Senin, 10 November 2014

Menebar Harapan Paska Konflik Maluku



Film : Cahaya Dari Timur; Beta Maluku 
Sutradara : Angga Dwimas Sasongko
Pemain : Chicco Jericho, Jajang C. Noer, Shafira Umm, Ridho "Slank"
Produksi : Visinema Pictures



Masjid Raya di Tulehu baru kali ini tak menyiarkan kumandang azan ke pelosok desa. Begitu pun dengan Gereja di Passo, Maluku yang tak gelar ibadah misa. Tak cuma masjid dan gereja, tapi sekolah hingga warung makan tidak melakukan aktivitas selayaknya. 

Hampir setiap orang Maluku khidmat mendengarkan siaran langsung via telepon pertandingan final Indonesia Cup U-15 di Jakarta. Sebab, laga final U-15 tak disiarkan stasiun televisi. Padahal saat itu tim sepak bola Maluku tengah adu pinalti dengan tim sepak bola DKI Jakarta. 

Bagi warga Maluku, tim sepak bola mereka bisa maju babak final Indonesia Cup U-15 sungguh membanggakan. Suatu kabar baik di tengah ketegangan paska konflik agama antar Islam dan Kristen yang terjadi sekitar tahun 1999. Perjalanan tim muda ini tak serta merta. Ini sebuah kisah mengenai mengatasi perbedaan dan melumat dendam primordial. 

Adalah Sani Tawainella (Chicco Jericho), mantan atlet sepak bola yang gagal masuk uji PSSI Baretti. Sani balik ke desanya di Tulehu dan memilih bekerja sebagai tukang ojek. Di tengah situasi konflik Maluku merebak, ia bertekad menyelematkan anak-anak desanya. Salah satu cara yang ditempuh yakni lewat sepak bola.

Sekian tahun melatih sepak bola anak-anak korban konflik, bukan berarti hidup Sani tanpa masalah. Ia dihadapkan permasalahan keluarga dengan kecintaannya kepada sepak bola. Bagaimana tidak, guna menghidupi dapur keluarganya tak cukup, Sani mesti harus menyisihkan waktu melatih tim kecilnya ini. 

Tersaruk-saruk mengatasi segala persoalan yang ada, akhirnya Sani dan anak-anak didiknya bertemu kesempatan ikut Kejuaraan Nasional U-15. Di tengah sentimen negatif warga Muslim dan Kristen di Maluku yang masih menegang, Sani berdiri di antaranya. Ia mesti memadamkan api dendam di hati beberapa anak didiknya. Sani mulai mengenalkan mereka mengenai arti bersatu, menjadi Maluku. Bukan Tulehu, bukan Passo. Bukan Islam, bukan juga Kristen.

Film Cahaya Dari Timur; Beta Maluku berurai dari kisah nyata. Angga Dwimas Sasongko, sutradara tak sengaja menemukan Sani saat berkeliling Maluku untuk keperluan syuting tahun 2007. Terinspirasi atas apa yang dilakukan Sani, Angga bertekad membuat film tentang dirinya. Selama dua tahun ide cerita ini diedarkan ke beberapa rumah produksi tetapi di tolak. Hingga akhirnya Glenn Fredly dan dibantu sejumlah pihak bersedia menjadi produser bersama dengan Angga.

Ini tampaknya merupakan proyek film idealis Angga dan Glenn. Proses produksi yang memakan waktu cukup lama berbuah manis. Angga cemerlang mengelaborasi visual dan karakter masing-masing tokohnya sebagai kesatuan yang padu. Alam indah bumi Maluku tergambarkan dengan sangat baik. Campur baur dengan kehidupan asli masyarakat Tulehu.

Akting para pemain juga apik dan alamiah. Chicco Jericho yang baru kali pertama main di film layar lebar tampil memukau. Sosok Sani sukses dibawakannya. Para pemeran anak-anak tim sepak bola Maluku ini juga menawan. Mereka adalah orang asli Maluku yang di casting oleh Angga dan diberikan pelatihan akting dari IKJ. 

Kecermelangan mereka dibantu oleh kekuatan naskah yang ditulis secara apik oleh putra Maluku sendiri, Irfan Ramly dan Swastika Nohara. Hampir 90 persen dialog yang dipakai dalam film adalah bahasa Maluku. Sehingga rasa yang terwakili adalah juga rasa menjadi Maluku.

Film berdurasi sekitar 150 menit ini bukan semata film tentang sepak bola. Bukan juga tentang sosok Sani dan keberhasilannya semata. Film ini adalah soal bertatap muka dengan keberbedaan dan mengatasi trauma. Film ini adalah suatu upaya rekonsiliasi paska konflik yang di alami Maluku. Menegaskan kembali bahwa kita semua satu, apapun latar belakangnya. Satu Maluku, satu Indonesia juga.

Jumat, 31 Oktober 2014

Cerita Tentang Padang


Alkisah ada sebuah padang luas di hati seorang Tuan. Sayangnya, padang luas itu gersang dan tandus. Tak ada tetumbuhan rimbun yang menghiasi padang dengan keindahan pun udara segar. Paling sesekali padang itu hanya ditumbuhi rerumputan liar. Padang itu tak membuat bahagia siapa jua yang bertandang untuk mencari keteduhan dan perasaan nyaman.

Suatu hari tanpa diperkirakan semesta sebelumnya, datanglah seorang gadis yang jatuh hati pada si pemilik padang. Diperkenankannya ia masuk dan singgah di padang luas tapi gersang itu. 

Sebab si gadis gemar bermain dan berjingkat-jingkat, ia senang bukan kepalang di padang luas itu. Katanya,"Akan kutanami padang ini dengan bebungaan warna pelangi dan pepohonan agar rimbun dan indah. Tuan yang kesepian ini akan kusemarakkan hidupnya. Aku akan mengajaknya melihat bahagia dari hati. Bahagia rasa sempurna."

Gadis itu pun kemudian mulai menanam benih dan menyirami padang itu dengan perasaan gembira. Benihnya berupa kasih dan sayang, mimpi dan harapan. Segala hal yang kiranya dapat membuat Tuan bahagia dan tak lagi merasa kesepian akan ia upayakan. 

Tapi masuk ke dalam padang berarti juga ia tak bisa keluar lagi. Entah mengapa demikian, mungkin karena si pemilik padang tak mendukung si gadis meraih mimpinya sendiri. Tuan tak pernah menanyakan apapun pada si gadis yang dengan riang gembira menumbuhkan keindahan pada padangnya yang gersang. Tuan juga tak pernah menemaninya menuju mimpi pribadi si gadis. 

Sesekali si gadis rindu juga melanjutkan perjalanan pribadinya meraih mimpi-mimpi yang sudah digelar sebelum bertemu dengan Tuan pemilik padang tandus tersebut. Diam-diam ia berharap akan menjalani mimpi pribadi dan mimpi lain bersama Tuan yang sangat ia sayangi. Sebab, si Tuan juga sering bercerita mengenai mimpinya. Bahkan si gadis masuk dalam rancangan masa depan bersama Tuan. Mereka juga mengikat janji di padang itu untuk selalu membahagiakan satu sama lain.

Seiring waktu pepohonan dan bebungaan mulai tumbuh indah di padang yang sebelumnya kering kerontang. Harum bunga-bunga warna pelangi menghiasi hati Tuan yang kecut dan sepi. Rindangnya pepohonan yang tumbuh membuat teduh hati si Tuan. Si gadis bahagia alang kepalang. Tuan perlahan kenal dengan bahagia rasa sempurna. Bahagia yang tak cuma tersungging dibibir dan terpancar dimata, tapi juga damai dihati. Salah satu mimpinya jadi nyata. 

Diam-diam ia berharap Tuan melakukan hal yang sama kepada dirinya;  membuat ia bahagia juga bersama Tuan. Ia ingin taman hatinya yang sebelumnya indah semakin indah. Sebab, sejak bersama Tuan dan tinggal di padang tandusnya, si gadis menelantarkan taman hatinya sendiri. Buka ia lupa untuk mengurusnya, tetapi ia lebih mementingkan mengurus padang milik Tuan yang ia kasihi. Padang itu masih memerlukan perhatiannya. 

Tapi sungguh, ia rindu kembali ke taman hatinya. Ia pun ingin mengajak Tuan pemilik padang untuk berkunjung ke taman hatinya dan melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan pada padang tandusnya. Tapi Tuan tampaknya tak ada keinginan sungguh-sungguh untuk itu. Saat si gadis berupaya membuat padang tandus yang mulai menjelma taman, Tuan asyik sendiri. Ia sibuk menyibukkan diri melakoni kesukaannya sendiri. Ia lupa membahagiakan si gadis. Ia lupa berusaha untuk membuat si gadis nyaman dan damai dalam hatinya. 

Beberapa kali si gadis merajuk tak kuat lagi mengurus padang hati Tuannya. Ia lupa bahwa ia senang bermain di taman alih- alih sedih dan merasa sendirian. Ia kesal tak diperhatikan, dibiarkan sendiri mewujudkan bahagia mereka. Ia marah dan kecewa karena merasa Tuan si pemilik padang tak sungguh-sungguh ingin mewujudkan mimpi bersama. 

Saat ia mengutarakan semua kekesalannya, Tuan acuh. Ia bilang,"Jika mau bersamaku, seperti inilah aku. Kau bisa pergi jika mau. Karena mengikutiku kau akan menderita."

Betapa egoisnya perkataan Tuan. Atas apa yang selama ini si gadis lakukan untuk pujaan hatinya, mencicip bahagia rasa sempurna dari taman hatinya, ia marah. Apa maksud semua janji dan kata-kata manis bahwa mereka akan berusaha satu sama lain untuk membuat bahagia? Si gadis tak bahagia bersama Tuan yang tak berupaya untuknya. Ia memutuskan untuk kembali kepada taman hatinya yang terlantar sekian lama. Dan Tuan tak memedulikan kepergian si gadis. Dalam keangkuhannya, Tuan pemiliki padang hanya diam.

Si gadis pun kembali menekuri taman hatinya yang sebelumnya terbengkalai. Tapi perasaannya cemas pada perkembangan padang yang tengah menjelma indah itu. Ia pun masih mencemaskan keadaan Tuannya yang akan kembali merasa sepi dan kosong. Tapi hati itu begitu keras.

Ia pun juga tahu dibalik dinginnya sikap Tuan, orang itu merasa sedih dirinya pergi. Sebab bahagia rasa sempurna itu adalah milik mereka. Tak akan ia dapat lagi ramuan bahagia itu tanpa si gadis. Diam-diam si Tuan sombong itu merajuk dan mengeluh. Ia merasa kosong dan padang hatinya terancam tandus kembali.

Tak tega dan masih begitu mengasihi Tuan pemilik padang yang sombong, si gadis kembali kepadanya. Ia rendahkan segala hal dari dirinya agar Tuan setidaknya bisa kembali bahagia dan mau berusaha untuk membuatnya bahagia. 

Berulang kali si gadis memutuskan pergi dan Tuan membiarkannya. Berulang kali si gadis ditanggapi dengan ketus dan dingin oleh Tuan. Berulang kali dalam diam si Tuan merajuk mendamba bahagia rasa sempurna yang entah bagaimana selalu diketahui oleh si gadis. Berulang kali juga si gadis kembali dan memohon agar Tuan mau berusaha untuk mewujudkan janji mereka. Berulang kali Tuan menerimanya kembali. Tapi saat mereka menjalani kembali bersama, semua tetap sama saja.

Hingga suatu hari taman hati si gadis itu ada yang diam-diam mengurusi. Dalam senyap yang begitu mesra, taman hati itu pelan-pelan tumbuh kembali meski pemiliknya tengah mengurusi padang Tuan yang membuat si gadis bahagia sekaligus menderita. Orang itu adalah kawannya karib yang selama ini menjadi tempatnya berkeluh kesah. Sebab kawannya inilah yang selalu mendengarkan setiap murka dan sedihnya. Kawannya inilah yang dalam diam menyalakan pelita dihatinya yang koyak moyak. 

Lalu kemudian siklus itu datang lagi. Di titik kemuakkannya, si gadis tetapkan hati untuk tak lagi kembali kepada Tuan yang padangnya sudah ia suburkan. Meski ia begitu mengasihinya, tapi ketika upaya untuk saling membahagiakan dan ia tak kunjung merasa tenang bersama Tuan si pemilik padang, mungkin pergi adalah jalan yang paling baik. Ia lelah menunggu, ia lelah berusaha sementara mimpi-mimpi dan bahagia sempurna mereka yang ingin dicapai mesti diupayakan bersama, bukan sendiri.

Mungkin Tuan pemilik padang tak akan menyangka kalau kali ini gadisnya pergi selamanya. Ia tetap merasa jumawa dan angkuh. Tak ada kata maaf atau terima kasih yang diucapkan Tuan kepada si gadis atas apa yang pernah ia tumbuhkan dalam hatinya. Tak pernah ada. Meski jauh dalam hati, Tuan yang padangnya mulai kembali gersang dan tandus merajuk juga. 

Dengan segenap perasaan sakit hati dan kecewa si gadis kembali pulang ke taman hatinya yang tengah disemai benih keindahan dan kebahagiaan oleh kawannya yang telah jatuh hati padanya. Hati yang moyak itu justru perlahan dibalut lukanya oleh kawannya. Digenggamnya kuat-kuat tangan si gadis yang cengeng itu begitu kembali ke taman hatinya sendiri. Katanya,"Aku akan mengobati semua sakitmu. Tak akan kubiarkan kau, Semestaku, bersusah hati. Udarkan semua sedih dan kecewamu, Sayang. Sebab aku mencintaimu."


Rabu, 21 Mei 2014

Aurora

Aurora

Oleh : Fitri Kumalasari



"Aku ingin melihat Aurora," katamu suatu kali.

Aku hanya memandangimu tanpa sepatah kata.

"Itu mimpi," tambahmu.


***


Kau kini tak lagi bermimpi. Bahkan tak akan ada lagi suara kerasmu merajuk sesuatu padaku yang kutanggapi dengan senyum pun rasa gemas. Tak akan ada lagi nada memerintah dalam suaramu. Tak akan ada apa-apa. Hanya kealfaan yang tak habis-habis.

Kau menjelma Aurora kini. Entah dimana...


***


"Kau kemana saja? Tak tahu kah aku rindu ingin cerita banyak denganmu? Tapi kau selalu sibuk. Entah apa sibukmu aku juga tak paham," kau lagi-lagi merajuk.

Kau kesal padaku. Bisa apa aku?

Beginilah duniaku. Aku memang kesulitan mengatur waktu. Meski aku senang dengan hidupku sekarang, mimpuku jadi nyata untuk menjadi seorang fotografer. Ada banyak kesempatanku mengembangkan diri. Aku ingin mengabadikan dunia lewat kamera di tangan kananku, sementara kau memegang teguh tangan kiriku walau kau sering ngambek padaku jika aku mengacuhkanmu barang sebentar. Tapi sungguh aku mencintaimu meski tak tahu bagaimana cara membuatmu bahagia.

"Maaf aku terlalu asik sendiri dengan kesukaanku."

Kau tak bergeming. Raut wajahmu masih mengeras. Kau menyimpan kesal dan mungkin dendam padaku. Kau sungguh keras kepala saat begini. Tak hendak mau mendengarkan siapa pun. Menganggap dirimu selalu benar dalam kekeraskepalaanmu. Aku lelah bagaimana menanggapinya. Kau tak mau tahu kondisiku. Padahal kau tahu aku banyak kekurangan tapi sering kau jadikan itu sebagai masalah ketidakpedulianku.


***


"Aku capek. Aku bosan denganmu. Dengan hubungan kita."

Kata-katamu bagai belati yang menghujamku berkali-kali di ulu hati. Hancur hatiku. Sedih bukan kepalang, meski kucoba menyembunyikannya. Toh, kau sering mengatakan ini dan kau selalu berubah pikiran. Kita putus juga pada akhirnya kau selalu mengajakku berbincang kemudian kita kembali pacaran.

"Terus apa yang kau mau?"

"Aku hanya ingin bahagia. Kita sudah berkomitmen akan meraih bahagia bersama. Tapi kau asik sendiri dan lupa padaku. Pada kebutuhanku untuk dibahagiakan olehmu."

Kudengarkan semua keluhanmu yang berulang kali kau katakan saat kita sedang begini.

"Kau tak ada saat aku butuh bersandar. Pikirmu bertukar kabar sebatas telepon atau pesan singkat memuaskanku? Tak ada yang bisa kita perbincangkan di sana. Kau lama membalas. Aku kesal sungguh."

Tak tahukah kau aku sedemikian sibuk? Aku tak sempat membalas pesan atau menghubungimu. Andaikan aku tahu pasti akan kubalas segera. Meski seringnya aku memang lupa membalas semuanya.

"Tapi bersamaku kau justru sering membuka telepon genggam dan mengeceknya. Sementara denganku kau tak bisa demikian."

Kata-katamu seolah menjawab apa yang kupikirkan dalam diam saat menghadapimu. Kalimatmu telak. Aku tak punya jawabannya.


***


Kuhisap dalam-dalam rokokku. Menghembuskan asapnya hingga kuharap menggapai langit-langit kamar kosanku. Pekat kupandangi apa yang sudah kutulis di komputer jinjingku.

Ragaku melemah. Kau dimana kini aku tak tahu. Kau pergi. Jauh sekali. Aku sudah tak mau tahu. Tapi sulit.

"Melihat Aurora," jawabmu saat hendak berpisah dariku. Kau begitu mantap. Kau kembali kokoh dalam kedirianmu memutuskan sesuatu. Kau menemukan keyakinanmu akan suatu hal yang tak kutahu apa itu.

"Aku mencintaimu. Cara kita mencintai satu sama lain berbeda dan tak saling paham," katamu lagi sebelum meninggalkan pintu kamar kosanku terakhir kali.

Aku tak dapat bernapas pun menggerakkan tubuhku untuk menahanmu pergi lagi dari hidupku. Aku diam, membisu saja memandangimu yang diterpa sinar matahari pagi itu.

"Tapi aku lebih mencintai diriku. Tak hendak kukorbankan diriku untuk mencintaimu dalam sakit. Aku tak bisa menunggumu berubah jika itu hanya sebatas kata-kata yang terus menerus di ulang tanpa gubahan perilaku. Sebab aku ingin bahagia. Aku ingin melihat Aurora."

Kau melangkah menuju matari. Sosok terakhirmu abadi ku patri dalam jiwa dan pikiranku.


***


Entah sudah berapa lama kau pergi. Aku tak lagi menghitung bilangan waktu. Rinduku berlarat dan mengerak. Tapi aku tak mau tahu lagi tentang dirimu. Meski senyum rasa bahagia saat bersamamu ikut hilang juga saat kau memilih pergi menuju Aurora. Mungkin aku akan bertemu gadis baru yang kucintai melebihi dirimu dengan sungguh-sungguh. Mungkin juga tidak.

I love you for sentimental reason
I hope you do believe me
I'll give you my heart

Tetiba radio siaran sore memutar lagu Nat King Cole - I Love You For Sentimental Reason. Kau hadir lagi dalam segenggam momen saat kita masih bersama. Lagu ini menjadi pengiring kita saat berdansa di pantai ujung selatan Jawa. Saat itu tengah malam. Kita berdansa di bawah temaram bintang gemintang dan deburan suara ombak. Kau ada dalam dekapanku. Kupeluk kau erat. Ku cium pucuk kepalamu. Rambutmu wangi shampoo, sementara tubuhmu menguarkan aroma ketenangan. Kedua tanganmu memelukku dalam. Kau terpejam dan tersenyum. Sesekali kau berputar dengan lucunya di tengah dansa kita. Kau begitu cantik. Senyummu selalu menjadi favoritku.

Saat-saat seperti itu adalah momen bahagia kita. Segala masalah, perbedaan, apapun menjadi lebur dan tersimpan rapat dalam kotak waktu. Saat berdansa denganmu aku merasa dunia sedang indah-indahnya. Hanya kita berdua, menyulam dunia rasa bahagia.

Aku rindu padamu, Sayang...


***


Terbit fajarku setelah malam kelam
Seumpama jalan panjang
ujung t'lah bersinar

Kau adalah lengang yang
jatuh buatku kelu, lumpuh

Bahagia, katamu bisa dicipta
Tapi fajar tak pernah terbit
Bersamamu semua adalah
mimpi-mimpi pengantar tidur

Sementara aku
ingin memeluk Aurora


Sabtu, 10 Mei 2014

Indonesia





Suatu ketika dikisahkan hidup seorang anak bernama Indonesia. Indonesia memiliki seorang bapak yang begitu di kenal di dunia. Meski demikian, Indonesia tak tahu apa yang menyebabkan bapaknya yang jarang pulang dan memberikan kasih sayang padanya begitu terkenal. Indonesia sendiri bahkan tak begitu mengenal bapaknya kecuali dari cerita para sahaya keluarga mereka di rumah. Saat Indonesia menanyakan seperti apa perangai bapaknya kepada pada ajudannya, mereka hanya menjawab bapak si Indonesia terkenal dan dikagumi banyak orang seluruh dunia.

“Apa memang sebenarnya pekerjaan bapakku?” tanya Indonesia suatu kali kepada ajudan setia bapaknya yang biasa membawa bedil dan senjata lainnya kemana-mana.

“Bapakmu pedagang,” demikian jawab si ajudan singkat dan tanpa emosi apa-apa.

Kali lain Indonesia menanyakan kenapa bapaknya jarang pulang kepada pengasuhnya. Perempuan tua bisu itu hanya menjawab dengan tatapan nanar dan penuh kasih sambil membelai kepala Indonesia. Dengan senyum iba, pengasuhnya menuntun Indonesia menuju kamar dan lekas tidur saja.

Terkadang, diam-diam Indonesia melamun tentang bapaknya. Rupa sang bapak hampir lekang dalam pikirannya. Karena jarang pulang dan tak pernah bertanya tentang anaknya, bapak si Indonesia menjadi sosok yang jauh dan tak lagi dikenal oleh anaknya sendiri. Biarpun tak lagi tahu rupa pun bentuk kasih sayang bapaknya, Indonesia tak begitu sedih. Sebab bapaknya dikenal seluruh dunia. Itu saja membuat Indonesia bangga luar biasa.

***

Pada suatu hari Minggu, Indonesia bosan berada di rumah. Ia merasa kesepian bermain  sendiri di dalam rumahnya yang semegah istana para raja. Tak ada yang dapat ia ajak main. Semua orang di dalam rumah yang terbuat dari material paling mahal dan berharga di dunia sibuk mengerjakan urusan mereka masing-masing. Para petani mengaso di bale rumah. Sebab tak ada lahan yang mesti digarap. Entah apa sebabnya. Para nelayan hanya sibuk merajut jaring tanpa pernah sekalipun pergi melaut lagi. Sementara para anak cucu mereka sibuk belajar dan mendekati para orang dekat bapaknya agar bisa jadi birokrat di perusahaan-perusahaan milik keluarga Indonesia yang jumlahnya tak terperi. Konon, kata banyak orang yang menjadi sahaya di rumah Indonesia, yang paling penting itu bukan jadi petani yang sukses, nelayan yang sukses, guru yang pandai dan tanpa pamrih mendidik anak-anak muridnya, melainkan menjadi ajudan bapak Indonesia yang maha kaya itu. Jika bisa menjilat dan dapat posisi bagus di perusahaan milik bapaknya, para sahaya dianggap naik derajat.

Indonesia yang bodoh tak begitu ambil peduli dengan ritme kehidupan yang terjadi di dalam rumah yang besarnya seperti sebuah negara adidaya. Ia hanya ingin bermain bersama teman-temannya karena bosan berada di dalam rumah. Tak ada yang menemaninya bermain. Bahkan bapaknya sekalipun tak pernah diingatnya pernah menemani Indonesia bermain. Bapaknya belum pulang-pulang juga. Kabar yang di dengar Indonesia hanya bapaknya makin sibuk luar biasa. Entah sibuk apa.

Sesungguhnya Indonesia merasa sedih dan kesal. Ia punya bapak sekaligus tak punya bapak. Ia mau bercerita dan mengeluh sama bapaknya karena tak merasa dicintai sebagai anak. Tapi mau bagaimana? Yang mau di demo dan di keluhkan wujudnya tak pernah ada di depan mata Indonesia. Indonesia yang bodohnya setengah ampun ini hanya bisa diam dan meratap dalam hatinya.

Indonesia pun bergegas bermain ke rumah temannya. Namanya Malaysia. Tetapi saat dihampiri ke rumahnya yang kalah besar dengan rumah Indonesia, Malaysia tak ada di rumah. Kata pengurus rumahnya, Malaysia sedang main di rumah Singapura. Berangkatlah Indonesia menuju rumah Singapura yang besarnya hanya seukuran kamar tidur Indonesia. Tapi ternyata tak juga ada mereka berdua.

Indonesia terus menghampiri rumah teman-temannya satu persatu; India, Cina, Thailand, Australia, Amerika, Jepang, Vietnam, Korea, Inggris, dan lainnya. Tetapi tak satu pun ia temui keberadaan seluruh temannya.  Ia begitu sedih karena teman-temannya pergi bermain tanpa mengajak dirinya.

Saat tengah berjalan kembali ke rumah, di tanah lapang ia lihat seluruh temannya bermain dan tertawa. Indonesia pun tanpa ragu menghampiri mereka dan merajuk ingin ikut bermain bersama. Mereka pun menerima Indonesia masuk permainan mereka. Permainan apa saja khas anak-anak; kejar-kejaran, petak umpat, dan lainnya.

Lelah bermain, mereka semua istirahat di bawah pohon rindang di pinggir lapangan.  Mereka pun saling mengumbar cerita mengenai kebesaran keluarga masing-masing.

Amerika memulai cerita tentang bapaknya yang jagoan. Bapak si Amerika dikenal sebagai penjaga kedamaian dunia. Siapa yang tak turut kemauan bapak si Amerika, maka ia akan di musuhi dalam komunitas arisan bapak-bapak sedunia.  Kata Amerika, saat ini bapaknya sedang memusuhi bapak si Iran. Sebab, bapak si Iran tak mau tunduk dan patuh kepada bapak si Amerika yang jagoan dan serupa preman berjas. Tapi Amerika juga berbisik, alasan bapaknya memusuhi bapak si Iran karena takut kalah pengaruh di RT Timur Tengah. Soalnya cadangan minyak mereka luar biasa. Siapa menguasai RT itu dipastikan jadi orang paling kaya.

“Bapakku sangat membenci bapak si Iran. Sampai-sampai bapakku memfitnah bapak si Iran memiliki senjata pemusnah massal, anti demokrasi, pokoknya segala rupa. Pasukan-pasukan khusus juga tengah dipersiapkan bapakku untuk sedia menyerang rumah Iran begitu ada kesempatan,” Amerika bercerita.

“Bapakmu tak bisa seenaknya begitu. Kasihan kan keluarganya Iran,” Malaysia berkomentar.

“Alah, bapakmu saja setuju dengan bapak si Amerika. Bapakku juga mendukung rencana itu,” Inggris ganti suara menanggapi komentar Malaysia.

“Bapak kalian jahat ya,” kali ini India menanggapi. “Kalau bapakku sekarang usahanya sedang maju. Teknologi kami mulai mendunia. Perusahaan-perusahaan bapakku hampir sejajar levelnya dengan perusahan miliki bapak si Cina ataupun Jepang.”

“Berarti bapakmu orang kaya baru ya?” tanya Vietnam, setengah mencibir.

India tetap menjawab mantap sambil tersenyum,”Begitulah. Dulu kan bawahan bapakku banyak yang mati kelaparan. Sekarang jumlah yang mati tak sebanyak dulu. Meski perampoknya masih juga banyak.”

Indonesia selama ini hanya mendengarkan perbincangan teman-temannya mengenai bapak mereka. Meski Indonesia amat sangat ingin berbagi kebanggaan karena punya bapak yang terkenal juga, tetapi Indonesia tak cukup kenal dengan bapaknya. Ia hanya tahu bapakny sangat sibuk.

Tengah sibuk melamun memikirkan bagaimana sebenarnya sosok bapak kandungnya itu, Mesir bertanya kepada Indonesia,”Kalau bapakmu seperti apa, Indonesia?”

Indonesia gelagapan. Ia bingung harus menjawab apa. Ia tak tahu bapaknya sama sekali. “Bapakku…”

“Bapakmu bagaimana?” Korea menunggu Indonesia melanjutkan jawabannya.

Indonesia menatap satu persatu teman-temannya. Ia tak yakin harus jawab apa. Menggigit bibir, Indonesia melanjutkan perkataannya.”Bapakku yang kutahu punya rumah yang sangat besar, perusahaan yang luar biasa banyak. Bapak juga punya tanah, sawah, laut, gunung beserta isinya yang tak terhingga. Bapakku luar biasa kaya.”

Soal kekayaan bapak si Indonesia memang benar. Sejak dahulu kaya bapak si Indonesia di kenal karena kekayaannya yang melimpah ruah. Punya gunung isi aneka tambang mineral seperti emas, batu bara, nikel, timah, dan lainnya. Punya tanah seluas negara yang jika ditanami apa saja subur tumbuhnya. Punya lautan yang lebih luas dari tanahnya dan berisi kekayaan biota laut yang tak dimiliki bapak siapapun di dunia. Indonesia menahan senyum sendiri meyakini kekayaan bapaknya yang maha dasyat itu.

“Bapakmu kayak kan dulu,” tiba-tiba komentar Amerika membuyarkan kebanggaan sesaat Indonesia mengenai bapaknya yang kaya.

“Sekarang sudah bangkrut. Ya harta, ya moral sudah ludes digadaikan kepada bapakku dan beberapa bapak kalian.”

Indonesia mengernyit, tak percaya apa kata Amerika tentang bapaknya. “Apa iya bapakku bangkrut?”

“Kata bapakku, bapakmu itu koruptor nomor wahid di dunia. Semua harta maruk disabetnya sendiri. selain itu, bapakmu kejam kepada para sahayanya. Mereka diperalat, dibiarkan bodoh, dan hidup miskin. Belum lagi ajudan-ajudan bapakmu yang bisanya menjilat saja. menukar keadilan dengan sejumlah mata uang dan manifestasi kekuasaan lainnya.”

“Aku juga ingat bapakku pernah bilang kalau bapakmu tukang ngutang. Ia punya utang yang sangat banyak dan belum juga dibayar,” imbuh Prancis.

“Bapakmu juga punya utang sama bapakku,” Inggris menimpali lagi.

Berturut-turut teman-teman Indonesia pun mengatakan hal yang sama. Indonesia bingung. ia tak percaya bapaknya seperti yang dikatakan oleh teman-temannya. “Tapi bapakku kan sangat kaya. Kaya sekali,” Indonesia masih coba membela harga dirinya.

“Loh, memangnya kamu nggak tahu? Hampir seluruh tanah dan perusahaan bapakmu sudah pindah tangan ke orang lain. Bahkan bapakku memiliki pulau beserta isinya di tanah bapakmu itu. Perusahaan-perusahaan kami juga banyak di sana mengeruk kekayaan kalian yang diabaikan dan digadaikan kepada kami,” Inggris menjelaskan.

“Iya, bapakku juga merebut pulau Sipadan dan Ligitan dari wilayah bapakmu karena tak pernah di urus. Memang, bapakmu mengajukan masalah ini ke Mahkamah Internasional. Tapi kalah dan dua pulau itu kini menjadi milik keluargaku,” Malaysia menambahkan.

“Jadi  bapakku bukan orang kaya? Bapakku tukang ngutang dan koruptor?” tanya Indonesia lebih kepada dirinya sendiri.

Teman-teman Indonesia pun perlahan menaruh iba kepada Indonesia  yang baru tahu siapa sebenarnya bapaknya selama ini. Memang, bapak teman-temannya yang lain juga punya sisi kelamnya masing-masing. Tetapi mereka masih mau meluangkan waktu bersama dengan anak-anak mereka dan menceritakan apa saja mengenai dunia ini. Mengenai realita yang tak pernah diketahui oleh Indonesia dari bapaknya yang jarang pulang itu. Sementara Indonesia dibesarkan dengan ilusi bapaknya adalah orang kaya dan terkenal tanpa tahu kondisi sebenarnya.

Betapa sedih perasaan Indonesia saat itu. Hatinya terluka mengetahui siapa sebenarnya bapak yang ia banggakan itu. Indonesia pun berlari pulang tanpa mengidahkan lagi teman-temannya yang memanggil Indonesia untuk bermain kembali. Indonesia terus berlari dan ingin cepat sampai rumah, tempat ia dilahirkan dan besar selama ini. Rumah megah yang kosong dan penuh tipu daya. Tak ada kebahagiaan, tak ada mimpi indah mengenai menjadi digdaya dan bermartabat. Tetapi kemudian Indonesia menghentikan larinya dan memilih berjalan saja.

Mendekati rumahnya yang demikian megah, Indonesia berhenti dan menatap lekat kediamannya. Rumah itu memang luar biasa besarnya. Tetapi saat kedua matanya menatap sungguh-sungguh dan seksama bangunan tersebut, Indonesia melihat cat-cat dindingnya mengelupas dimakan susah dan derita. Para sahaya bapaknya hidup kurus dan tinggal belulang. Sorot tatapan mereka kosong dan hampir mati. Jalan mereka tertatih-tatih,kurang gizi dan tak diperhatikan kesehatannya. Sementara para ajudan bapaknya sibuk memamerkan kekayaan mereka yang diperoleh dengan menjilat para orang dekat bapaknya. Indonesia pun menatap dirinya sendiri yang hidup dibiarkan bodoh tanpa pengetahuan dan realitas mengenai kondisi keluarganya.

Indonesia menghela napas sekali kemudian menghembuskannya yakin. Ia memantapkan diri kembali ke dalam rumahnya. Ia tak ingin menjadi seperti bapaknya yang tak tahu entah kemana. Tetapi inilah kesempatannya untuk berbenah diri. Dan itu dimulai dari membersihkan rumahnya sendiri. Meski rumahnya berlumur kerak dan akan sangat sulit dibersihkan, tetapi harus tetap dilakukan. Biar bagaimana pun Indonesia mencintai rumah ini dan segala isinya.

“Biarlah bapakku dan ajudan-ajudannya pergi entah kemana. Aku hanya ingin tinggal nyaman di rumah ini. Aku mencintainya.”







Kamis, 12 September 2013

Lamat-lamat Titik



Soal yang berlarat-larat, semua orang juga punya. Perihal siapa yang mengedepankan emosi, semua orang melakukan. Tak masalah, tak masalah...

Kita berkembang dan belajar dari apa yang telah lewat. Dan sampai disini, aku mengagumi diriku sendiri. Bukan suatu narsisisme yang kemudian datang setelah memutuskan sesuatu yang penting - melibatkan cinta dan rasa disana, semuanya. Melainkan suatu kesadaran baru bahwa bagaimanapun, mekanisme kedirianku emoh ditundukkan untuk menjadi sekedar sahaya. Aku kini bebas dalam rasa yang demikian absurd meski sedih juga. Tapi tak mengapa, tak mengapa... Toh, putus cinta hal biasa yang dialami manusia yang berelasi dengan tambahan bumbu-bumbu asmara.

Sepele? Atau terlalu melodramatis? Ah, terserah saja. Karena semua rasa bahagia, kecewa, kesal, marah, dan lainnya nyata kurasakan pada masa lalu dan masa yang akan datang. Tiba-tiba teringat Heidegger yang kelam itu. Ia berseloroh dalam kajian filsafatnya tentang Ada. Sungguh njelimet! Tetapi betul juga setelah kupikir ulang. Kenangan yang tertinggal di masa lalu menjadi penghalang kita untuk menyadari bahwa sesungguhnya hidup terus mengalir.

Seseorang dikenal dan dikenang dalam ritme waktu karena atribut ke-Ada-annya. Manusia hanya saling mengenal atribut-atribut yang menempel padanya sepanjang hayat. Atribut-atribut itu mencakup kualitas cum kuantitas fisik pun non fisik seperti sifat dan karakter. Dan sayangnya, kita seringkali terjebak dalam pseudo kenangan masa lalu ini. Menghamba diri dalam kondisi sedih sesedih-sedihnya. Tak apa berlaku demikian. Karena memang jika menyangkut hati semua bisa jungkir balik.

Tetapi pahamilah waktu yang terus menggerus kita baik dari segi fisik pun kesempatan. Kita yang hidup hari ini adalah sejuta kesempatan yang menggelar di kaki langit. Apapun bisa dicapai dan lakukan.

Aku lagi-lagi dihadapkan Tuhan dalam satu pelajaran tetap soal hidup. "Jangan sekali-sekali mengabsolutkan penilaianmu terhadap seseorang. Karena manusia mengalir, punya potensi berubah". Siapa kita hari ini belum tentu sama dengan siapa kita kemarin atau masa depan. Semua berkaitan dengan atribut yang sedang lekat dengan kita sekarang.

Dan saya pun turut mengalir. Saya memutuskan untuk berhenti berjalan bersama-sama dalam lorong relasi personal dengannya. Saya tak menemukan alasan selain ketakmungkinan bersamanya membayang dipelupuk mata dan mencekat kerongkongan untuk segera dilepas. Ada yang seketika terbebas dalam kekang relasi yang setelah dipikir ulang tak setara untuk saya.

Dia orang baik. Hahaha, seperti membuat obituari saja. Tak apa, toh mesti ada yang dikubur dari masa yang telah lewat bukan?

Apologia? Eksepsi? Masa bodoh mau menyebutnya apa.


Senin, 01 April 2013

Peluk Mimpi Angin Malam


Beruntunglah kita yang memiliki tempat bernaung dari panasnya matahari di waktu siang. Beruntunglah kita yang memiliki alas empuk untuk merebahkan diri dari lelahnya rutinas yang mengikat. Beruntunglah kita yang masih memiliki mimpi, memupuknya dan perlahan menuai hasil dari apa-apa yang sudah dijejak.

Malam ini aku bertemu muka dengan seorang bocah cantik. Ia bermata bulat besar. Binar kedua matanya menyiratkan keluguan dan tanpa cela. Rambut hitam yang baru tumbuh sebahunya sebagian dikuncir ke atas. Ia bercelana pendek dan berkaos singlet. Tanpa suara Ia memegang kicrikan, hendak meminta derma hingga pukul satu dini hari di perempatan lampu merah menuju bilangan Kalimalang. 

Tak ada raut lelah dalam binar kedua bola mata besarnya. Tak ada penyesalan pun kesedihan yang tampak pada bocah cantik itu. Tatkala tak ada yang memberinya derma, Ia menyingkir ke pinggiran, sibuk bermain sendiri dengan sebuah boneka. 

Beruntunglah kalian yang masih menggenggam kasih sayang. Beruntunglah kalian yang masih bisa makan dan bermain bersama teman dalam tema peperangan pun drama rumah tangga. Beruntunglah kalian yang tak harus menghabiskan malam, berjuang ditengah angin yang berhembus menenteng virus dan kuman. Beruntunglah kalian bukan gadis kecil cantik bermata bulat itu yang kini tengah memeluk tiang lampu merah, berbaring dan menggeliat.

Tak ada yang awas pada si bocah ini yang mungkin merindukan rumah dan orangtua yang entah kemana. Kendaraan bermotor yang mulai sepi, berlomba hendak ingin sampai di rumah dan mencecap mimpi. Ia bukan manusia. Ia tak lagi dianggap manusia saat kita hanya memandangnya indah bagai porselen dan terucap lafadz,"Kasihan dia."

Bocah kecil itu bukan manusia, saat kita juga cuma hanya memberinya sedekah tanpa mau bertanya mengapa Ia sampai berada disini, diperempatan lampu merah yang selalu mengancam bahaya. Bocah kecil itu bukan manusia, bukan lagi manusia sejak Ia menjajakan diri dengan tampang lugu dan kita hanya menoleh sekilas, berlagak paham dengan kondisinya.

Tanpa mimpi seseorang tidak akan menjadi siapa-siapa. Mimpi hadir karena kita mencecap kasih sayang. Kasih sayang memberikan dorongan dan semangat, sebuah elan vital yang menggerakkan semesta. Ia adalah pupuk terbaik yang menyuburkan benih di tanah gersang sekalipun. Ia menumbuhkan apa yang tak mungkin menjadi mungkin. Mimpi menjadi ruhnya. 

Aku terbayang si bocah cantik itu. Bayanganku mengangsa, diterpa angin malam yang ganas, Ia menggeliat tidur memeluk tiang. Bayangkan jika bocah kecil lain seperti dirinya juga ada ditiap penjuru dunia melakukan hal yang sama. Ia aset bangsa tentunya, punya potensi sebagai manusia. Tetapi kita hanya menatapnya seolah Ia bukan siapa-siapa atau apa-apa. 

Mungkin nasibnya hanya ada dua. Ia mati muda diserang angin malam saat pergi memeluk mimpi bermain boneka dengan teman sebaya. Ataukah hidup lama tanpa juga mengenal mimpi dan mengubah sendiri nasibnya. Entah kado seperti apa yang dipersiapkan Tuhan didepan sana untuk si bocah cantik itu. Semoga bukan hanya janji menuju surga yang diberikan oleh-Nya. Karena setiap duka hanya ada saat manusia hidup, begitupun apa yang kita sebut bahagia. Sisanya baik surga dan neraka juga adalah sama-sama mimpi yang termanifestasi jadi imajinasi.

Jumat, 08 Maret 2013

Selamatan Hari Perempuan

www.gozamos.com

Selamatlah wahai perempuan seluruh dunia! Baik betina yang melata hingga yang berjalan tegak. Selamatlah wahai perempuan seluruh dunia! Baik yang berotak udang hingga berotak batu.

Ini cemooh bukan untuk perempuan yang tak meminta derma. Ia bijak sejak kala masih dalam perut bumi.

Selamat bukan doa, melainkan jeda untuk merayakan apa yang dulunya menderita. Apa yang dulunya suatu upaya demi apa yang disebut merdeka. 

8 Maret mereka mengurai kata selamatan. Selolah-olah ada yang hajatan. Entah kendurian siapa? Mungkin yang sedang pegang uang tak terkira. 

Selamatan hari perempuan katamu? Hanya ucapan selamat satu hari itu dan sisanya kami masih dijajah. Seolah semua upaya sirna sudah saat selamatan digelar pada satu hari itu. 

Dan yang mengaku aktivis, lengkap mengusung panji-panji kebebasan, kesetaraan, gender, lalalalalalala, dengan semangat mengangsa menggagahi siapa saja punya kuasa dan menuntut agar hak setiap manusia digelar dan diberi sama rata. Seringkali isi kepala karbitan. Memecah yang satu menjadi dua, tiga, empat, dan lima. Mencari kesahihan partikular yang mendukung tesis sembrononya.

Selamatan hari perempuan katamu? 

Aku perempuan. Dan terbalut sejarah. Aku membaur dengan pria dalam dimensi patriarki. Bukan mauku, bukan pula aku tak punya kuasa. Tapi tak berarti aku berdiri dikeduanya. Aku tetap bebas dengan segala kesadaranku sebagai manusia. Meski aku punya vagina - bukan penis - aku tak sepatriotis itu. Aku tak semilitan itu untuk menyatakan apa yang tidak kupunyai dari isi kepala.

Selamatan hari perempuan katamu? Biarlah mereka bersuara. Aku pun juga. Kusampaikan suaraku sendiri. Tidak hanya karena aku perempuan dan manusia, melainkan aku juga terbelit sejarah. 

Tik Tok Tik Tok, sejarah pun memutar kemudinya terus menerus. Biasanya berulang dan tidak lagi istimewa.