Rabu, 21 Mei 2014

Aurora

Aurora

Oleh : Fitri Kumalasari



"Aku ingin melihat Aurora," katamu suatu kali.

Aku hanya memandangimu tanpa sepatah kata.

"Itu mimpi," tambahmu.


***


Kau kini tak lagi bermimpi. Bahkan tak akan ada lagi suara kerasmu merajuk sesuatu padaku yang kutanggapi dengan senyum pun rasa gemas. Tak akan ada lagi nada memerintah dalam suaramu. Tak akan ada apa-apa. Hanya kealfaan yang tak habis-habis.

Kau menjelma Aurora kini. Entah dimana...


***


"Kau kemana saja? Tak tahu kah aku rindu ingin cerita banyak denganmu? Tapi kau selalu sibuk. Entah apa sibukmu aku juga tak paham," kau lagi-lagi merajuk.

Kau kesal padaku. Bisa apa aku?

Beginilah duniaku. Aku memang kesulitan mengatur waktu. Meski aku senang dengan hidupku sekarang, mimpuku jadi nyata untuk menjadi seorang fotografer. Ada banyak kesempatanku mengembangkan diri. Aku ingin mengabadikan dunia lewat kamera di tangan kananku, sementara kau memegang teguh tangan kiriku walau kau sering ngambek padaku jika aku mengacuhkanmu barang sebentar. Tapi sungguh aku mencintaimu meski tak tahu bagaimana cara membuatmu bahagia.

"Maaf aku terlalu asik sendiri dengan kesukaanku."

Kau tak bergeming. Raut wajahmu masih mengeras. Kau menyimpan kesal dan mungkin dendam padaku. Kau sungguh keras kepala saat begini. Tak hendak mau mendengarkan siapa pun. Menganggap dirimu selalu benar dalam kekeraskepalaanmu. Aku lelah bagaimana menanggapinya. Kau tak mau tahu kondisiku. Padahal kau tahu aku banyak kekurangan tapi sering kau jadikan itu sebagai masalah ketidakpedulianku.


***


"Aku capek. Aku bosan denganmu. Dengan hubungan kita."

Kata-katamu bagai belati yang menghujamku berkali-kali di ulu hati. Hancur hatiku. Sedih bukan kepalang, meski kucoba menyembunyikannya. Toh, kau sering mengatakan ini dan kau selalu berubah pikiran. Kita putus juga pada akhirnya kau selalu mengajakku berbincang kemudian kita kembali pacaran.

"Terus apa yang kau mau?"

"Aku hanya ingin bahagia. Kita sudah berkomitmen akan meraih bahagia bersama. Tapi kau asik sendiri dan lupa padaku. Pada kebutuhanku untuk dibahagiakan olehmu."

Kudengarkan semua keluhanmu yang berulang kali kau katakan saat kita sedang begini.

"Kau tak ada saat aku butuh bersandar. Pikirmu bertukar kabar sebatas telepon atau pesan singkat memuaskanku? Tak ada yang bisa kita perbincangkan di sana. Kau lama membalas. Aku kesal sungguh."

Tak tahukah kau aku sedemikian sibuk? Aku tak sempat membalas pesan atau menghubungimu. Andaikan aku tahu pasti akan kubalas segera. Meski seringnya aku memang lupa membalas semuanya.

"Tapi bersamaku kau justru sering membuka telepon genggam dan mengeceknya. Sementara denganku kau tak bisa demikian."

Kata-katamu seolah menjawab apa yang kupikirkan dalam diam saat menghadapimu. Kalimatmu telak. Aku tak punya jawabannya.


***


Kuhisap dalam-dalam rokokku. Menghembuskan asapnya hingga kuharap menggapai langit-langit kamar kosanku. Pekat kupandangi apa yang sudah kutulis di komputer jinjingku.

Ragaku melemah. Kau dimana kini aku tak tahu. Kau pergi. Jauh sekali. Aku sudah tak mau tahu. Tapi sulit.

"Melihat Aurora," jawabmu saat hendak berpisah dariku. Kau begitu mantap. Kau kembali kokoh dalam kedirianmu memutuskan sesuatu. Kau menemukan keyakinanmu akan suatu hal yang tak kutahu apa itu.

"Aku mencintaimu. Cara kita mencintai satu sama lain berbeda dan tak saling paham," katamu lagi sebelum meninggalkan pintu kamar kosanku terakhir kali.

Aku tak dapat bernapas pun menggerakkan tubuhku untuk menahanmu pergi lagi dari hidupku. Aku diam, membisu saja memandangimu yang diterpa sinar matahari pagi itu.

"Tapi aku lebih mencintai diriku. Tak hendak kukorbankan diriku untuk mencintaimu dalam sakit. Aku tak bisa menunggumu berubah jika itu hanya sebatas kata-kata yang terus menerus di ulang tanpa gubahan perilaku. Sebab aku ingin bahagia. Aku ingin melihat Aurora."

Kau melangkah menuju matari. Sosok terakhirmu abadi ku patri dalam jiwa dan pikiranku.


***


Entah sudah berapa lama kau pergi. Aku tak lagi menghitung bilangan waktu. Rinduku berlarat dan mengerak. Tapi aku tak mau tahu lagi tentang dirimu. Meski senyum rasa bahagia saat bersamamu ikut hilang juga saat kau memilih pergi menuju Aurora. Mungkin aku akan bertemu gadis baru yang kucintai melebihi dirimu dengan sungguh-sungguh. Mungkin juga tidak.

I love you for sentimental reason
I hope you do believe me
I'll give you my heart

Tetiba radio siaran sore memutar lagu Nat King Cole - I Love You For Sentimental Reason. Kau hadir lagi dalam segenggam momen saat kita masih bersama. Lagu ini menjadi pengiring kita saat berdansa di pantai ujung selatan Jawa. Saat itu tengah malam. Kita berdansa di bawah temaram bintang gemintang dan deburan suara ombak. Kau ada dalam dekapanku. Kupeluk kau erat. Ku cium pucuk kepalamu. Rambutmu wangi shampoo, sementara tubuhmu menguarkan aroma ketenangan. Kedua tanganmu memelukku dalam. Kau terpejam dan tersenyum. Sesekali kau berputar dengan lucunya di tengah dansa kita. Kau begitu cantik. Senyummu selalu menjadi favoritku.

Saat-saat seperti itu adalah momen bahagia kita. Segala masalah, perbedaan, apapun menjadi lebur dan tersimpan rapat dalam kotak waktu. Saat berdansa denganmu aku merasa dunia sedang indah-indahnya. Hanya kita berdua, menyulam dunia rasa bahagia.

Aku rindu padamu, Sayang...


***


Terbit fajarku setelah malam kelam
Seumpama jalan panjang
ujung t'lah bersinar

Kau adalah lengang yang
jatuh buatku kelu, lumpuh

Bahagia, katamu bisa dicipta
Tapi fajar tak pernah terbit
Bersamamu semua adalah
mimpi-mimpi pengantar tidur

Sementara aku
ingin memeluk Aurora


Sabtu, 10 Mei 2014

Indonesia





Suatu ketika dikisahkan hidup seorang anak bernama Indonesia. Indonesia memiliki seorang bapak yang begitu di kenal di dunia. Meski demikian, Indonesia tak tahu apa yang menyebabkan bapaknya yang jarang pulang dan memberikan kasih sayang padanya begitu terkenal. Indonesia sendiri bahkan tak begitu mengenal bapaknya kecuali dari cerita para sahaya keluarga mereka di rumah. Saat Indonesia menanyakan seperti apa perangai bapaknya kepada pada ajudannya, mereka hanya menjawab bapak si Indonesia terkenal dan dikagumi banyak orang seluruh dunia.

“Apa memang sebenarnya pekerjaan bapakku?” tanya Indonesia suatu kali kepada ajudan setia bapaknya yang biasa membawa bedil dan senjata lainnya kemana-mana.

“Bapakmu pedagang,” demikian jawab si ajudan singkat dan tanpa emosi apa-apa.

Kali lain Indonesia menanyakan kenapa bapaknya jarang pulang kepada pengasuhnya. Perempuan tua bisu itu hanya menjawab dengan tatapan nanar dan penuh kasih sambil membelai kepala Indonesia. Dengan senyum iba, pengasuhnya menuntun Indonesia menuju kamar dan lekas tidur saja.

Terkadang, diam-diam Indonesia melamun tentang bapaknya. Rupa sang bapak hampir lekang dalam pikirannya. Karena jarang pulang dan tak pernah bertanya tentang anaknya, bapak si Indonesia menjadi sosok yang jauh dan tak lagi dikenal oleh anaknya sendiri. Biarpun tak lagi tahu rupa pun bentuk kasih sayang bapaknya, Indonesia tak begitu sedih. Sebab bapaknya dikenal seluruh dunia. Itu saja membuat Indonesia bangga luar biasa.

***

Pada suatu hari Minggu, Indonesia bosan berada di rumah. Ia merasa kesepian bermain  sendiri di dalam rumahnya yang semegah istana para raja. Tak ada yang dapat ia ajak main. Semua orang di dalam rumah yang terbuat dari material paling mahal dan berharga di dunia sibuk mengerjakan urusan mereka masing-masing. Para petani mengaso di bale rumah. Sebab tak ada lahan yang mesti digarap. Entah apa sebabnya. Para nelayan hanya sibuk merajut jaring tanpa pernah sekalipun pergi melaut lagi. Sementara para anak cucu mereka sibuk belajar dan mendekati para orang dekat bapaknya agar bisa jadi birokrat di perusahaan-perusahaan milik keluarga Indonesia yang jumlahnya tak terperi. Konon, kata banyak orang yang menjadi sahaya di rumah Indonesia, yang paling penting itu bukan jadi petani yang sukses, nelayan yang sukses, guru yang pandai dan tanpa pamrih mendidik anak-anak muridnya, melainkan menjadi ajudan bapak Indonesia yang maha kaya itu. Jika bisa menjilat dan dapat posisi bagus di perusahaan milik bapaknya, para sahaya dianggap naik derajat.

Indonesia yang bodoh tak begitu ambil peduli dengan ritme kehidupan yang terjadi di dalam rumah yang besarnya seperti sebuah negara adidaya. Ia hanya ingin bermain bersama teman-temannya karena bosan berada di dalam rumah. Tak ada yang menemaninya bermain. Bahkan bapaknya sekalipun tak pernah diingatnya pernah menemani Indonesia bermain. Bapaknya belum pulang-pulang juga. Kabar yang di dengar Indonesia hanya bapaknya makin sibuk luar biasa. Entah sibuk apa.

Sesungguhnya Indonesia merasa sedih dan kesal. Ia punya bapak sekaligus tak punya bapak. Ia mau bercerita dan mengeluh sama bapaknya karena tak merasa dicintai sebagai anak. Tapi mau bagaimana? Yang mau di demo dan di keluhkan wujudnya tak pernah ada di depan mata Indonesia. Indonesia yang bodohnya setengah ampun ini hanya bisa diam dan meratap dalam hatinya.

Indonesia pun bergegas bermain ke rumah temannya. Namanya Malaysia. Tetapi saat dihampiri ke rumahnya yang kalah besar dengan rumah Indonesia, Malaysia tak ada di rumah. Kata pengurus rumahnya, Malaysia sedang main di rumah Singapura. Berangkatlah Indonesia menuju rumah Singapura yang besarnya hanya seukuran kamar tidur Indonesia. Tapi ternyata tak juga ada mereka berdua.

Indonesia terus menghampiri rumah teman-temannya satu persatu; India, Cina, Thailand, Australia, Amerika, Jepang, Vietnam, Korea, Inggris, dan lainnya. Tetapi tak satu pun ia temui keberadaan seluruh temannya.  Ia begitu sedih karena teman-temannya pergi bermain tanpa mengajak dirinya.

Saat tengah berjalan kembali ke rumah, di tanah lapang ia lihat seluruh temannya bermain dan tertawa. Indonesia pun tanpa ragu menghampiri mereka dan merajuk ingin ikut bermain bersama. Mereka pun menerima Indonesia masuk permainan mereka. Permainan apa saja khas anak-anak; kejar-kejaran, petak umpat, dan lainnya.

Lelah bermain, mereka semua istirahat di bawah pohon rindang di pinggir lapangan.  Mereka pun saling mengumbar cerita mengenai kebesaran keluarga masing-masing.

Amerika memulai cerita tentang bapaknya yang jagoan. Bapak si Amerika dikenal sebagai penjaga kedamaian dunia. Siapa yang tak turut kemauan bapak si Amerika, maka ia akan di musuhi dalam komunitas arisan bapak-bapak sedunia.  Kata Amerika, saat ini bapaknya sedang memusuhi bapak si Iran. Sebab, bapak si Iran tak mau tunduk dan patuh kepada bapak si Amerika yang jagoan dan serupa preman berjas. Tapi Amerika juga berbisik, alasan bapaknya memusuhi bapak si Iran karena takut kalah pengaruh di RT Timur Tengah. Soalnya cadangan minyak mereka luar biasa. Siapa menguasai RT itu dipastikan jadi orang paling kaya.

“Bapakku sangat membenci bapak si Iran. Sampai-sampai bapakku memfitnah bapak si Iran memiliki senjata pemusnah massal, anti demokrasi, pokoknya segala rupa. Pasukan-pasukan khusus juga tengah dipersiapkan bapakku untuk sedia menyerang rumah Iran begitu ada kesempatan,” Amerika bercerita.

“Bapakmu tak bisa seenaknya begitu. Kasihan kan keluarganya Iran,” Malaysia berkomentar.

“Alah, bapakmu saja setuju dengan bapak si Amerika. Bapakku juga mendukung rencana itu,” Inggris ganti suara menanggapi komentar Malaysia.

“Bapak kalian jahat ya,” kali ini India menanggapi. “Kalau bapakku sekarang usahanya sedang maju. Teknologi kami mulai mendunia. Perusahaan-perusahaan bapakku hampir sejajar levelnya dengan perusahan miliki bapak si Cina ataupun Jepang.”

“Berarti bapakmu orang kaya baru ya?” tanya Vietnam, setengah mencibir.

India tetap menjawab mantap sambil tersenyum,”Begitulah. Dulu kan bawahan bapakku banyak yang mati kelaparan. Sekarang jumlah yang mati tak sebanyak dulu. Meski perampoknya masih juga banyak.”

Indonesia selama ini hanya mendengarkan perbincangan teman-temannya mengenai bapak mereka. Meski Indonesia amat sangat ingin berbagi kebanggaan karena punya bapak yang terkenal juga, tetapi Indonesia tak cukup kenal dengan bapaknya. Ia hanya tahu bapakny sangat sibuk.

Tengah sibuk melamun memikirkan bagaimana sebenarnya sosok bapak kandungnya itu, Mesir bertanya kepada Indonesia,”Kalau bapakmu seperti apa, Indonesia?”

Indonesia gelagapan. Ia bingung harus menjawab apa. Ia tak tahu bapaknya sama sekali. “Bapakku…”

“Bapakmu bagaimana?” Korea menunggu Indonesia melanjutkan jawabannya.

Indonesia menatap satu persatu teman-temannya. Ia tak yakin harus jawab apa. Menggigit bibir, Indonesia melanjutkan perkataannya.”Bapakku yang kutahu punya rumah yang sangat besar, perusahaan yang luar biasa banyak. Bapak juga punya tanah, sawah, laut, gunung beserta isinya yang tak terhingga. Bapakku luar biasa kaya.”

Soal kekayaan bapak si Indonesia memang benar. Sejak dahulu kaya bapak si Indonesia di kenal karena kekayaannya yang melimpah ruah. Punya gunung isi aneka tambang mineral seperti emas, batu bara, nikel, timah, dan lainnya. Punya tanah seluas negara yang jika ditanami apa saja subur tumbuhnya. Punya lautan yang lebih luas dari tanahnya dan berisi kekayaan biota laut yang tak dimiliki bapak siapapun di dunia. Indonesia menahan senyum sendiri meyakini kekayaan bapaknya yang maha dasyat itu.

“Bapakmu kayak kan dulu,” tiba-tiba komentar Amerika membuyarkan kebanggaan sesaat Indonesia mengenai bapaknya yang kaya.

“Sekarang sudah bangkrut. Ya harta, ya moral sudah ludes digadaikan kepada bapakku dan beberapa bapak kalian.”

Indonesia mengernyit, tak percaya apa kata Amerika tentang bapaknya. “Apa iya bapakku bangkrut?”

“Kata bapakku, bapakmu itu koruptor nomor wahid di dunia. Semua harta maruk disabetnya sendiri. selain itu, bapakmu kejam kepada para sahayanya. Mereka diperalat, dibiarkan bodoh, dan hidup miskin. Belum lagi ajudan-ajudan bapakmu yang bisanya menjilat saja. menukar keadilan dengan sejumlah mata uang dan manifestasi kekuasaan lainnya.”

“Aku juga ingat bapakku pernah bilang kalau bapakmu tukang ngutang. Ia punya utang yang sangat banyak dan belum juga dibayar,” imbuh Prancis.

“Bapakmu juga punya utang sama bapakku,” Inggris menimpali lagi.

Berturut-turut teman-teman Indonesia pun mengatakan hal yang sama. Indonesia bingung. ia tak percaya bapaknya seperti yang dikatakan oleh teman-temannya. “Tapi bapakku kan sangat kaya. Kaya sekali,” Indonesia masih coba membela harga dirinya.

“Loh, memangnya kamu nggak tahu? Hampir seluruh tanah dan perusahaan bapakmu sudah pindah tangan ke orang lain. Bahkan bapakku memiliki pulau beserta isinya di tanah bapakmu itu. Perusahaan-perusahaan kami juga banyak di sana mengeruk kekayaan kalian yang diabaikan dan digadaikan kepada kami,” Inggris menjelaskan.

“Iya, bapakku juga merebut pulau Sipadan dan Ligitan dari wilayah bapakmu karena tak pernah di urus. Memang, bapakmu mengajukan masalah ini ke Mahkamah Internasional. Tapi kalah dan dua pulau itu kini menjadi milik keluargaku,” Malaysia menambahkan.

“Jadi  bapakku bukan orang kaya? Bapakku tukang ngutang dan koruptor?” tanya Indonesia lebih kepada dirinya sendiri.

Teman-teman Indonesia pun perlahan menaruh iba kepada Indonesia  yang baru tahu siapa sebenarnya bapaknya selama ini. Memang, bapak teman-temannya yang lain juga punya sisi kelamnya masing-masing. Tetapi mereka masih mau meluangkan waktu bersama dengan anak-anak mereka dan menceritakan apa saja mengenai dunia ini. Mengenai realita yang tak pernah diketahui oleh Indonesia dari bapaknya yang jarang pulang itu. Sementara Indonesia dibesarkan dengan ilusi bapaknya adalah orang kaya dan terkenal tanpa tahu kondisi sebenarnya.

Betapa sedih perasaan Indonesia saat itu. Hatinya terluka mengetahui siapa sebenarnya bapak yang ia banggakan itu. Indonesia pun berlari pulang tanpa mengidahkan lagi teman-temannya yang memanggil Indonesia untuk bermain kembali. Indonesia terus berlari dan ingin cepat sampai rumah, tempat ia dilahirkan dan besar selama ini. Rumah megah yang kosong dan penuh tipu daya. Tak ada kebahagiaan, tak ada mimpi indah mengenai menjadi digdaya dan bermartabat. Tetapi kemudian Indonesia menghentikan larinya dan memilih berjalan saja.

Mendekati rumahnya yang demikian megah, Indonesia berhenti dan menatap lekat kediamannya. Rumah itu memang luar biasa besarnya. Tetapi saat kedua matanya menatap sungguh-sungguh dan seksama bangunan tersebut, Indonesia melihat cat-cat dindingnya mengelupas dimakan susah dan derita. Para sahaya bapaknya hidup kurus dan tinggal belulang. Sorot tatapan mereka kosong dan hampir mati. Jalan mereka tertatih-tatih,kurang gizi dan tak diperhatikan kesehatannya. Sementara para ajudan bapaknya sibuk memamerkan kekayaan mereka yang diperoleh dengan menjilat para orang dekat bapaknya. Indonesia pun menatap dirinya sendiri yang hidup dibiarkan bodoh tanpa pengetahuan dan realitas mengenai kondisi keluarganya.

Indonesia menghela napas sekali kemudian menghembuskannya yakin. Ia memantapkan diri kembali ke dalam rumahnya. Ia tak ingin menjadi seperti bapaknya yang tak tahu entah kemana. Tetapi inilah kesempatannya untuk berbenah diri. Dan itu dimulai dari membersihkan rumahnya sendiri. Meski rumahnya berlumur kerak dan akan sangat sulit dibersihkan, tetapi harus tetap dilakukan. Biar bagaimana pun Indonesia mencintai rumah ini dan segala isinya.

“Biarlah bapakku dan ajudan-ajudannya pergi entah kemana. Aku hanya ingin tinggal nyaman di rumah ini. Aku mencintainya.”







Kamis, 12 September 2013

Lamat-lamat Titik



Soal yang berlarat-larat, semua orang juga punya. Perihal siapa yang mengedepankan emosi, semua orang melakukan. Tak masalah, tak masalah...

Kita berkembang dan belajar dari apa yang telah lewat. Dan sampai disini, aku mengagumi diriku sendiri. Bukan suatu narsisisme yang kemudian datang setelah memutuskan sesuatu yang penting - melibatkan cinta dan rasa disana, semuanya. Melainkan suatu kesadaran baru bahwa bagaimanapun, mekanisme kedirianku emoh ditundukkan untuk menjadi sekedar sahaya. Aku kini bebas dalam rasa yang demikian absurd meski sedih juga. Tapi tak mengapa, tak mengapa... Toh, putus cinta hal biasa yang dialami manusia yang berelasi dengan tambahan bumbu-bumbu asmara.

Sepele? Atau terlalu melodramatis? Ah, terserah saja. Karena semua rasa bahagia, kecewa, kesal, marah, dan lainnya nyata kurasakan pada masa lalu dan masa yang akan datang. Tiba-tiba teringat Heidegger yang kelam itu. Ia berseloroh dalam kajian filsafatnya tentang Ada. Sungguh njelimet! Tetapi betul juga setelah kupikir ulang. Kenangan yang tertinggal di masa lalu menjadi penghalang kita untuk menyadari bahwa sesungguhnya hidup terus mengalir.

Seseorang dikenal dan dikenang dalam ritme waktu karena atribut ke-Ada-annya. Manusia hanya saling mengenal atribut-atribut yang menempel padanya sepanjang hayat. Atribut-atribut itu mencakup kualitas cum kuantitas fisik pun non fisik seperti sifat dan karakter. Dan sayangnya, kita seringkali terjebak dalam pseudo kenangan masa lalu ini. Menghamba diri dalam kondisi sedih sesedih-sedihnya. Tak apa berlaku demikian. Karena memang jika menyangkut hati semua bisa jungkir balik.

Tetapi pahamilah waktu yang terus menggerus kita baik dari segi fisik pun kesempatan. Kita yang hidup hari ini adalah sejuta kesempatan yang menggelar di kaki langit. Apapun bisa dicapai dan lakukan.

Aku lagi-lagi dihadapkan Tuhan dalam satu pelajaran tetap soal hidup. "Jangan sekali-sekali mengabsolutkan penilaianmu terhadap seseorang. Karena manusia mengalir, punya potensi berubah". Siapa kita hari ini belum tentu sama dengan siapa kita kemarin atau masa depan. Semua berkaitan dengan atribut yang sedang lekat dengan kita sekarang.

Dan saya pun turut mengalir. Saya memutuskan untuk berhenti berjalan bersama-sama dalam lorong relasi personal dengannya. Saya tak menemukan alasan selain ketakmungkinan bersamanya membayang dipelupuk mata dan mencekat kerongkongan untuk segera dilepas. Ada yang seketika terbebas dalam kekang relasi yang setelah dipikir ulang tak setara untuk saya.

Dia orang baik. Hahaha, seperti membuat obituari saja. Tak apa, toh mesti ada yang dikubur dari masa yang telah lewat bukan?

Apologia? Eksepsi? Masa bodoh mau menyebutnya apa.


Senin, 01 April 2013

Peluk Mimpi Angin Malam


Beruntunglah kita yang memiliki tempat bernaung dari panasnya matahari di waktu siang. Beruntunglah kita yang memiliki alas empuk untuk merebahkan diri dari lelahnya rutinas yang mengikat. Beruntunglah kita yang masih memiliki mimpi, memupuknya dan perlahan menuai hasil dari apa-apa yang sudah dijejak.

Malam ini aku bertemu muka dengan seorang bocah cantik. Ia bermata bulat besar. Binar kedua matanya menyiratkan keluguan dan tanpa cela. Rambut hitam yang baru tumbuh sebahunya sebagian dikuncir ke atas. Ia bercelana pendek dan berkaos singlet. Tanpa suara Ia memegang kicrikan, hendak meminta derma hingga pukul satu dini hari di perempatan lampu merah menuju bilangan Kalimalang. 

Tak ada raut lelah dalam binar kedua bola mata besarnya. Tak ada penyesalan pun kesedihan yang tampak pada bocah cantik itu. Tatkala tak ada yang memberinya derma, Ia menyingkir ke pinggiran, sibuk bermain sendiri dengan sebuah boneka. 

Beruntunglah kalian yang masih menggenggam kasih sayang. Beruntunglah kalian yang masih bisa makan dan bermain bersama teman dalam tema peperangan pun drama rumah tangga. Beruntunglah kalian yang tak harus menghabiskan malam, berjuang ditengah angin yang berhembus menenteng virus dan kuman. Beruntunglah kalian bukan gadis kecil cantik bermata bulat itu yang kini tengah memeluk tiang lampu merah, berbaring dan menggeliat.

Tak ada yang awas pada si bocah ini yang mungkin merindukan rumah dan orangtua yang entah kemana. Kendaraan bermotor yang mulai sepi, berlomba hendak ingin sampai di rumah dan mencecap mimpi. Ia bukan manusia. Ia tak lagi dianggap manusia saat kita hanya memandangnya indah bagai porselen dan terucap lafadz,"Kasihan dia."

Bocah kecil itu bukan manusia, saat kita juga cuma hanya memberinya sedekah tanpa mau bertanya mengapa Ia sampai berada disini, diperempatan lampu merah yang selalu mengancam bahaya. Bocah kecil itu bukan manusia, bukan lagi manusia sejak Ia menjajakan diri dengan tampang lugu dan kita hanya menoleh sekilas, berlagak paham dengan kondisinya.

Tanpa mimpi seseorang tidak akan menjadi siapa-siapa. Mimpi hadir karena kita mencecap kasih sayang. Kasih sayang memberikan dorongan dan semangat, sebuah elan vital yang menggerakkan semesta. Ia adalah pupuk terbaik yang menyuburkan benih di tanah gersang sekalipun. Ia menumbuhkan apa yang tak mungkin menjadi mungkin. Mimpi menjadi ruhnya. 

Aku terbayang si bocah cantik itu. Bayanganku mengangsa, diterpa angin malam yang ganas, Ia menggeliat tidur memeluk tiang. Bayangkan jika bocah kecil lain seperti dirinya juga ada ditiap penjuru dunia melakukan hal yang sama. Ia aset bangsa tentunya, punya potensi sebagai manusia. Tetapi kita hanya menatapnya seolah Ia bukan siapa-siapa atau apa-apa. 

Mungkin nasibnya hanya ada dua. Ia mati muda diserang angin malam saat pergi memeluk mimpi bermain boneka dengan teman sebaya. Ataukah hidup lama tanpa juga mengenal mimpi dan mengubah sendiri nasibnya. Entah kado seperti apa yang dipersiapkan Tuhan didepan sana untuk si bocah cantik itu. Semoga bukan hanya janji menuju surga yang diberikan oleh-Nya. Karena setiap duka hanya ada saat manusia hidup, begitupun apa yang kita sebut bahagia. Sisanya baik surga dan neraka juga adalah sama-sama mimpi yang termanifestasi jadi imajinasi.

Jumat, 08 Maret 2013

Selamatan Hari Perempuan

www.gozamos.com

Selamatlah wahai perempuan seluruh dunia! Baik betina yang melata hingga yang berjalan tegak. Selamatlah wahai perempuan seluruh dunia! Baik yang berotak udang hingga berotak batu.

Ini cemooh bukan untuk perempuan yang tak meminta derma. Ia bijak sejak kala masih dalam perut bumi.

Selamat bukan doa, melainkan jeda untuk merayakan apa yang dulunya menderita. Apa yang dulunya suatu upaya demi apa yang disebut merdeka. 

8 Maret mereka mengurai kata selamatan. Selolah-olah ada yang hajatan. Entah kendurian siapa? Mungkin yang sedang pegang uang tak terkira. 

Selamatan hari perempuan katamu? Hanya ucapan selamat satu hari itu dan sisanya kami masih dijajah. Seolah semua upaya sirna sudah saat selamatan digelar pada satu hari itu. 

Dan yang mengaku aktivis, lengkap mengusung panji-panji kebebasan, kesetaraan, gender, lalalalalalala, dengan semangat mengangsa menggagahi siapa saja punya kuasa dan menuntut agar hak setiap manusia digelar dan diberi sama rata. Seringkali isi kepala karbitan. Memecah yang satu menjadi dua, tiga, empat, dan lima. Mencari kesahihan partikular yang mendukung tesis sembrononya.

Selamatan hari perempuan katamu? 

Aku perempuan. Dan terbalut sejarah. Aku membaur dengan pria dalam dimensi patriarki. Bukan mauku, bukan pula aku tak punya kuasa. Tapi tak berarti aku berdiri dikeduanya. Aku tetap bebas dengan segala kesadaranku sebagai manusia. Meski aku punya vagina - bukan penis - aku tak sepatriotis itu. Aku tak semilitan itu untuk menyatakan apa yang tidak kupunyai dari isi kepala.

Selamatan hari perempuan katamu? Biarlah mereka bersuara. Aku pun juga. Kusampaikan suaraku sendiri. Tidak hanya karena aku perempuan dan manusia, melainkan aku juga terbelit sejarah. 

Tik Tok Tik Tok, sejarah pun memutar kemudinya terus menerus. Biasanya berulang dan tidak lagi istimewa.

Jumat, 23 November 2012

Senjakala Keheningan

http://almaer.com/blog/javascript-harmony-the-js-train-is-moving

Mimpiku jelas. Aku ingin mengulang masa lalu. Memutar waktu dan kembali kesana, ke tempat pertama kali aku mengenal cinta yang tulus dan sederhana. Ke suatu masa saat semuanya biasa-biasa saja. Orang-orang yang sederhana, bangunan yang sederhana, kisah yang sederhana dan cinta yang juga sederhana. Dalam memori otakku, semuanya berputar bagai sebuah pita film bisu. Tanpa  warna, tanpa suara dan  telah usang. Namun semuanya berharga bagiku. Semuanya adalah senjakala keheningan yang kian tergerus dan akan kalah oleh waktu yang terus-menerus. Senjakala, dalam keheningan aku meminta agar semua rasa tak turut hilang sampai ajal datang menjemput. Aku cinta padanya…

Aku ingat berjalan dilorong yang sama seperti dulu. Jika dahulu lorong itu terlampau besar dan panjang untuk kulewati, kini tidak lagi. Aku pun sekarang telah mampu melihat tanpa perlu mendongak ke balik tembok lorong bangunan itu. Dibalik tembok masih berdiri sebuah rumah yang hingga kini tetap tak berubah bentuk pun warnanya. Semua masih sama. Dalam setiap langkahku berjalan menyusuri lorong tersebut, aku sendirian. Warna sekelilingku adalah abu-abu dan berkabut. Dentingan suara musik menemaniku menyusuri awal dari keheninganku yang sendiri. Aku berada dalam mimpi. Pasti. Semua kosong, tak ada siapa-siapa.

Saat itu rasanya aneh sekali. Aku sendirian berjalan dengan gaun putih menjuntai dan aku sedih luar biasa. Ada yang tampak lain saat itu. Suara musik tergantikan oleh denting suara piano mengalun. Irama syahdu membuatku terbuai. Saat itu pagi hari dan aku tak menemukan siapa-siapa. Tak ada siapa-siapa. Kususuri terus sekeliling tempat ini. Oh, rasanya ingin terus disini mengulang masa lalu. Saat aku tiap hari berjumpa dengannya dan kita bermain bersama. Aku mencintainya sejak dulu, sejak kesederhanaan dan kepolosan menaungiku. Aku ingat suaranya saat memanggil namaku, mengajakku bermain permainan yang selalu kita mainkan bersama dengan yang lain, permainan anak-anak. Aku ingat tatapan malu-malunya saat memandangku diam-diam, senyumnya tersungging menampakkan deretan gigi kelincinya yang putih bersih. Aku ingat saat ia seringkali menggodaku dan menjahiliku. Semua dilakukannya untuk menarik perhatianku. Aku senang bukan kepalang karena kutahu ia juga mencintaiku. Cinta kita manis seperti permen. Cinta kita sederhana dan tulus, khas anak-anak. Tetapi sungguh aku mencintaimu. Dimana dirimu kini? 

Dalam film bisu hitam-putih yang sedang kujalani kini, dimanakah sosokmu? Atau sosok yang lain yang dapat kutanyai tentangmu kini berada. Aku rindu padamu. 

Sunyi. Tak ada lambaian angin pagi yang menyapa wajah dan kulitku. Tak ada suara kicau burung gereja menemani pagi yang mendung. Tak ada suara anak-anak tertawa sambil menunggu bel berdentang dan pelajaran dimulai dengan doa pagi. Tak ada suara langkah kaki yang tergesa-gesa atau rentetan deru kendaraan bermotor yang biasa terdengar di depan bangunan ini. Kemana orang-orang?

Aku tak takut, justru penasaran. Kususuri terus seluruh bagian yang ada pada bangunan ini. Aku menuju lapangan tempat kami dulu mengadakan apel pagi tiap senin. Aku sering menjadi petugas pengibar bendera. Didepan aku dapat melihatmu yang dengan khidmat menjalankan upacara. Aku tersenyum padamu dan kaupun begitu. Kita bertukar cinta dalam sekejap pandangan mata. Indah sekali. 

Kita jarang mengucap kata cinta, karena kita hanyalah bocah saat itu. Kita hanya dua orang bodoh yang mengagumi satu sama lain. Cinta kita ramai seramai pasar malam yang sering hadir didekat sekolah. Ingatkah kau dulu saat kau melambaikan tangan kearahku dan kau melemparkan ciuman jauh padaku. Aku terkikik melihatmu dengan yang lain karena sesaat kau lemparkan ciumanmu, kau terjatuh dari bangku taman. Kau sungguh lucu. Semua orang menyukaimu, tetapi kuyakin rasa sukaku yang paling besar. Dimanakah kau kini? Ada dimana dirimu dalam mimpiku yang sedang berlangsung kini? Aku yakin ini mimpi tentang kita. Bangunan lama yang sedang kususuri menjadi latar sempurna kisah kita. Kau pasti ada disuatu tempat disini. Aku hanya perlu mencarimu, menemukanmu. Iya, kan?

Dalam kehidupan nyata kutahu kita tak akan pernah bersatu. Semua kisah kita telah berakhir. Buku yang kita tulis bersama telah usai, kisah kita semua telah sampai akhir walau aku tak pernah rela mengakhirinya. Akan kubawa kisah kita hingga kutiada, tak lagi ada di dunia. Seolah aku telah puas menjalani hidup yang begini adanya, setidaknya kenanganku mengenai hidup bahagia telah terpenuhi. Namun, saat ini aku sedang bermimpi dan aku tak ingin mengakhiri mimpiku sebelum menemukanmu. Aku rindu padamu.

Suara denting jam mengagetkanku. Kulihat jam menunjukkan pukul tujuh tepat dan aku melihatmu di atas sana. Kau membelakangiku. Aku akhirnya menemukanmu. Ku hampiri dirimu. Aku berlari tak peduli dengan gaun putih menjuntai yang memperlambat langkahku menuju dirimu. Aku berlari dan sampai dihadapanmu, tetapi kau belum juga menoleh padaku. Dalam balutan jas putih kau terlihat tampan sekali. Baumu harum. Ingin rasanya aku menghambur kearahmu dan memelukmu erat. Aku sungguh merindukanmu, cintaku.

Saat aku perlahan mendekat, kau menoleh kearahku. Ah, Tuhan! Betapa tampan dan sempurnanya ia. Ia sungguh-sungguh yang aku cintai selama ini. Tetapi ada yang aneh dalam tatapannya kini. Ia tersenyum padaku, tetapi kedua matanya begitu resah, begitu gelisah. Ada apa denganmu, sayangku? Aku tak sanggup berkata apa-apa. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirku. Kita hanya bertukar pandang. Ku tahu kau menyimpan sesuatu dan berusaha menjelaskannya padaku. Tetapi apa itu, sayang? Aku tak paham maksud pandanganku. Tatapanmu begitu sedih, kau tampak sangat menderita. Apa yang terjadi denganmu? Tak tahukah kau bahwa kita berada dalam labirin keheningan? Kata-kata tak berlaku disini. Karena kata tak selalu menampakkan dirinya. Kata berwajah ganda sementara cinta kita hanya satu adanya. Aku sungguh tak mengerti apa arti pandanganmu.

Kesedihanmu menjadi kesedihanku juga, sayang. Rasa resahmu dapat kurasakan walau tak tahu apa sebabnya. Aku ingin menggenggam tanganmu dan menenangkanmu. Kulihat kau mulai menangis. Oh Tuhan, tolong bantu aku menenangkan hati sayangku ini. Aku tak ingin melihat ia begitu sedih dan gelisah. Kujulurkan tanganku untuk meraih tangannya, tetapi saat itu tiba-tiba keheningan tergantikan oleh ribut yang bisu. Diujung lorong sana tampak seorang perempuan bergaun pengantin yang diiringi oleh beberapa orang. Perempuan itu begitu bersinar dan barulah kutahu apa arti tatapanmu itu.

Hatiku hancur. Ini tak mungkin terjadi. Kau tak boleh dengannya. Aku mencintaimu dan kutahu kau pun juga demikian. Tatapanmu menyiratkan penyesalan dan ketakberdayaan. Seketika aku lemah. Dalam kebisuaan aku sekarat. Tanpa cinta mana mungkin kudapat terus melanjutkan hidupku. Bagaimana mungkin mimpiku mengkhianatiku sedemikian rupa. Kau seharusnya bersamaku. Seharusnya kita bersama selamanya, bersama di dalam mimpiku. 

Kau berlalu dariku dan menghampiri perempuan itu. Dalam keheningan, tanpa kata pun suara kita sama-sama mengutuk takdir yang tak mengijinkan cinta kita bersatu. Aku tak sanggup melihatmu dengannya. Aku terpaku ditempatku dan tak dapat kemana-mana sementara kau semakin menjauh. 

Tuhan, mengapa kau begitu tega. Dalam mimpi pun kau tetap tak mengijinkan kami bersama. Bagaimana mungkin ini dapat berakhir demikian? Aku ingin berlari menyusulnya dan kutahan ia menuju perempuan itu. Tetapi tak bisa. Kakiku tak mau melangkah. Aku terpaku ditempatku. Tak dapat bergerak. Aku tak berdaya.

Sementara perempuan itu telah siap dengan sebuket bunga ditangannya, sayangnya tak ada mawar disana. Perempuan itu menunggumu yang berjalan gontai menghampirinya. Kembalilah! Kau tak mencintainya. Kau tak dapat bersatu dengannya. Sekuat apapun kucoba berteriak, keheningan masih menjadi temanya. Aku tak sanggup berkata dan kupikir aku telah kehilangan cinta. Aku tak dapat berbuat apa-apa. Dalam keheningan, isak tangisku menjadi latar yang juga tak kunjung bersuara, hanya bisu seperti semua. Aku telah mati tanpa cintaku. Kumohon Tuhan, bangunkan aku dari mimpi mengerikan ini. Aku tak sanggup melihatnya menuju kesana.

Kata seorang pencinta, menemukan cinta merupakan anugerah yang tiada terperi. Ia dapat menjadi sumber kebahagiaan yang tiada habisnya sekaligus menjadi sumber nestapa. Kemanakah cintaku akan bermuara kini? Saat orang yang kau cintai mesti meninggalkanmu untuk bersama dengan orang lain, tentu hatiku hancur. Aku tak rela. Tak akan pernah rela. Bahkan dalam keheningan yang membelenggu, aku tak akan merelakan cintaku pergi begitu saja. Aku mencintainya dan akan selamanya begitu. Cintaku mengejan dalam keheningan. 

Tiba-tiba semua berjalan cepat. Kau lagi-lagi mesti menunggu sementara perempuan itu kini hilang entah kemana. Kau menunggu dalam sesal. Dapat kurasakan dari pancaran gerak tubuhmu. Aku pun masih disini, terduduk tanpa bisa bergerak kemanapun. Air mata terus mengalir dari kedua mataku. Aku rindu padamu. Hanya di dalam mimpilah aku baru mendapatkan kesempatan untuk bertemu dan mencintaimu, tetapi ternyata dalam mimpi pun kau tak ditakdirkan bersamaku.

Sebuah tangan menjulur padaku. Gadis itu tersenyum padaku. Ya, gadis yang akan kau nikahi tanpa cinta menghampiriku yang terisak sedih. Aku dilingkupi kebingungan. Aku tak mengerti, sungguh. Ia meraih tanganku dan menuntun untuk berdiri dan mengikutinya. Ia tuntun aku menuju dirimu yang enggan menoleh kebelakang. Kau takut menatap apa pun bahkan dunia. 

Aku menatap gadis itu yang tak bersuara apa-apa namun ia masih tersenyum seperti sebelumnya. Aku mengikuti ajakannya tanpa tahu harus berbuat apa. Saat aku hampir dekat denganmu, ia menyentuh bahumu untuk berbalik menghadap kami. Kau telihat kaget begitupun aku. Oh, betapa kau sungguh sangat tampan sejak perjumpaan terakhir kita. Namun apa maksud gadis itu mempertemukan aku denganmu jika pada akhirnya ia akan bersanding denganmu juga?

Lonceng berdentang sekali lagi. Kabut tersibak dan alunan nada-nada lembut menjadi latar kondisi kita sekarang. Perempuan bergaun putih yang sama denganku menarik tanganku dan menuntunnya untuk menggenggam tanganku yang tak kusadari begitu kaku. Pandangannya menyiratkan bahwa ia tahu kau memang mencintaiku dan begitu pun sebaliknya. Ia menyerahkanku dan menyuruhku menggantikan tempatnya yang akan bersanding denganmu. Kita saling bertukar pandang sesaat dalam kebingungan. Namun sekejap saja sirna dan kita saling tersenyum. 

Kau menggenggam tanganku erat dan menuntunku menuju suara denting piano mengalun. Tuhan, terima kasih pada akhirnya Kau mengijinkanku bersamanya walau kutahu ini hanya dalam mimpi. Aku mencintainya dengan segenap hatiku. Apakah kita akhirnya mengucapkan janji itu? Aku tak tahu dan tak peduli. Aku hanya tahu kau bersama denganku sekarang dan selamanya. Dan kita berjalan menuju keheningan yang tetap tak bersuara namun tak kunjung ragu. Kali ini kita menuju senjakala. Bersamamu walau dalam keheningan, tak akan apa-apa selama kau bersamaku, disisiku hingga ku membuka kedua mataku dan menyambut kebisingan sang fajar.

Rabu, 07 November 2012

Sabda Kegilaan

http://92bpm.com/2011/11/dva-featuring-viktor-duplaix-video.html

Dunia ini dikendalikan oleh segelintir orang. Segelintir orang ini naasnya kebanyakan orang gila. Ya, orang gila dengan segala idiotisme dan kegeniusannya yang luar biasa. Pikirannya liar dan mendobrak, ia mencapai surga lebih dahulu ketimbang mereka yang berpikir dengan logika kera. Sayangnya, itu hanya dalam realitas pikiran. Dalam dunia nyata? Nasibnya tak kalah cemas dengan apa yang kita sebut sebagai gila.

Kesadaran dan kegilaan rupanya bagai dua mata uang yang saling bersisian. Batas tipisnya hanya dibedakan lewat kinerja otak yang masih awas dan agak peka, sementara sisi yang lain ditandai dengan keterlepasannya dengan dunia yang terjadi disekelilingnya – gila berarti tak sadar lagi!

Siapa bilang dunia ini digerakkan dalam gerak atur beraturan dengan segala komposisi  dan logika yang lurus bin sahih? Tidak sama sekali. Dunia ini bergulir dimana ia mengandung patahan sejarah yang terbit saat hendak memulai dengan tema dan baju  baru seperti gerak ceroboh, tak teratur, dan alinier. Kejutan dalam patahan sejarah laiknya bunga api dari setiap batang kembang api yang dibakar Tuhan yang Maha Jail itu. 

Kejutan ini juga bagai bom yang disemayamkan Tuhan pada beberapa individu yang mengidap kegilaan hingga mampu mengubah jalannya sejarah yang absurd alih-alih terang benderang. Kegeniusan ide dalam tik-tok otak yang tak hentinya bergemuruh terbalut kecemasan akut yang biasanya orang lain hanya ingin tahu dan lihat sekilas. Mereka yang dimukzizati dengan bom oleh Tuhan ini hidup dalam keterasingan akut. Tak ada zona nyaman yang diberikan Tuhan pada mereka pun kesadaran terhadap diri sendiri yang penuh. Logika mereka berjalan sporadis, bahkan luar biasa aneh. Ketubuhan menjadi belenggu yang merusak kesadaran ala kaum kota yang sok konservatif, kesadaran apkiran yang dipunyai masyarakat luas.

Dan karya lahir dari rahim mereka yang gila. Karya merupakan representasi, suatu bentuk pendobrakan terhadap ketubuhan yang tak mampu menampung kegilaan sejak dari semula. Karya merupakan representasi, suatu ide yang menggeliat dalam pikiran bagai cacing tanah yang disengat matahari. Karya adalah penanda dimana sejarah hendak bergulir menggagahi jalur lain. Karya adalah sebuah patahan sejarah yang hendak mengubah logika berpikir massa.

Karya yang lahir dari tiap rahim mereka yang disebut gila, kita seolah terpaku lelah dan sejenak hilang ingatan mengenai siapa yang sebelumnya kita caci dan maki. Kita sama-sama berkumpul dalam padang keheningan Tuhan, ada upacara yang didatangi dan Tuhan bersabda, “Dunia sudah berubah, tak lagi sama. Seperti biasanya.”

Selesailah risalah mengenai Kegilaan ini dilantunkan. Amin…