau bercerita dan mengeluh sama bapaknya karena tak merasa dicintai sebagai anak. Tapi mau bagaimana? Yang mau di demo dan di keluhkan wujudnya tak pernah ada di depan mata Indonesia. Indonesia yang bodohnya setengah ampun ini hanya bisa diam dan meratap dalam hatinya.

Indonesia pun bergegas bermain ke rumah temannya. Namanya Malaysia. Tetapi saat dihampiri ke rumahnya yang kalah besar dengan rumah Indonesia, Malaysia tak ada di rumah. Kata pengurus rumahnya, Malaysia sedang main di rumah Singapura. Berangkatlah Indonesia menuju rumah Singapura yang besarnya hanya seukuran kamar tidur Indonesia. Tapi ternyata tak juga ada mereka berdua.

Indonesia terus menghampiri rumah teman-temannya satu persatu; India, Cina, Thailand, Australia, Amerika, Jepang, Vietnam, Korea, Inggris, dan lainnya. Tetapi tak satu pun ia temui keberadaan seluruh temannya.  Ia begitu sedih karena teman-temannya pergi bermain tanpa mengajak dirinya.

Saat tengah berjalan kembali ke rumah, di tanah lapang ia lihat seluruh temannya bermain dan tertawa. Indonesia pun tanpa ragu menghampiri mereka dan merajuk ingin ikut bermain bersama. Mereka pun menerima Indonesia masuk permainan mereka. Permainan apa saja khas anak-anak; kejar-kejaran, petak umpat, dan lainnya.

Lelah bermain, mereka semua istirahat di bawah pohon rindang di pinggir lapangan.  Mereka pun saling mengumbar cerita mengenai kebesaran keluarga masing-masing.

Amerika memulai cerita tentang bapaknya yang jagoan. Bapak si Amerika dikenal sebagai penjaga kedamaian dunia. Siapa yang tak turut kemauan bapak si Amerika, maka ia akan di musuhi dalam komunitas arisan bapak-bapak sedunia.  Kata Amerika, saat ini bapaknya sedang memusuhi bapak si Iran. Sebab, bapak si Iran tak mau tunduk dan patuh kepada bapak si Amerika yang jagoan dan serupa preman berjas. Tapi Amerika juga berbisik, alasan bapaknya memusuhi bapak si Iran karena takut kalah pengaruh di RT Timur Tengah. Soalnya cadangan minyak mereka luar biasa. Siapa menguasai RT itu dipastikan jadi orang paling kaya.

“Bapakku sangat membenci bapak si Iran. Sampai-sampai bapakku memfitnah bapak si Iran memiliki senjata pemusnah massal, anti demokrasi, pokoknya segala rupa. Pasukan-pasukan khusus juga tengah dipersiapkan bapakku untuk sedia menyerang rumah Iran begitu ada kesempatan,” Amerika bercerita.

“Bapakmu tak bisa seenaknya begitu. Kasihan kan keluarganya Iran,” Malaysia berkomentar.

“Alah, bapakmu saja setuju dengan bapak si Amerika. Bapakku juga mendukung rencana itu,” Inggris ganti suara menanggapi komentar Malaysia.

“Bapak kalian jahat ya,” kali ini India menanggapi. “Kalau bapakku sekarang usahanya sedang maju. Teknologi kami mulai mendunia. Perusahaan-perusahaan bapakku hampir sejajar levelnya dengan perusahan miliki bapak si Cina ataupun Jepang.”

“Berarti bapakmu orang kaya baru ya?” tanya Vietnam, setengah mencibir.

India tetap menjawab mantap sambil tersenyum,”Begitulah. Dulu kan bawahan bapakku banyak yang mati kelaparan. Sekarang jumlah yang mati tak sebanyak dulu. Meski perampoknya masih juga banyak.”

Indonesia selama ini hanya mendengarkan perbincangan teman-temannya mengenai bapak mereka. Meski Indonesia amat sangat ingin berbagi kebanggaan karena punya bapak yang terkenal juga, tetapi Indonesia tak cukup kenal dengan bapaknya. Ia hanya tahu bapakny sangat sibuk.

Tengah sibuk melamun memikirkan bagaimana sebenarnya sosok bapak kandungnya itu, Mesir bertanya kepada Indonesia,”Kalau bapakmu seperti apa, Indonesia?”

Indonesia gelagapan. Ia bingung harus menjawab apa. Ia tak tahu bapaknya sama sekali. “Bapakku…”

“Bapakmu bagaimana?” Korea menunggu Indonesia melanjutkan jawabannya.

Indonesia menatap satu persatu teman-temannya. Ia tak yakin harus jawab apa. Menggigit bibir, Indonesia melanjutkan perkataannya.”Bapakku yang kutahu punya rumah yang sangat besar, perusahaan yang luar biasa banyak. Bapak juga punya tanah, sawah, laut, gunung beserta isinya yang tak terhingga. Bapakku luar biasa kaya.”

Soal kekayaan bapak si Indonesia memang benar. Sejak dahulu kaya bapak si Indonesia di kenal karena kekayaannya yang melimpah ruah. Punya gunung isi aneka tambang mineral seperti emas, batu bara, nikel, timah, dan lainnya. Punya tanah seluas negara yang jika ditanami apa saja subur tumbuhnya. Punya lautan yang lebih luas dari tanahnya dan berisi kekayaan biota laut yang tak dimiliki bapak siapapun di dunia. Indonesia menahan senyum sendiri meyakini kekayaan bapaknya yang maha dasyat itu.

“Bapakmu kayak kan dulu,” tiba-tiba komentar Amerika membuyarkan kebanggaan sesaat Indonesia mengenai bapaknya yang kaya.

“Sekarang sudah bangkrut. Ya harta, ya moral sudah ludes digadaikan kepada bapakku dan beberapa bapak kalian.”

Indonesia mengernyit, tak percaya apa kata Amerika tentang bapaknya. “Apa iya bapakku bangkrut?”

“Kata bapakku, bapakmu itu koruptor nomor wahid di dunia. Semua harta maruk disabetnya sendiri. selain itu, bapakmu kejam kepada para sahayanya. Mereka diperalat, dibiarkan bodoh, dan hidup miskin. Belum lagi ajudan-ajudan bapakmu yang bisanya menjilat saja. menukar keadilan dengan sejumlah mata uang dan manifestasi kekuasaan lainnya.”

“Aku juga ingat bapakku pernah bilang kalau bapakmu tukang ngutang. Ia punya utang yang sangat banyak dan belum juga dibayar,” imbuh Prancis.

“Bapakmu juga punya utang sama bapakku,” Inggris menimpali lagi.

Berturut-turut teman-teman Indonesia pun mengatakan hal yang sama. Indonesia bingung. ia tak percaya bapaknya seperti yang dikatakan oleh teman-temannya. “Tapi bapakku kan sangat kaya. Kaya sekali,” Indonesia masih coba membela harga dirinya.

“Loh, memangnya kamu nggak tahu? Hampir seluruh tanah dan perusahaan bapakmu sudah pindah tangan ke orang lain. Bahkan bapakku memiliki pulau beserta isinya di tanah bapakmu itu. Perusahaan-perusahaan kami juga banyak di sana mengeruk kekayaan kalian yang diabaikan dan digadaikan kepada kami,” Inggris menjelaskan.

“Iya, bapakku juga merebut pulau Sipadan dan Ligitan dari wilayah bapakmu karena tak pernah di urus. Memang, bapakmu mengajukan masalah ini ke Mahkamah Internasional. Tapi kalah dan dua pulau itu kini menjadi milik keluargaku,” Malaysia menambahkan.

“Jadi  bapakku bukan orang kaya? Bapakku tukang ngutang dan koruptor?” tanya Indonesia lebih kepada dirinya sendiri.

Teman-teman Indonesia pun perlahan menaruh iba kepada Indonesia  yang baru tahu siapa sebenarnya bapaknya selama ini. Memang, bapak teman-temannya yang lain juga punya sisi kelamnya masing-masing. Tetapi mereka masih mau meluangkan waktu bersama dengan anak-anak mereka dan menceritakan apa saja mengenai dunia ini. Mengenai realita yang tak pernah diketahui oleh Indonesia dari bapaknya yang jarang pulang itu. Sementara Indonesia dibesarkan dengan ilusi bapaknya adalah orang kaya dan terkenal tanpa tahu kondisi sebenarnya.

Betapa sedih perasaan Indonesia saat itu. Hatinya terluka mengetahui siapa sebenarnya bapak yang ia banggakan itu. Indonesia pun berlari pulang tanpa mengidahkan lagi teman-temannya yang memanggil Indonesia untuk bermain kembali. Indonesia terus berlari dan ingin cepat sampai rumah, tempat ia dilahirkan dan besar selama ini. Rumah megah yang kosong dan penuh tipu daya. Tak ada kebahagiaan, tak ada mimpi indah mengenai menjadi digdaya dan bermartabat. Tetapi kemudian Indonesia menghentikan larinya dan memilih berjalan saja.

Mendekati rumahnya yang demikian megah, Indonesia berhenti dan menatap lekat kediamannya. Rumah itu memang luar biasa besarnya. Tetapi saat kedua matanya menatap sungguh-sungguh dan seksama bangunan tersebut, Indonesia melihat cat-cat dindingnya mengelupas dimakan susah dan derita. Para sahaya bapaknya hidup kurus dan tinggal belulang. Sorot tatapan mereka kosong dan hampir mati. Jalan mereka tertatih-tatih,kurang gizi dan tak diperhatikan kesehatannya. Sementara para ajudan bapaknya sibuk memamerkan kekayaan mereka yang diperoleh dengan menjilat para orang dekat bapaknya. Indonesia pun menatap dirinya sendiri yang hidup dibiarkan bodoh tanpa pengetahuan dan realitas mengenai kondisi keluarganya.

Indonesia menghela napas sekali kemudian menghembuskannya yakin. Ia memantapkan diri kembali ke dalam rumahnya. Ia tak ingin menjadi seperti bapaknya yang tak tahu entah kemana. Tetapi inilah kesempatannya untuk berbenah diri. Dan itu dimulai dari membersihkan rumahnya sendiri. Meski rumahnya berlumur kerak dan akan sangat sulit dibersihkan, tetapi harus tetap dilakukan. Biar bagaimana pun Indonesia mencintai rumah ini dan segala isinya.

“Biarlah bapakku dan ajudan-ajudannya pergi entah kemana. Aku hanya ingin tinggal nyaman di rumah ini. Aku mencintainya.”







Jumat, 23 November 2012

Senjakala Keheningan

http://almaer.com/blog/javascript-harmony-the-js-train-is-moving

Mimpiku jelas. Aku ingin mengulang masa lalu. Memutar waktu dan kembali kesana, ke tempat pertama kali aku mengenal cinta yang tulus dan sederhana. Ke suatu masa saat semuanya biasa-biasa saja. Orang-orang yang sederhana, bangunan yang sederhana, kisah yang sederhana dan cinta yang juga sederhana. Dalam memori otakku, semuanya berputar bagai sebuah pita film bisu. Tanpa  warna, tanpa suara dan  telah usang. Namun semuanya berharga bagiku. Semuanya adalah senjakala keheningan yang kian tergerus dan akan kalah oleh waktu yang terus-menerus. Senjakala, dalam keheningan aku meminta agar semua rasa tak turut hilang sampai ajal datang menjemput. Aku cinta padanya…

Aku ingat berjalan dilorong yang sama seperti dulu. Jika dahulu lorong itu terlampau besar dan panjang untuk kulewati, kini tidak lagi. Aku pun sekarang telah mampu melihat tanpa perlu mendongak ke balik tembok lorong bangunan itu. Dibalik tembok masih berdiri sebuah rumah yang hingga kini tetap tak berubah bentuk pun warnanya. Semua masih sama. Dalam setiap langkahku berjalan menyusuri lorong tersebut, aku sendirian. Warna sekelilingku adalah abu-abu dan berkabut. Dentingan suara musik menemaniku menyusuri awal dari keheninganku yang sendiri. Aku berada dalam mimpi. Pasti. Semua kosong, tak ada siapa-siapa.

Saat itu rasanya aneh sekali. Aku sendirian berjalan dengan gaun putih menjuntai dan aku sedih luar biasa. Ada yang tampak lain saat itu. Suara musik tergantikan oleh denting suara piano mengalun. Irama syahdu membuatku terbuai. Saat itu pagi hari dan aku tak menemukan siapa-siapa. Tak ada siapa-siapa. Kususuri terus sekeliling tempat ini. Oh, rasanya ingin terus disini mengulang masa lalu. Saat aku tiap hari berjumpa dengannya dan kita bermain bersama. Aku mencintainya sejak dulu, sejak kesederhanaan dan kepolosan menaungiku. Aku ingat suaranya saat memanggil namaku, mengajakku bermain permainan yang selalu kita mainkan bersama dengan yang lain, permainan anak-anak. Aku ingat tatapan malu-malunya saat memandangku diam-diam, senyumnya tersungging menampakkan deretan gigi kelincinya yang putih bersih. Aku ingat saat ia seringkali menggodaku dan menjahiliku. Semua dilakukannya untuk menarik perhatianku. Aku senang bukan kepalang karena kutahu ia juga mencintaiku. Cinta kita manis seperti permen. Cinta kita sederhana dan tulus, khas anak-anak. Tetapi sungguh aku mencintaimu. Dimana dirimu kini? 

Dalam film bisu hitam-putih yang sedang kujalani kini, dimanakah sosokmu? Atau sosok yang lain yang dapat kutanyai tentangmu kini berada. Aku rindu padamu. 

Sunyi. Tak ada lambaian angin pagi yang menyapa wajah dan kulitku. Tak ada suara kicau burung gereja menemani pagi yang mendung. Tak ada suara anak-anak tertawa sambil menunggu bel berdentang dan pelajaran dimulai dengan doa pagi. Tak ada suara langkah kaki yang tergesa-gesa atau rentetan deru kendaraan bermotor yang biasa terdengar di depan bangunan ini. Kemana orang-orang?

Aku tak takut, justru penasaran. Kususuri terus seluruh bagian yang ada pada bangunan ini. Aku menuju lapangan tempat kami dulu mengadakan apel pagi tiap senin. Aku sering menjadi petugas pengibar bendera. Didepan aku dapat melihatmu yang dengan khidmat menjalankan upacara. Aku tersenyum padamu dan kaupun begitu. Kita bertukar cinta dalam sekejap pandangan mata. Indah sekali. 

Kita jarang mengucap kata cinta, karena kita hanyalah bocah saat itu. Kita hanya dua orang bodoh yang mengagumi satu sama lain. Cinta kita ramai seramai pasar malam yang sering hadir didekat sekolah. Ingatkah kau dulu saat kau melambaikan tangan kearahku dan kau melemparkan ciuman jauh padaku. Aku terkikik melihatmu dengan yang lain karena sesaat kau lemparkan ciumanmu, kau terjatuh dari bangku taman. Kau sungguh lucu. Semua orang menyukaimu, tetapi kuyakin rasa sukaku yang paling besar. Dimanakah kau kini? Ada dimana dirimu dalam mimpiku yang sedang berlangsung kini? Aku yakin ini mimpi tentang kita. Bangunan lama yang sedang kususuri menjadi latar sempurna kisah kita. Kau pasti ada disuatu tempat disini. Aku hanya perlu mencarimu, menemukanmu. Iya, kan?

Dalam kehidupan nyata kutahu kita tak akan pernah bersatu. Semua kisah kita telah berakhir. Buku yang kita tulis bersama telah usai, kisah kita semua telah sampai akhir walau aku tak pernah rela mengakhirinya. Akan kubawa kisah kita hingga kutiada, tak lagi ada di dunia. Seolah aku telah puas menjalani hidup yang begini adanya, setidaknya kenanganku mengenai hidup bahagia telah terpenuhi. Namun, saat ini aku sedang bermimpi dan aku tak ingin mengakhiri mimpiku sebelum menemukanmu. Aku rindu padamu.

Suara denting jam mengagetkanku. Kulihat jam menunjukkan pukul tujuh tepat dan aku melihatmu di atas sana. Kau membelakangiku. Aku akhirnya menemukanmu. Ku hampiri dirimu. Aku berlari tak peduli dengan gaun putih menjuntai yang memperlambat langkahku menuju dirimu. Aku berlari dan sampai dihadapanmu, tetapi kau belum juga menoleh padaku. Dalam balutan jas putih kau terlihat tampan sekali. Baumu harum. Ingin rasanya aku menghambur kearahmu dan memelukmu erat. Aku sungguh merindukanmu, cintaku.

Saat aku perlahan mendekat, kau menoleh kearahku. Ah, Tuhan! Betapa tampan dan sempurnanya ia. Ia sungguh-sungguh yang aku cintai selama ini. Tetapi ada yang aneh dalam tatapannya kini. Ia tersenyum padaku, tetapi kedua matanya begitu resah, begitu gelisah. Ada apa denganmu, sayangku? Aku tak sanggup berkata apa-apa. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirku. Kita hanya bertukar pandang. Ku tahu kau menyimpan sesuatu dan berusaha menjelaskannya padaku. Tetapi apa itu, sayang? Aku tak paham maksud pandanganku. Tatapanmu begitu sedih, kau tampak sangat menderita. Apa yang terjadi denganmu? Tak tahukah kau bahwa kita berada dalam labirin keheningan? Kata-kata tak berlaku disini. Karena kata tak selalu menampakkan dirinya. Kata berwajah ganda sementara cinta kita hanya satu adanya. Aku sungguh tak mengerti apa arti pandanganmu.

Kesedihanmu menjadi kesedihanku juga, sayang. Rasa resahmu dapat kurasakan walau tak tahu apa sebabnya. Aku ingin menggenggam tanganmu dan menenangkanmu. Kulihat kau mulai menangis. Oh Tuhan, tolong bantu aku menenangkan hati sayangku ini. Aku tak ingin melihat ia begitu sedih dan gelisah. Kujulurkan tanganku untuk meraih tangannya, tetapi saat itu tiba-tiba keheningan tergantikan oleh ribut yang bisu. Diujung lorong sana tampak seorang perempuan bergaun pengantin yang diiringi oleh beberapa orang. Perempuan itu begitu bersinar dan barulah kutahu apa arti tatapanmu itu.

Hatiku hancur. Ini tak mungkin terjadi. Kau tak boleh dengannya. Aku mencintaimu dan kutahu kau pun juga demikian. Tatapanmu menyiratkan penyesalan dan ketakberdayaan. Seketika aku lemah. Dalam kebisuaan aku sekarat. Tanpa cinta mana mungkin kudapat terus melanjutkan hidupku. Bagaimana mungkin mimpiku mengkhianatiku sedemikian rupa. Kau seharusnya bersamaku. Seharusnya kita bersama selamanya, bersama di dalam mimpiku. 

Kau berlalu dariku dan menghampiri perempuan itu. Dalam keheningan, tanpa kata pun suara kita sama-sama mengutuk takdir yang tak mengijinkan cinta kita bersatu. Aku tak sanggup melihatmu dengannya. Aku terpaku ditempatku dan tak dapat kemana-mana sementara kau semakin menjauh. 

Tuhan, mengapa kau begitu tega. Dalam mimpi pun kau tetap tak mengijinkan kami bersama. Bagaimana mungkin ini dapat berakhir demikian? Aku ingin berlari menyusulnya dan kutahan ia menuju perempuan itu. Tetapi tak bisa. Kakiku tak mau melangkah. Aku terpaku ditempatku. Tak dapat bergerak. Aku tak berdaya.

Sementara perempuan itu telah siap dengan sebuket bunga ditangannya, sayangnya tak ada mawar disana. Perempuan itu menunggumu yang berjalan gontai menghampirinya. Kembalilah! Kau tak mencintainya. Kau tak dapat bersatu dengannya. Sekuat apapun kucoba berteriak, keheningan masih menjadi temanya. Aku tak sanggup berkata dan kupikir aku telah kehilangan cinta. Aku tak dapat berbuat apa-apa. Dalam keheningan, isak tangisku menjadi latar yang juga tak kunjung bersuara, hanya bisu seperti semua. Aku telah mati tanpa cintaku. Kumohon Tuhan, bangunkan aku dari mimpi mengerikan ini. Aku tak sanggup melihatnya menuju kesana.

Kata seorang pencinta, menemukan cinta merupakan anugerah yang tiada terperi. Ia dapat menjadi sumber kebahagiaan yang tiada habisnya sekaligus menjadi sumber nestapa. Kemanakah cintaku akan bermuara kini? Saat orang yang kau cintai mesti meninggalkanmu untuk bersama dengan orang lain, tentu hatiku hancur. Aku tak rela. Tak akan pernah rela. Bahkan dalam keheningan yang membelenggu, aku tak akan merelakan cintaku pergi begitu saja. Aku mencintainya dan akan selamanya begitu. Cintaku mengejan dalam keheningan. 

Tiba-tiba semua berjalan cepat. Kau lagi-lagi mesti menunggu sementara perempuan itu kini hilang entah kemana. Kau menunggu dalam sesal. Dapat kurasakan dari pancaran gerak tubuhmu. Aku pun masih disini, terduduk tanpa bisa bergerak kemanapun. Air mata terus mengalir dari kedua mataku. Aku rindu padamu. Hanya di dalam mimpilah aku baru mendapatkan kesempatan untuk bertemu dan mencintaimu, tetapi ternyata dalam mimpi pun kau tak ditakdirkan bersamaku.

Sebuah tangan menjulur padaku. Gadis itu tersenyum padaku. Ya, gadis yang akan kau nikahi tanpa cinta menghampiriku yang terisak sedih. Aku dilingkupi kebingungan. Aku tak mengerti, sungguh. Ia meraih tanganku dan menuntun untuk berdiri dan mengikutinya. Ia tuntun aku menuju dirimu yang enggan menoleh kebelakang. Kau takut menatap apa pun bahkan dunia. 

Aku menatap gadis itu yang tak bersuara apa-apa namun ia masih tersenyum seperti sebelumnya. Aku mengikuti ajakannya tanpa tahu harus berbuat apa. Saat aku hampir dekat denganmu, ia menyentuh bahumu untuk berbalik menghadap kami. Kau telihat kaget begitupun aku. Oh, betapa kau sungguh sangat tampan sejak perjumpaan terakhir kita. Namun apa maksud gadis itu mempertemukan aku denganmu jika pada akhirnya ia akan bersanding denganmu juga?

Lonceng berdentang sekali lagi. Kabut tersibak dan alunan nada-nada lembut menjadi latar kondisi kita sekarang. Perempuan bergaun putih yang sama denganku menarik tanganku dan menuntunnya untuk menggenggam tanganku yang tak kusadari begitu kaku. Pandangannya menyiratkan bahwa ia tahu kau memang mencintaiku dan begitu pun sebaliknya. Ia menyerahkanku dan menyuruhku menggantikan tempatnya yang akan bersanding denganmu. Kita saling bertukar pandang sesaat dalam kebingungan. Namun sekejap saja sirna dan kita saling tersenyum. 

Kau menggenggam tanganku erat dan menuntunku menuju suara denting piano mengalun. Tuhan, terima kasih pada akhirnya Kau mengijinkanku bersamanya walau kutahu ini hanya dalam mimpi. Aku mencintainya dengan segenap hatiku. Apakah kita akhirnya mengucapkan janji itu? Aku tak tahu dan tak peduli. Aku hanya tahu kau bersama denganku sekarang dan selamanya. Dan kita berjalan menuju keheningan yang tetap tak bersuara namun tak kunjung ragu. Kali ini kita menuju senjakala. Bersamamu walau dalam keheningan, tak akan apa-apa selama kau bersamaku, disisiku hingga ku membuka kedua mataku dan menyambut kebisingan sang fajar.

Jumat, 22 Juni 2012

Prognose



http://www.greatleadershipbydan.com


Keresahan itu merasuk saat kau menginjak usia dewasa. Sebuah usia dimana kau mulai memikirkan dengan serius mengenai hidupmu sendiri. Mengenai kebahagiaan yang ingin kau raih di usia ranum, tapi kau tak mendapatkan apapun. Satu-satunya yang kau dapatkan adalah sebuah kesadaran yang terlalu mengerikan dan menyedihkan untuk dijalani. Entah apakah kesadaran ini paripurna sifatnya atau masih mungkin diotak-atik hingga jadi sedikit berwarna dan lebih baik.

Kupandangi jam dinding di depanku. Sudah pukul dua pagi. Aku masih tak bisa memejamkan kedua mataku. Sulit tidur dan menjamu diri sendiri dalam imaji ketidaksadaran dalam mimpi. Oh Freud, aku harus apa? Aku butuh diagnosis terhadap diriku sendiri. Pasti ada yang tak beres dengan ketidaksadaranku hingga ia seolah menghilang karena tak kunjung mataku terpejam.

Oh Kierkergaard, mengapa hidupmu begitu tragis. Kau memutuskan dunia dan cintamu terhadap Regina untuk bergelut dalam keresahan seumur hidup. Apakah kau bahagia? Apakah kau puas atas apa yang telah kau pilih untuk kau jalani? Apakah kau menerima kesendirian dan kesepian yang ternyata saudara kandung?

Aku banyak mengenal orang. Salah seorang temanku ada yang menikah muda karena ia hamil duluan. Itukah cinta? Itukah putusan eksistensialis? Apakah ia menyesal kini setelah dirinya terbelunggu dalam mimpi rumah tangga monoton; mengurus suami dan anak? Adakah ia menyesal melepaskan kesempatan mereguk cita-citanya yang siapa tahu ingin menjadi Presiden Republik Terkutuk ini?

Kali lain kutemui seorang perempuan yang sudah memutuskan untuk tak berharap lagi mengupas cinta. Menyentuhnya pun enggan. Kenapa? Karena aku telah matang dan tak ada yang tersisa untukku selain duda dan perjaka lapuk. Tidak, tidak, aku tak mau menjadi yang kedua ataupun yang terakhir dalam deret aritmetika jodoh yang bodoh macam itu, katanya.

Berjalan sedikit, kuingat diskusi dengan salah seorang teman mengenai menjadi perempuan paripurna. Dalam suatu perbincangan saat makan malam, ia menceritakan padaku mengenai semuanya – pengalamannya menjadi seorang perempuan.

Sulit. Sulit? Sulit! Sulit menjadi perempuan yang ingin dirinya dianggap setara dengan laki-laki. Kami bertukar kata, saling menyampaikan pengalaman dan pandangan masing-masing. “Aku tak mau terjebak dalam permainan cinta,” ujarnya sambil menyantap ayam bakar yang warnanya begitu mengkilap.

Ya, aku pun tahu kau akan berkata demikian. Kau pun aku sama dalam memandang cinta. Kami sama-sama tak ingin cepat bertekuk lutut di bawah kuasanya untuk mengabdi menjadi sahaya. Cinta yang banyak kulihat hanyalah akumulasi ketertundukan perempuan oleh laki-laki. Mereka yang punya penis merasa jumawa hingga tak peduli mengenai perang ide dan konsep setara.

Jonathan Haidt dalam bukunya The Righteous Mind: Why Good People Are Devided by Politics and Religion pun mengafirmasi pendapat itu. Moralitas yang terbentuk sejak kecil dan mengelindan dalam lingkungan sehari-hari membentuk moralitas kaku. Sementara dunia ini sejak dulu dijajah oleh mereka yang mampu ereksi – laki-laki. Perempuan ditundukkan dengan segala macam isme dan kepercayaan. Moralitas dibentuk sedemikian rupa untuk tetap menempatkan perempuan dikasta terendah menjadi manusia.

Saat seorang laki-laki bertemu dengan perempuan, tidak hanya persoalan moral yang mesti dibenturkan, melainkan juga adu argumen dalam sikap mengenai politik dan kepercayaan. Aku tak percaya begitu saja jika ada seorang lelaki menghadapku dan mengaku ia paham denganku dan mau menerima diriku apa adanya yang gemar berpikir jahil dan tak ingin kalah.

Tidak, aku tak ingin diadu dengan kata-kata yang tak bermakna. Buktikan dengan tindakanmu barulah semuanya jelas. Baru aku dapat menilaimu apakah memang pantas ku serahkan cintaku padamu. Sayangnya itu sulit, hingga aku merasa seperti sembelit!

Moral mengarahkan ketidaksadaran baik laki-laki pun perempuan dalam suatu antagonisme hubungan. Ya, antagonisme. Aku dan kamu adalah lawan dan mesti ada yang kalah atau mengalah. Agonisme gagal untuk diperjuangkan dalam dunia yang berputar siang dan malam menunggu mati.

“Belum apa-apa saja dia sudah minta yang macam-macam. Hei, yang suka kan dia, bukan aku. Jika dia ingin mengambil hatiku maka berusahalah. Belum berusaha apa-apa sudah menuntut macam-macam,” runtuknya.

“Tapi aku hanya menganggapnya teman. Tak lebih. Kuterima semua kebaikannya karena dia teman. Entah dia menganggapku apa, itu urusannya. Toh, sampai saat ini aku tak berselera dengannya. Kau tahu orang seperti apa yang ingin kucintai. Aku tak suka pria bodoh dan berpenis kecil.”

Aku mengangguk, setuju dengannya. “Ya, dan aku tak suka pria bodoh dan sok hebat mendekatiku seolah aku ini rendah,” tambahku.

Ia semakin bersemangat. Setuju dengan apa yang kukatakan.

“Jangan dipikir aku tak tahu lelaki seperti apa saja yang mendekatiku. Kebanyakan dari mereka merasa hebat dan pintar. Padahal, aku lebih banyak tahu ketimbang dia yang terus-menerus berlagak jumawa dengan segala banyak omongnya. Sayang saja, aku masih menghormatinya dengan tidak mengatakan apa-apa yang menurutku. Itu bisa mengkebiri superioritasnya sebagai seorang laki-laki.”

“Mereka laki-laki bodoh,” komentarnya sambil menyeruput minumannya.

“Apakah pernah terlintas dalam pikiranmu bahwa kita sangat sombong menjadi seorang perempuan karena menganggap remeh laki-laki yang tak sepintar kita?” tanyaku.

Hahahahaha... ia tertawa dan hampir tersedak. “Aku juga berpikir hal yang sama. Kita sangat sombong.”

“Kupikir itu wajar saja. Kita adalah orang-orang yang percaya terhadap arti penting pencapaian sebuah mimpi. Mana mau kita dengan cepat menyandarkan diri dengan orang yang tak tepat dan lemah?”

“Ya, kau benar. Itu bukan cinta yang pantas diserahkan.”

“Dan kupikir mungkin hidup memang mesti seperti itu.”

“Maksudmu?” tanya agak heran.

Kubiarkan pikiranku mengelana entah kemana. Rasanya jauh dan begitu menyakitkan. Ada kesadaran yang tiba-tiba merasuk dan mesti kuungkapkan kepadanya. “Kita tak bisa mengharapkan hidup yang paripurna. Tak ada kebahagiaan sepenuhnya. Coba kau bayangkan. Apakah dengan menikah kau siap melepaskan semua mimpi-mimpimu? Iya, jika kau pada akhirnya menemukan lelaki yang menganggapmu setara. Jika tidak? Atau kita telah berjalan terlalu jauh dan tenggelam ke dalam obsesi menuju mimpi-mimpi kita yang sendiri. Kurasa tidak akan ada lelaki yang bisa memahami itu dan mengakui bahwa perempuan yang dicintainya lebih hebat dari dirinya. Hampir mustahil menemukan lelaki macam itu.”

Ia mendengarkanku dengan seksama. Begitu serius dan hanyut ke dalam kata-kata yang kuucapkan disela-sela bibirku yang mendamba perasaan lembut. “Iya, selalu ada yang mesti dikorbankan,” ucapnya dengan sedih.

“Tetapi kupikir juga, setiap pengorbanan ada kebesaran yang menanti kita di depan sana. Kita akan menjadi orang besar meski harus kehilangan cinta yang kita dambakan dan bukan berasal dari lelaki bodoh yang tak tahu bagaimana cara kita berpikir. Dan itu merupakan sebuah prognose...”


Keresahan menjalari seluruh tubuh dan pikiranku. Kesadaran mengenai kebahagiaan yang tak mungkin dicapai jelas membayangiku saat ini. Manusia yang dapat berpikir, sungguh menakjubkan sekaligus menakutkan. Berpikir dan menyelami diri sendiri seolah bermain layaknya Tuhan. Berpikir mengantarkan pada pengetahuan baru yang begitu menakutkan untuk diselami. Ada kebenaran yang tersembunyi dan jarang terkuak dikehidupan sehari-hari.

Waktu berjalan terus. Aku semakin menua dan cemas. Begitu menyedihkan bahwa tidak ada yang adil, tidak ada yang bahagia, tidak ada yang sempurna. Semua hanyalah ruang kosong yang ditinggali oleh banyak imaji untuk menjadi indah. Nyatanya kehidupan tak seindah itu, tak pernah semenyenangkan itu.

Faktisitas, Heidegger! Kau menyadarinya dan aku hampir maklum mengapa kau ikut berkonspirasi dalam rencana bejat Hitler. Kau tak meminta maaf untuk permufakatan jahat kalian pun aku hampir paham. Semua eksis dalam bentuk tindakan. Kau mengambil resiko untuk disalahkan sejarah aku hampir paham. Dan semuanya bagiku menyedihkan. Begitu menyedihkan untuk tidak menjadi oportunistis dalam hidup.

Bagaimana pun aku tak dapat terlelap. Aku merinding menyelami prognose yang kudapat. Sebuah ramalan yang kelihatan sangat nyata dan jelas saat ini. Begitu logis, begitu rasional, begitu absurd!

Kusingkap tirai jendela kamarku. Di luar masih gelap, tetapi ada bulan. Masih ada bulan yang malam ini begitu bulat dan indah. Tidak, bulan tidak pernah indah. Kejelekannya merupakan realita. Entah mengapa, manusia membuatnya terasa indah. Permukaan tak rata dan bopeng-bopeng bulan adalah prognose yang baru diketahui kemudian saat Apollo 11 mengorbit bulan dan manusia pertama menjejakkan kaki disana. Sementara bulan yang indah dan masih terus hadir dalam syair para pujangga merupakan ruang kosong, suatu imaji yang absud!