http://weheartit.com/itsalexlopez
Sulit menjadi wanita. Ah, penggunaan kata yang merujuk pada manusia yang bervagina pun masih kontroversial. Ada sebagian pihak yang menganjurkan pemakaian kata perempuan untuk merujuk pada mereka yang juga diberkahi dengan rahim dimana jutaan bahkan lebih orang hebat lahir daripadanya. Penggunaan kata wanita untuk merujuk pada kami yang punya vagina dan rahim dianggap merendahkan harkat karena makna kata tersebut berarti sebagai jenis kelamin yang sukarela ditata oleh jenis kelamin oposisinya, pria.
Biar
menyenangkan semua pihak, baiklah saya akan menggunakan kata
perempuan untuk seterusnya dalam tulisan ini. Untuk tulisan yang
lain, insyaallah kalau ingat akan dipakai terus. Amin…
Saya bilang
sulit menjadi perempuan. Dalam banyak hal yang melibatkan partisipasi
perempuan di ruang publik, peran perempuan masih dikerdilkan. Untuk
wilayah bahasa saja, perempuan tak punya bahasanya sendiri yang dapat
merepresentasikan diri dan kondisinya. Semua bentukan patriarki.
Lebih menderitanya lagi, saat perempuan berusaha berbicara di ruang
publik, banyak pihak yang masih menyangsikan keabsahan dan tingkat
pengetahuan perempuan. Kalau kata upin&ipin ,”kasihan, kasihan,
kasihan…”
Misalnya
saja dalam forum formal seperti diskusi kelompok kecil saja,
seringkali pendapat perempuan diabaikan. Padahal ia baru saja akan
menyampaikan apa yang menurutnya. Namun pendapatnya main di-cut
begitu saja oleh sebagian orang sembari
melengos pura-pura tuli saat perempuan berbicara. Atau dalam sebuah
relasi kedekatan personal dengan jenis kelamin oposisi, perempuan
juga sering dianggap tak punya bahasa bahkan mungkin tak paham bahasa
yang digunakan pasangannya. Laki-laki seringkali mengklaim diri
mereka paling rasional dengan argumentasi super komprehensif yang
berbasis pada persoalan makro dan berkaitan dengan jumlah massa yang
besar, sementara perempuan yang berbicara lewat pengalamannya
dianggap tak rasional dan perasa. Padahal yang terjadi tidak sekaku
itu. Tidak pernah sekaku itu, saudara-saudari!
Perempuan
yang memiliki keterbatasan bahasa dan pengalaman memang hanya akan
berbicara mengenai apa yang ia alami dan pelajari sehingga menurut
saya, itulah salah satu alasan mengapa biasanya perempuan dianggap
sangat sensitif dan perasa. Namun bukan berarti ia miskin nalar.
Saya
teringat tagline
sebuah iklan produk kecantikan, ”karena perempuan ingin
dimengerti”, rasanya memang benar. Bukan hanya oleh sesamanya,
melainkan juga oleh oposisinya. Kerelaan laki-laki untuk mau memahami
sisi perempuan yang satu ini memang bukan perkara gampang, karena
implementasinya dibutuhkan kesabaran, kerelaan, dan kebesaran hati
bahwa perempuan butuh diberikan tempat, perhatian, serta kesempatan
yang layak.
Saya percaya
dengan apa yang pernah disampaikan Freud, si bapak psikoanalisis
bahwa perempuan memiliki histerianya yang tak disadari. Kepercayaan
ini dapat saya jawab karena keterbatasan kesempatan pada perempuan
dibandingkan dengan jenis kelamin oposisinya, laki-laki. Saat
perempuan mencoba menyuarakan suara hatinya dan tidak diberikan ruang
apalagi didengarkan, maka ia sebagai pihak yang selama ini menjadi
subordinat akan menyimpan segala rasa kecewa, marah, sedih, dan
lainnya secara tak sadar di mana nantinya endapan emosi tersebut
menumpuk menjadi histeria. Sehingga jangan heran jika perempuan lekat
dengan klaim-klaim semacam emosi-an,
makhluk yang tak tenang, tak berpikir, serta sederet julukan lain
yang menyudutkan perempuan.
Hah,
sedihnya menjadi seorang perempuan. Saat ia ingin ada yang
mendengarkan banyak orang tak peduli. Namun saat banyak orang butuh
pelampiasan libidonya, banyak yang mencari perempuan karena hanya
menginginkan tubuhnya terutama vaginanya tanpa pernah mau sedikit
saja belajar mendengarkan apa yang dirasakan perempuan.
Terkutuklah
kalian yang hanya berpikir dengan kelamin saja!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar